Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 6 menit baca

Pendidikan Islam Era Digital: Cara Baru Menyelamatkan Karakter Anak

Dr. Aang Kunaepi, M.Ag

Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo

Pendidikan Islam Era Digital: Cara Baru Menyelamatkan Karakter Anak
Dr. Aang Kunaepi, M.Ag. — Menyoroti pentingnya transformasi cara belajar dalam pendidikan Islam era digital guna menjawab perubahan psikologis anak zaman now dan menanamkan adab digital.

Anak zaman now hidup dalam dunia yang secara psikologis berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tidak sekadar menggunakan teknologi, tetapi tumbuh di dalam lingkungan digital. Smartphone, YouTube, gim, media sosial, kecerdasan buatan, dan berbagai aplikasi telah menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari.

UNICEF menegaskan bahwa digitalisasi membuka peluang besar bagi anak untuk belajar, berkreasi, dan berkomunikasi, tetapi sekaligus menghadirkan risiko terhadap privasi, paparan konten berbahaya, eksploitasi, dan kesehatan mental. Karena itu, persoalan pendidikan Islam era digital hari ini bukan sekadar bagaimana membuat anak lebih banyak belajar agama, tetapi bagaimana membuat pembelajaran agama mampu menjawab perubahan psikologis anak zaman now yang hidup dalam budaya digital.

Pendidikan yang masih mengandalkan ceramah panjang, hafalan tanpa makna, hukuman, dan komunikasi satu arah berisiko kehilangan daya tarik psikologisnya. Hal ini terjadi bukan karena nilai Islam kehilangan relevansinya, melainkan karena pendidik perlu menyesuaikan cara penyampaian nilai tersebut dengan karakter lingkungan belajar baru.

Salah satu tantangan terbesar adalah perhatian. Anak terbiasa memperoleh rangsangan visual, suara, gerak, notifikasi, dan pergantian informasi yang cepat. Pengembang bahkan merancang platform digital untuk mempertahankan perhatian pengguna. American Psychological Association (APA) mencatat bahwa fitur teknologi pencuri perhatian justru dapat mengalihkan fokus dari tujuan belajar; bahkan durasi penggunaan perangkat tidak otomatis menjamin keberhasilan belajar.

Dalam perspektif psikologi kognitif, perhatian merupakan sumber daya terbatas. Anak yang terbiasa dengan stimulasi cepat dapat mengalami kesulitan ketika menghadapi aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang: membaca Al-Qur’an secara mendalam, memahami tafsir, menghafal, menulis, berdiskusi, atau mendengarkan penjelasan guru.

Maka, guru pendidikan Islam perlu memahami bahwa masalahnya bukan semata-mata “anak malas belajar”. Ketidaksesuaian antara desain pembelajaran dan lingkungan psikologis anak sangat mungkin memicu kondisi tersebut.

Dari “Menyuruh” Menuju “Melibatkan”

Teori Self-Determination dari Edward Deci dan Richard Ryan memberikan perspektif penting. Anak akan memiliki motivasi belajar yang lebih kuat ketika lingkungan memenuhi kebutuhan psikologis mereka terhadap autonomy, competence, dan relatedness. Dengan kata lain motivasi belajar anak akan lebih kuat jika mereka memiliki ruang memilih, merasa mampu, dan merasakan hubungan yang bermakna dengan orang lain.

Prinsip ini sangat relevan dengan pendidikan Islam era digital. Guru dan orang tua jangan hanya memerintah anak, tetapi perlu melibatkan mereka. Misalnya, daripada guru hanya mengatakan, “Kalian harus jujur karena Islam memerintahkan kejujuran,” guru dapat menghadirkan kasus: “Bagaimana jika kamu menemukan dompet di kelas tetapi tidak ada yang melihat? Apa yang akan kamu lakukan? Mengapa?”

Anak kemudian berdiskusi, mempertimbangkan konsekuensi, menghubungkan dengan ayat dan hadis, lalu mengambil kesimpulan. Dengan demikian, pendidikan akhlak tidak berhenti pada transfer norma, tetapi berkembang menjadi latihan pengambilan keputusan moral.

Mengendalikan Teknologi

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah melihat teknologi sebagai musuh pendidikan. Padahal, bukti menunjukkan bahwa penggunaan teknologi secara tepat dapat membantu pembelajaran. UNICEF menemukan bahwa efektivitas pembelajaran digital sangat bergantung pada relevansi alat, kesiapan guru, integrasi pedagogis, evaluasi berbasis bukti, dan dukungan terhadap sekolah.

Oleh karena itu, pendidikan Islam tidak perlu memilih antara “kembali ke masa lalu” atau “menyerah kepada teknologi”. Pilihan yang lebih produktif adalah membangun kemampuan anak untuk menjadi pengendali teknologi.

Anak harus belajar kapan menggunakan smartphone, untuk apa menggunakannya, kapan harus berhenti, bagaimana memverifikasi informasi, dan bagaimana membedakan kebutuhan dengan keinginan. Kita dapat menyebut kemampuan ini sebagai digital self-control.

Dalam perspektif pendidikan karakter, kemampuan berhenti membuka media sosial untuk melaksanakan salat, meninggalkan gim untuk belajar, atau menolak konten yang menyimpang dari nilai agama merupakan latihan nyata self-regulation.

Memasuki Wilayah Pengalaman dan Mengembangkan Adab Digital

Selanjutnya. pendidik tidak cukup melakukan pendidikan karakter hanya melalui ceramah. Aristoteles telah lama menjelaskan bahwa karakter berkaitan dengan kebiasaan. Dalam tradisi Islam pun terdapat penekanan kuat terhadap pembiasaan amal saleh. Karena itu, pembelajaran Islam untuk anak zaman now perlu bergerak dari knowing → feeling → doing → habituating.

Sebagai contoh konkret, anak tidak hanya mengetahui bahwa sedekah itu baik, tetapi melakukan sedekah. Anak tidak hanya mengetahui bahwa berkata kasar itu buruk, tetapi berlatih mengendalikan ucapan. Mereka juga tidak hanya mengetahui bahwa menjaga pandangan adalah ajaran Islam, tetapi belajar mengelola konsumsi konten digital.

Di sinilah pendidikan Islam dapat memanfaatkan teknologi secara kreatif. Misalnya, siswa membuat jurnal digital tentang satu kebiasaan baik selama 30 hari, membuat video pendek tentang pengalaman menjaga kejujuran. Atau menggunakan aplikasi untuk mencatat target membaca Al-Qur’an. Teknologi menjadi alat pembentuk kebiasaan, bukan sekadar alat hiburan.

Era digital juga melahirkan persoalan baru yang berbeda bentuknya dari masa lalu: cyberbullying, penyebaran informasi palsu, kecanduan perhatian, budaya komentar kasar, pencurian identitas, dan paparan konten seksual. UNICEF Indonesia melaporkan bahwa anak di Indonesia menggunakan internet secara sangat luas, sementara kita masih perlu memperkuat pengetahuan mereka tentang keamanan online.

Dalam studi baseline rujukan UNICEF, hanya 37,5% anak yang pernah memperoleh informasi tentang cara aman berinternet. Maka, pendidikan Islam era digital perlu mengembangkan adab digital.

Prinsip tabayyun dalam QS. Al-Hujurat ayat 6, misalnya, sangat relevan dengan era deepfake, hoaks, dan konten buatan AI. Pendidik perlu mengajarkan anak untuk memeriksa sumber dan kebenaran informasi sebelum membagikannya. Demikian pula, kita dapat memperluas prinsip menjaga lisan menjadi menjaga jari ketika mengetik komentar.

Anak juga dapat menerapkan prinsip amanah pada penggunaan data pribadi serta prinsip ihsan dalam cara memperlakukan orang lain di ruang digital. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak hanya membentuk akhlak offline, tetapi juga akhlak online.

Dari “Sumber Jawaban” Menjadi “Pembimbing Makna”

Kehadiran AI semakin memperkuat kebutuhan perubahan peran guru. Anak kini dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik. Karena itu, guru tidak lagi cukup menjadi pusat informasi. Perannya harus bergerak menjadi mentor, fasilitator, pengarah moral, dan pembimbing berpikir kritis.

American Psychological Association (APA) bahkan mencatat bahwa AI dapat meningkatkan performa siswa pada suatu tugas tanpa selalu meningkatkan pembelajaran yang sebenarnya. Tes sesungguhnya adalah apakah siswa mampu memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan setelah mereka menutup perangkat teknologi.

Dalam pendidikan Islam era digital, pertanyaan terpenting bukan hanya “Apa jawaban AI?”, tetapi “Apakah jawaban itu benar, baik, bermanfaat, dan sesuai dengan prinsip moral?” Di sinilah guru memiliki fungsi yang tidak mudah tergantikan oleh mesin: membimbing hati, membangun keteladanan, membaca kondisi psikologis anak, dan menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan.

Maka, cara belajar baru dalam pendidikan Islam setidaknya perlu memiliki tujuh karakter: interaktif, kontekstual, multisensori, berbasis pengalaman, dialogis, memanfaatkan teknologi secara kritis, dan berorientasi pada pembiasaan akhlak.

Anak dapat belajar tentang amanah melalui proyek; belajar kejujuran melalui simulasi; belajar empati melalui role play; belajar tabayyun melalui analisis berita digital; belajar disiplin melalui habit tracker; dan belajar spiritualitas melalui refleksi serta pengalaman ibadah.

Namun, teknologi tetap harus memiliki batas. APA mengingatkan agar kita mengelola penggunaan media sosial supaya tidak mengorbankan tidur dan aktivitas fisik, sementara penelitian psikologi juga menunjukkan pentingnya interaksi sosial langsung dalam perkembangan anak dan remaja.

Pada akhirnya, pendidikan Islam era digital tidak perlu takut terhadap anak zaman now. Kita hanya perlu mengubah cara memahami mereka. Mereka bukan generasi yang kehilangan karakter; lingkungan yang berbedalah yang sedang membentuk mereka.

Tugas pendidikan Islam adalah memastikan bahwa algoritma bukan satu-satunya guru mereka. Sekolah memberikan ilmu. Orang tua memberikan keteladanan. Guru memberikan arah. Agama memberikan nilai. Teknologi memberikan alat.

Selanjutnya, kita harus membimbing anak agar mampu menyatukan semuanya menjadi kehidupan yang beradab. Karena tujuan akhir pendidikan bukan menciptakan anak yang paling cepat memperoleh informasi, tetapi manusia yang mampu menggunakan pengetahuan dengan akal yang kritis, hati yang hidup, pengendalian diri yang kuat, dan akhlak yang luhur.

Di tengah derasnya arus teknologi, inilah sesungguhnya cara pendidikan Islam era digital menyelamatkan karakter era digital generasi masa depan.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: