Islam hadir sebagai panduan terang bagi umat manusia. Ajaran suci ini menuntun kita keluar dari kegelapan menuju cahaya iman yang hakiki. Tujuan utama kehidupan seorang Muslim sangatlah jelas. Kita wajib mengutamakan ikhtiar mencari ridha Allah dalam setiap langkah beragama. Namun, pusaran tradisi terkadang mengaburkan pemahaman murni ajaran agama ini.
Allah SWT menegaskan prinsip keimanan tersebut dalam firman-Nya:
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (QS al-Baqarah: 257).
Ayat mulia tersebut menyebutkan kata kegelapan (az-zulumat) dalam bentuk jamak. Bentuk jamak ini tentu mengandung ragam makna yang mendalam. Berbagai bentuk kegelapan tersebut meliputi kekafiran, kesyirikan, kebodohan, hingga penyakit hati.
Selain itu, pemahaman spiritual yang keliru juga memicu munculnya tahayul dan khurafat. Aneka pikiran liar manusia sering kali melahirkan perbuatan yang melenceng jauh dari kemurnian tauhid. Sebaliknya, kata cahaya (an-nur) tampil dalam bentuk tunggal. Bentuk ini melambangkan kemurnian ajaran Islam dengan ketauhidan yang lurus hanya kepada-Nya.
Menjaga Akidah Umat dari Bias Tradisi
Banyak orang pada era modern ini masih sering mempraktikkan ritual tanpa landasan dalil yang kuat. Mereka meyakini tradisi turun-temurun tersebut sebagai amal saleh yang mendatangkan pahala. Padahal, beberapa amalan ini kadang hanya bersumber dari riwayat lemah atau keyakinan yang menyimpang. Praktik semacam ini sangat berpotensi merusak akidah umat.
Sebagian masyarakat kadang merasa level spiritualitasnya sudah sangat tinggi. Perasaan bangga ini muncul karena mereka sekadar mengikuti rutinitas lingkungan secara massal. Akibatnya, mereka menjadi sangat resisten terhadap teguran kebenaran. Mereka kerap menolak dengan keras ketika seseorang mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut tidak sejalan dengan sunnah yang sahih.
Oleh karena itu, upaya mengembalikan umat kepada ajaran tauhid murni membutuhkan ketelatenan ekstra. Kita wajib menyampaikan dakwah dengan mengedepankan kebijaksanaan dan empati mendalam. Rasulullah SAW memberikan panduan tegas mengenai batasan amar makruf nahi mungkar:
فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ
Maka barangsiapa yang memerangi (mengingkari) mereka dengan tangannya, maka dia adalah seorang mukmin; barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya, maka dia adalah seorang mukmin; dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka dia adalah seorang mukmin. Dan tidak ada setelah (di luar) itu keimanan meski seberat biji sawi (HR Muslim).
Fokus Mencari Ridha Allah, Bukan Validasi Manusia
Pesan Nabi SAW tersebut memotivasi kita untuk terus peduli terhadap keselamatan sesama. Kita tidak boleh bersikap acuh saat menjumpai kekeliruan beragama di sekitar kita. Lebih jauh lagi, tekad mencari ridha Allah ini akan semakin tangguh bila kita meresapi hadis berikut:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: Barangsiapa yang mencari keridlaan Allah sekalipun memperoleh kebencian manusia, Allah akan mencukupkan dia dari ketergantungan kepada manusia dan barangsiapa yang mencari keridlaan manusia dengan mendatangkan kemurkaan dari Allah, maka Allah akan menjadikannya bergantung kepada manusia (HR Turmuzi: 2338, Ibnu Hibban: 276, 277).
Kedua hadis ini menyajikan pelajaran yang sangat krusial bagi kehidupan spiritual kita. Seseorang perlahan bisa kehilangan cahaya imannya jika ia sengaja mendiamkan benih kesyirikan tumbuh subur. Berbagai bentuk pengkultusan berlebihan sering kali merusak fondasi tauhid di tengah pusaran tradisi masyarakat.
Praktik semacam ini berpotensi besar mencabut akar keimanan dari dalam kalbu manusia. Kita sangat sadar bahwa kita hidup berdampingan di tengah keragaman budaya beragama. Meskipun begitu, kita harus mempertahankan akal sehat agar selalu berada di jalur sunnah yang sahih.
Langkah paling bijak saat menghadapi kelompok yang berbeda pandangan adalah mendoakan kebaikan bagi mereka. Panjatkanlah permohonan yang tulus, “Allahumma ihdi qaumi fainnahum la ya’lamun” (Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui).
Akhirnya, mari kita mantapkan niat untuk selalu mencari ridha Allah tanpa kompromi. Kita harus cerdas menyeleksi dan menjauhi aneka ibadah yang tak bersumber dari dalil kuat. Konsistensi menjaga kemurnian iman akan menyelamatkan perjalanan panjang spiritual kita hingga hari akhir kelak.