MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG – Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam kurun waktu yang panjang, sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Penampakan umumnya adalah tinggi badan di bawah standar pertumbuhan anak normal seusianya. Stunting terjadi sejak anak masih dalam kandungan, dan akan terlihat setelah umur sekitar dua tahun.
Untuk memantapkan agenda kegiatan gerakan masyarakat peduli stunting, maka Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) kota Semarang dan Lazismu kota Semarang mengadakan kunjungan ke Dinas Kesehatan kota Semarang pada hari Kamis (14/09). Turut hadir dalam kunjungan tersebut ketua PDA kota Semarang, Aminah Kurniasih S.Pd. M.Pd. beserta segenap jajarannya,serta Direktur Lazismu kota Semarang, Abdullah Hasan Pardjojo beserta segenap jajarannya. Kunjungan tersebut diterima langsung oleh kepala dinkes kota Semarang, dr. Mochamad Abdul Hakam, Sp. PD.
Menurut data dari Dinas Kesehatan kota Semarang, stunting tercatat sebanyak 1.465 kasus sepanjang tahun 2022. Kasus tertinggi berada di kecamatan Semarang Utara, sebanyak 236 kasus. Berbagai upaya dilakukan pemerintah dalam menurunkan angka stunting tersebut. Mulai dari pemberian makanan tambahan, pendampingan kepada penderita stunting, bahkan ibu-ibu hamil juga menjadi sasaran pencegahan kasus tersebut. Belakangan di kembangkan sarana penitipan anak stunting, dikenal dengan istilah daycare. Dimana anak diperhatikan penuh asupan gizinya, sarana bermain, dokter anak bahkan psikolog juga di terjunkan untuk mengusir stunting lebih cepat.
Ribuan anak-anak kita terancam. Tidak hanya pertumbuhan fisiknya, tapi juga perkembangan otak yang akan memengaruhi kemampuan dan prestasinya. Anak stunting memiliki riwayat kesehatan yang buruk, daya tahan tubuh yang buruk. Kulitas sumber daya manusia masa depan kita pun ikut terancam. Perlu di waspadai bahwa stunting akan menurun ke generasi berikutnya bila tidak di tangani dengan benar.
Aisyiyah bersama Lazismu Kota Semarang mendukung penuh terhadap program penanganan stunting tersebut. 1.880 penerima manfaat di targetkan dalam program peduli stunting dalam satu tahun. Kesempatan sinergi masih terbuka, untuk individu maupun institusi yang membidangi kesehatan, pendidikan anak, psikologi dan yang terkait lainnya.
Kontributor : Abdullah Hasan Pardjojo
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara