Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Lebur dalam Persaudaraan Umat, Pesan ‘Nyengkuyung’ Tokoh Muhammadiyah di Hari Santri Nasional

22 Oktober 2026, 16:15 WIB • 3 menit baca
Apel Hari Santri Nasional 2026 di Balai Kota Semarang yang dihadiri jajaran Forkopimda, tokoh Muhammadiyah, dan perwakilan santri.
LEBUR DALAM KHIDMAT: Suasana apel peringatan Hari Santri Nasional di halaman Balai Kota Semarang, Rabu (22/10/2026). Momen ini menjadi potret meneduhkan saat jajaran pemerintah kota, tokoh Muhammadiyah, dan para santri bersatu padu 'nyengkuyung' peringatan nasional tersebut tanpa sekat organisasi.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Perbedaan bendera tak lagi tampak saat pimpinan Muhammadiyah berdiri sejajar dengan ribuan pemuda bersarung. Pemandangan meneduhkan ini merangkum esensi Hari Santri Nasional, sebuah momen leburnya sekat ego untuk merajut persaudaraan umat.

Rabu (22/10/2026) pagi, halaman Balai Kota Semarang menjadi saksi bisu momen rekonsiliasi ini. Para santri mengikuti apel Hari Santri Semarang dengan khidmat di bawah awan yang teduh. Sejumlah unsur Forkopimda, tokoh agama, hingga jajaran DPRD Kota Semarang turut memadati pelataran Balai Kota.

Kehadiran tokoh Muhammadiyah Semarang di perayaan ini kian mempertegas pesan persatuan. Wakil Ketua PWM Jawa Tengah, Prof. Dr. KH. Suparman Syukur, M.Ag., dan Ketua PDM Kota Semarang, Dr. KH. Fachrur Rozi, M.Ag., tampak membaur bersama peserta. Selain itu, hadir pula Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dr. H. KRAT. A.M. Juma’i, S.E., M.M., Ketua PDA Kota Semarang, Aminah Kurniasih, S.Pd., M.Pd., serta jajaran Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Muhammadiyah.

Menyudahi Perdebatan Masa Lalu

Mundur beberapa tahun, sejarah Hari Santri memang sempat memicu diskursus panjang. Penetapan tanggal 22 Oktober kerap mengundang perdebatan tajam terkait akar tradisi. Namun, riak-riak masa lalu itu kini sepenuhnya menguap. Narasi persatuan secara pasti mengambil alih ruang wacana publik.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. KH. Fachrur Rozi, M.Ag., menyadari betul pergeseran bersejarah ini. Dalam wawancara khusus dengan tim muhammadiyahsemarangkota.org sesaat sebelum apel dimulai, ia menatap barisan santri dengan senyum hangat. Ia menilai umat tak perlu lagi memelihara perdebatan identitas.

“Karena Hari Santri sudah menjadi hari nasional, kita sebagai kaum muslimin ikut menghayubagyo (menyambut gembira),” ungkap Fachrur Rozi dengan tenang. “Sebelumnya memang ada perdebatan, tetapi itu sudah selesai. Begitu negara menetapkan, kita harus nyengkuyung bersama-sama.”

Makna Universal Kesantrian

Pilihan kata nyengkuyung dari lisan Fachrur Rozi bukan sekadar retorika manis. Dalam filosofi Jawa, istilah ini melambangkan kerelaan memikul beban secara gotong royong tanpa pamrih. Semangat inilah yang melandasi indahnya momen Muhammadiyah dan NU bersatu di satu pelataran hari itu.

Merespons dinamika zaman, pemahaman tentang makna santri masa kini juga ikut berkembang. Fachrur Rozi secara lugas mendefinisikan ulang identitas tersebut. Ia merubuhkan batas fisik antara tembok pesantren tradisional dan ruang dakwah perkotaan.

“Sebagai bagian dari komunitas santri, warga Muhammadiyah juga santri,” tegasnya memaparkan gagasan. Menurutnya, santri adalah orang-orang yang menggeluti dan sangat dekat dengan nilai-nilai keislaman. Menjadi santri berarti sedia menghidupkan napas Islam dalam setiap tindakan.

Merawat Bangsa Bersama

Keterlibatan aktif pimpinan Muhammadiyah membuktikan bahwa topik Muhammadiyah Hari Santri bukan lagi sebuah paradoks. Keduanya kini tampil memukau sebagai entitas yang saling melengkapi. Dukungan emosional ini juga menebalkan amanat Wali Kota Semarang, Dr. Agustina Wilujeng Prameswari, selaku inspektur apel.

Sang Wali Kota memandang pesantren sebagai kawah candradimuka bagi masa depan bangsa. “Tema Hari Santri tahun ini membawa pesan mendalam bagi masyarakat dalam mempersiapkan masa depan,” tutur Agustina dengan nada penuh harap di hadapan ribuan peserta. “Pondok pesantren memiliki peran penting sebagai tempat lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual.”

Pada akhirnya, peringatan tahun ini meninggalkan jejak emosional yang amat mendalam bagi warga Semarang. Senyum kebersamaan di Balai Kota membuktikan kekuatan umat Islam Indonesia yang saling merangkul. Ketika ego golongan bersedia dilebur demi bangsa, Indonesia Emas benar-benar menjadi fajar yang siap kita jemput bersama.

Kontributor: Imam S Abu Maulana
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: