Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tanpa Harus Menunggu Kaya: 4 Cara Sederhana Menjadi Manusia yang Bermanfaat Sepanjang Hidup

9 Oktober 2026, 14:31 WIB • 2 menit baca
Drs. H. Nurbini, MSI menyampaikan khutbah Jumat bertema menjadi manusia yang bermanfaat di Masjid Asy-Syifa' Klinik Pratama UNIMUS
Drs. H. Nurbini, MSI, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang, saat bertindak sebagai khatib di Masjid Asy-Syifa' Klinik Pratama UNIMUS.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Menjadi manusia yang bermanfaat bukan sekadar angan-angan kosong. Kunci utama makna hidup dalam islam terletak pada seberapa besar kontribusi nyata kita bagi sesama, tanpa harus menunggu harta melimpah ruah.

Suasana khidmat menyelimuti Masjid Asy-Syifa’ Klinik Pratama UNIMUS pada Jumat, 09 Oktober 2026. Di hadapan jamaah yang memenuhi saf, Drs. H. Nurbini, MSI, selaku Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang, menegaskan pentingnya orientasi hidup yang melampaui batas ritual pribadi.

Standar Kemuliaan Sejati

Banyak orang salah kaprah mengukur kesuksesan dari tumpukan harta atau tingginya jabatan. Padahal, tolak ukur kemuliaan seorang mukmin sangatlah sederhana namun mendalam.

“Ukuran kemuliaan bukanlah kekayaan, jabatan, keturunan, atau popularitas, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama manusia,” ujar Nurbini di hadapan jamaah yang menyimak dengan saksama.

Pernyataan tersebut menampar kesadaran banyak pihak. Kehadiran manusia di bumi membawa misi luhur sebagai sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat. Oleh karena itu, setiap muslim dituntut untuk aktif bergerak, bukan sekadar menjadi penonton pasif di tengah dinamika masyarakat.

Menyalakan Kebaikan Melalui Ilmu dan Harta

Jalan kebaikan terbentang luas dan sangat mudah diakses oleh siapa saja. Setiap individu memiliki potensi unik untuk menebar kebajikan dalam keseharian mereka.

“Ilmu yang diajarkan akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya, sedangkan harta yang disedekahkan kepada fakir miskin dan anak yatim menjadi jembatan kasih sayang,” tutur Nurbini menjelaskan ragam bentuk kontribusi nyata.

Melalui sebuah renungan jumat islami, setiap orang disadarkan bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya raya. Kapasitas sekecil apa pun tetap bernilai besar di hadapan Sang Pencipta.

Kekuatan Tenaga, Waktu, dan Senyuman

Ketika seseorang merasa tidak memiliki harta berlebih atau ilmu yang tinggi, ia tetap memiliki modal berharga berupa waktu dan tenaga. Keduanya bisa digunakan untuk meringankan beban sesama manusia.

“Tidak semua orang memiliki harta yang banyak, tetapi setiap orang selalu memiliki tenaga dan waktu untuk membantu sesama, bahkan senyuman tulus serta keramahan jauh lebih berharga daripada materi,” tegas Nurbini menambahkan esensi akhlak mulia.

Pesan ini merumuskan secara presisi cara menjadi muslim yang bermanfaat. Mulai dari lingkungan terdekat seperti keluarga hingga masyarakat luas, ketulusan bersikap menjadi kunci utama kedamaian sosial.

Warisan Abadi Selepas Raga Tiada

Pada akhirnya, waktu terus berputar dan umur manusia kian bertambah. Pertanyaan terbesarnya adalah apa yang benar-benar tertinggal saat raga telah kembali kepada Sang Pencipta.

“Jangan sampai umur bertambah tetapi manfaat kita bagi umat justru berkurang, sebab yang akan dikenang setelah wafat bukanlah harta, melainkan kebaikan yang ditinggalkan,” pungkas Nurbini menutup pesannya.

Kontributor: Humas Klinik Pratama Unimus
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: