Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Mengaku Sayang Bumi Tapi Memelihara Serakah

23 Oktober 2026, 18:27 WIB • 2 menit baca
Khatib Ustaz Amiril Edi Pranomo berjas biru Pemuda Muhammadiyah berdiri di mimbar kayu Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang di hadapan ratusan jemaah yang duduk menyimak dari arah belakang.
Suasana khutbah Jumat yang disampaikan oleh Anggota Bidang Dakwah PWPM Jawa Tengah, Ustaz Amiril Edi Pranomo, M.H., di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang pada Jumat (23/10/2026). Berlandaskan Surah Ar-Rum ayat 41, khutbah ini membedah bagaimana bahaya hawa nafsu dan keserakahan manusia dapat memicu kerusakan lingkungan serta krisis moral, sekaligus mengajak jemaah mengintrospeksi diri demi mewujudkan perbaikan bumi yang berlandaskan ketakwaan.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Kerusakan di muka bumi tidak selalu terjadi karena bencana alam atau peristiwa tanpa sengaja. Padahal, tidak sedikit musibah justru lahir dari nafsu liar manusia yang mengejar keserakahan serta mengabaikan moral agama.

Oleh karena itu, pesan mendalam tersebut mengemuka dalam mimbar khutbah Jumat di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang, Jumat (23/10/2026). Anggota Bidang Dakwah Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jawa Tengah, Ustaz Amiril Edi Pranomo, M.H., mengusung tema “Ketika Kerusakan Bukan Lagi Jalan, tetapi Keinginan Manusia”.

Sebab, penceramah mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh hanya sibuk mengeluhkan keadaan. Sebaliknya, setiap individu wajib berani mengintrospeksi diri atas keputusan dan ambisi pribadi yang berisiko merugikan lingkungan sekitar.

“Keinginan yang tidak terkendali oleh iman dan akhlak akan berubah menjadi sumber persoalan. Kerusakan moral seperti dishonesty dan hilangnya kepedulian sosial dapat melemahkan kehidupan bermasyarakat,” tegas Anggota Bidang Dakwah PWPM Jawa Tengah tersebut di hadapan jamaah.

Ancaman Hawa Nafsu dan Peringatan Surah Ar-Rum

Selain itu, ambisi meraih keuntungan materi sering kali mendorong seseorang menghalalkan segala cara. Akibatnya, kepentingan pribadi yang mengangkangi kepentingan bersama memicu ketidakadilan serta merusak hubungan antarmanusia.

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 41 mengenai dampak buruk perbuatan tangan manusia. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan agar umat tidak menjadikan hawa nafsu sebagai kemudi utama dalam menjalani kehidupan harian.

Di sisi lain, keimanan sejati tidak cukup berhenti pada rutinitas ibadah di dalam masjid semata. Keimanan yang jujur harus memancar dalam cara bekerja, memimpin, mengelola kekuasaan, dan merawat lingkungan hidup.

“Perbaikan kehidupan tidak cukup melalui perbaikan sarana fisik. Perbaikan sejati harus bermula dari perbaikan hati, pikiran, niat, dan perilaku manusia itu sendiri,” tutur khatib Jumat tersebut.

Momentum Bercermin Diri dan Menjaga Amanah

Selanjutnya, ibadah Jumat menjadi ruang refleksi spiritual untuk memperbarui kesadaran dan memperbaiki kualitas diri. Umat diajak untuk tidak mudah melemparkan kesalahan kepada pihak lain sebelum membenahi keluarga dan tempat kerja masing-masing.

Sebab, langkah mencegah kerusakan dapat bermula dari hal sederhana seperti berkata jujur, menjaga amanah, dan menghindari fitnah. Dengan demikian, kebiasaan baik yang berjalan konsisten akan membentuk tatanan masyarakat yang jauh lebih adil dan penuh kepedulian.

Pada akhirnya, persoalan terbesar manusia terletak pada keengganan mengendalikan keinginan diri. Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang terus berkomitmen menumbuhkan kesadaran moral agar keimanan jamaah selalu berbuah kemaslahatan nyata.

“Jangan sampai keinginan yang seharusnya menjadi alat meraih kebaikan justru berubah menjadi penyebab kerusakan. Perbaikan bumi harus dimulai dari kesadaran kembali kepada nilai ketakwaan,” pimpin khatib Jumat tersebut menutup khutbahnya.

Kontributor: Halim
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: