Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Bekali Calon Perawat, UNIMUS Bedah Inovasi Penanganan Jantung Koroner Dengan Pakar RS Harapan Kita

24 Oktober 2026, 18:36 WIB • 3 menit baca
Tampilan tangkapan layar antarmuka Zoom Meeting presentasi materi "Update Evidence Based in Coronary Heart Disease" oleh Ns. Sungkono beserta kotak video peserta dan moderator Arief Sofyan.
Suasana perhelatan Kuliah Pakar Keperawatan yang digelar oleh FIKKES UNIMUS secara daring via Zoom Meeting pada Sabtu (24/10/2026). Menghadirkan praktisi senior RSJPD Harapan Kita Jakarta Ns. Sungkono, M.Kep., Sp.Kep.MB. dan moderator Ns. Arief Sofyan Bhaidowy, M.Kep., Sp.Kep.MB., agenda ini bertujuan membekali ratusan calon perawat UNIMUS dengan analisis penanganan penyakit jantung koroner berbasis bukti ilmiah terkini (evidence-based practice).

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Ancaman fatal penyakit jantung koroner masih menjadi tantangan medis terbesar dalam dunia kesehatan modern. Penanganan kasus kritis ini tidak hanya membutuhkan kecanggihan peralatan rumah sakit, tetapi juga menuntut kejelian tenaga perawat dalam mengambil keputusan klinis berbasis bukti penelitian terbaru.

Merespons kebutuhan layanan kesehatan yang kian kompleks tersebut, Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan (FIKKES) Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) menggelar kuliah pakar bertajuk “Update Evidence Based in Coronary Heart Disease”. Agenda edukasi strategis ini berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (24/10/2026).

Pihak kampus menghadirkan Ns. Sungkono, M.Kep., Sp.Kep.MB., praktisi senior dari Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita Jakarta, sebagai narasumber utama. Ratusan mahasiswa dari empat jenjang pendidikan mulai dari D3, S1, S2, hingga Program Spesialis Keperawatan Medikal Bedah—mengikuti forum ini secara interaktif.

Sungkono menekankan bahwa perawat masa kini tidak boleh hanya mengandalkan rutinitas kebiasaan dalam merawat pasien. Peningkatan budaya belajar sepanjang hayat menjadi kunci utama demi menjaga keselamatan jiwa penderita gangguan kardiovaskular.

“Perawat masa depan tidak cukup hanya terampil melakukan tindakan keperawatan. Mereka harus mampu berpikir kritis, memahami perkembangan penelitian, dan menerjemahkan bukti ilmiah menjadi keputusan klinis yang tepat,” ujar Sungkono saat menyampaikan pemaparan materi.

Pangkas Kesenjangan Ruang Kuliah dan Dinamika Pelayanan Klinis

Selanjutnya, moderator kegiatan sekaligus dosen spesialis Keperawatan Medikal Bedah UNIMUS, Ns. Arief Sofyan Bhaidowy, M.Kep., Sp.Kep.MB., memandu jalannya diskusi mendalam. Ia menjembatani teori akademis kampus dengan pengalaman riil di ruang perawatan insentif kardiovaskular.

Arief menjelaskan bahwa kolaborasi bersama praktisi rujukan nasional ini bertujuan memperkecil kesenjangan antara teori ilmiah dan kenyataan di lapangan. Mahasiswa terdorong untuk mampu menganalisis tanda perburukan kondisi pasien secara cepat dan terukur.

Penataan materi kuliah pakar ini menyasar penguatan kompetensi yang berjenjang. Mahasiswa D3 fokus pada keterampilan asuhan keperawatan dasar, mahasiswa S1 memperkuat keputusan klinis, sedangkan mahasiswa S2 dan Spesialis memperdalam analisis kasus-kasus komplikasi berat.

“Melalui kuliah pakar ini, kami ingin menghadirkan pengalaman klinis langsung dari praktisi rumah sakit rujukan nasional ke dalam proses pembelajaran mahasiswa,” ungkap Arief menjelaskan tujuan utama acara.

Cetak Lulusan Keperawatan Modern yang Adaptif dan Berpikir Kritis

Penyakit jantung koroner terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah yang menyuplai oksigen ke otot jantung. Keterlambatan penanganan pada kondisi darurat ini berisiko tinggi memicu serangan jantung hingga kematian mendadak.

Oleh karena itu, tindakan pengkajian hemodinamik dan deteksi dini menjadi benteng utama perawat dalam menyelamatkan nyawa pasien. Penerapan evidence-based nursing memastikan setiap langkah medis memiliki landasan ilmiah yang kuat dan rasional.

Arief berharap lulusan UNIMUS tumbuh menjadi tenaga kesehatan yang berani menelaah hasil riset dan mengkritisi praktik klinis secara konstruktif. Keunggulan lulusan tidak hanya diukur dari penguasaan teori semata, melainkan dari keberhasilan mengintegrasikan ilmu dengan keselamatan pasien.

“Kami ingin lulusan UNIMUS memiliki pola pikir ilmiah, adaptif terhadap perkembangan teknologi kesehatan, dan siap menghadapi tantangan pelayanan keperawatan modern,” pukas Arief optimistis.

Melalui penyelenggaraan kuliah pakar ini, UNIMUS makin mengukuhkan komitmennya dalam mencetak calon perawat profesional. Penguasaan praktik berbasis bukti ini menjadi modal berharga bagi lulusan untuk menjawab tantangan dunia keperawatan masa depan.

Kontributor: Prima Trisna Aji
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: