MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, GAYAMSARI – Pimpinan Ranting Muhammadiyah Siwalan secara rutin mengadakan kajian yang diperuntukkan bagi staf AUM, pengajar dan masyarakat sekitar pada hari Kamis malam bakda maghrib setiap pekannya. Bertempat di PAUD Terpadu Aisyiyah Jl. Plewan III no 81 RT 08 RW 03 Kelurahan Siwalan Kecamatan Gayamsari. Untuk tanggal 13 Januari 2022, kajian tersebut diisi oleh narasumber ustadz Muhammad Rifqi Zainal Arifin, seorang dai muda IMM kota Semarang dan saat ini berstatus mahasiswa aktif semester 3 di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Untuk kajian ini akan menyampaikan tema “Makna Muhasabah”.

Muhasabah atau introspeksi diri adalah salah satu cara evaluasi dan membersihkan diri sendiri dari kesalahan-kesalahan yang mungkin telah diperbuat. Muhasabah adalah memperhatikan dan merenungkan hal-hal baik dan buruk yang telah dilakukan. Termasuk memperhatikan niat dan tujuan suatu perbuatan yang telah dilakukan, serta menghitung untung dan rugi suatu perbuatan.
Makna dari muhasabah sendiri adalah mengevaluasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Introspeksi atau mawas diri dan berusaha untuk memperbaiki sifat dan perilaku. Mengoreksi diri ke arah yang lebih baik. dan memotivasi diri untuk memperbaiki segala hal dalam kehidupan.
“Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT” (HR. ImamTurmudzi)

Makna Habluminallah
Pengertian dari Habluminallah adalah hubungan manusia dengan Allah Sang Pencipta, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi larangannya (=taqwa). Hubungan kita dengan Allah menyangkut aqidah dan ibadah. Sedangkan pengertian dari tafsir sendiri Habluminallah dapat diartikan perjanjian dari Allah untuk masuk Islam atau beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi mereka di dunia dan di akhirat“ (Tafsir At-Thabari, Al-Baghawi, dan tafsir Ibnu Katsir).
Hablum minallah dilaksanakan dengan ubudiyah atau ibadah. Hidup manusia di dunia pada hakikatnya adalah hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Seperti firman Allah didalam surat Az-Zariyat ayat 56 :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Terjemah Arti : Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (Qs. Az-Zariyat (51): 56).
Contoh perilaku habluminallah menurut Imam Ghazali:
•Menunaikan perintah syari’at.
•Rela dengan ketentuan dan takdir serta pembagian rezeki dari Allah SWT.
•Meninggalkan kehendak nafsunya untuk mencari keridhoan Allah SWT.
Makna Habluminannas
Pengertian dari Habluminannas adalah hubungan / interaksi dengan sesama manusia. Kesalehan individu atau ibadahmahdhah. Kesalehan sosial atau ibadah ghairmahdhah. Konsep di mana manusia menjaga hubungan baik dengan manusia lainnya. Hubungan kita dengan sesama manusia dalam berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, dsb.
Hakikat manusia sebagai makhluk sosial, seperti yang tertuang dalam firman Allah surat Al-Hujurat ayat 13 :
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Terjemah Arti : Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.
Serta firman Allah didalam surat An-Nisa ayat 36 :
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
Terjemah Arti : Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.
Contoh perilaku hablum minannas menurut Imam Ghazali:
1.Saling membantu dengan tetangga
2.Memberi makan anak yatim
3.Mengasihi orang miskin
Makna Habluminnafsi
Pengertian dari Habluminnafsi adalah hubungan kita dengan diri sendiri menyangkut makanan, pakaian, akhlak. Menjaga dan memelihara fisik dan mental sesuai syari’at., serta tidak merusak diri dengan perbuatan keji dan munkar.

Pentingnya Muhasabah Diri
Muhasabah dilakukan karena perintah Allah SWT. Setiap orang beriman wajib taqwa kepada Allah SWT dan harus memperhatikan apa yang telah dilakukannya demi akhirat. Sesuai dengan firman Allah didalam surat Al-Hasyr ayat 18
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
Terjemah Arti : Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr :18).
Muhasabah sebagai Qadhaaya Imaniyah, diskursus keimanan. Barometer keimanan diukur dengan intensitas muhasabah dalam kehidupannya. Muhasabah sebagai karakter orang yang bertakwa. Muhasabah adalah kunci sukses kehidupan manusia yang unggul. Para sahabat Nabi; generasi terbaik umat Islam tidak pernah lepas dari muhasabah diri. Tidak mawas diri menyebabkan manusia tergelincir dan terjatuh dalam kelemahan untuk beramal shalih.
Cara untuk muhasabah diri :
1. Berwudu dan dirikanlah sholat.
2. Panjatkan do’a kepada Sang Khalik.
3. Ucapkan kegelisahan Anda.
4. Jujurlah atas kesalahan serta kekhilafan yang pernah Anda lakukan.
5. Mohon kepada Allah SWT untuk dimudahkan dalam memperbaiki diri.
Penulis : Muhammad Rifqi
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara