
MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, GUNUNGPATI – Dalam suasana peringatan Tahun Baru Islam ini, kita harus mampu mengambil kesempatan sebanyak-banyaknya untuk melakukan restart terhadap pemikiran kita untuk menjadi lebih baik, untuk lebih menjadi pribadi yang penuh optimisme, berintegritas, profesionalime, kreatif, inovatif, lebih bertanggung jawab serta menjadi pribadi yang lebih bahagia lahir dan bathin.
Hal ini disampaikan oleh ustadz Muhmammad Nur Hamid ketika menjadi narasumber dalam kajian Ahad pagi PCM Gunungpati 1 yang bertempat di masjid Riyadus Sholikhin, Plalangan, Gunungpati. Dalam tausiahnya, ustadz Nur Hamid menjelaskan tentang apa saja yang harus kita restart selama bulan Muharram ini, antara lain mengenai Hablum Minallah, Hablum Minannas, dan Hablum Minal Alam.
Selain itu, ustadz Nur Hamid juga menjelaskan tentang sifat-sifat apa saja yang dapat kita restart selama bulan Muharram ini, antara lain :
1. Cinta kepada Al-Quran merupakan bukti cinta kepada Allah SWT
Cinta seseorang pada yang dicintai membuat dia ingin selalu bertemu, dekat, rindu, mengetahui dan mengikuti. Demikianlah cinta orang beriman pada Allah dan pada Al-Qur’an. Ustadz Nur Hamid mengutip firman Allah didalam surat Al-Alaq ayat 1 :
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ
Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan
Tanda beriman kepada Allah adalah mencintai Allah. Semakin kuat imannya pada Allah semakin kuat cintanya pada-Nya. Dan di antara tanda cinta pada Allah, cinta pada kalamullah yaitu Al-Quran. Cinta seseorang pada yang dicintai membuat dia ingin selalu bertemu, dekat, rindu, mengetahui dan mengikuti. Demikianlah cinta orang beriman pada Allah dan pada Al-Qur’an.
2. Cinta kepada Rasulullah SAW merupakan bukti cinta kepada Al-Quran
Mencintai Rasulullah SAW merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Semuanya mengakui dan ingin mencintai beliau Rasulullah SAW. Untuk membuktikannya, diperlukan bukti dan tanda, yang dapat dijadikan sebagai standar kebenaran pengakuan cinta. Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam, beliau bersabda, “Penghulu istigfar adalah apabila engkau mengucapkan,
•اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
Artinya: Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau. (HR. Bukhari, no. 6306)
Dalam sifat kita dalam mencintai Rasulullah perlu dibuktikan, seperti halnya yang telah dicontohkan oleh sahabat Rasulullah, antara lain :
1. Abu Bakar As Shidiq ra ( harta dan waktunya untuk Rasulullah SAW )
2. Abdullah bin Jahsyi ra ( Nyawanya untuk Rasulullah SAW )
3. Musáb bin Umair ra ( Menanggalkan status sosial untuk Rasulullah SAW )
4. Ali bin Abu Tholib ra ( Tameng Hidup Rasulullah SAW )
5. Huzaifah Al Yamani ra ( Tidak minum sebelum Rasulullah SAW )
Karena orang yang mencintai sesuatu, tentu akan banyak mengingat dan menyebutnya. Ini menjadi sebab tumbuh dan bersinambungnya kecintaan. Yang dimaksud banyak mengingat dan menyebut beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentunya dalam hal yang disyariatkan. Salah satunya adalah bersholawat kepada Rasulullah SAW. Sesuai dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi :
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Artinya : Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. (HR. Muslim no. 408)
3. Cinta Kepada sunnah-sunnahnya merupakan bukti cinta kepada Rasulullah SAW
Mencontoh, mengikuti Rasulullah SAW, berjalan di atas manhaj beliau, berpegang teguh serta mengikuti seluruh pernyataan dan perbuatan beliau merupakan awal tanda cinta Rasul. Seseorang yang benar mencintai Rasulullah ialah orang yang mengikuti Rasulullah secara lahiriyah dan batiniyah, selalu menyesuaikan perkataan dan perbuatannya dengan Sunnah Rasulullah SAW. Sebagaimana firman Allah SWT :
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا
Artinya : Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 36)
Orang yang mencintai Rasulullah, ia harus membuktikan. Yaitu diwujudkan dengan semangat berpegang teguh dan menghidupkan Sunnah. Yakni mengamalkan sunnahnya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya, mendahulukan itu semua dari hawa nafsunya.
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara