Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 5 menit baca

Catatan Peserta Pesantren Lansia di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Wates

Gunoto Saparie

Kolumnis Senior, Sastrawan

Catatan Peserta Pesantren Lansia di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Wates

Malam itu di Wates, Ngaliyan, Semarang. Tiga puluh lansia menyingsingkan niat, bukan sekadar untuk “nongkrong” di masjid, tapi untuk menuntut ilmu agama. Al-Qur’an, kitab Al-Hikam, tahsin, kelansiaan, dan i’tikaf menjadi denyut spiritual dalam geliat detik-detik tulus di ujung usia.

Dalam sambutannya, Ketua Takmir Masjid At-Taqwa, Prof. Dr. Ahwan Fanani, M.Ag., berharap kegiatan ini menjadi wasilah keberkahan, mempererat ukhuwah, serta memperkuat semangat ibadah dan mencari ilmu hingga akhir hayat.

Doa dan dzikir dipimpin Ustadz Nurbini terasa tak ingin berhenti di ruang masjid itu. Ia terus hidup, mendorong langkah para santri lansia sejak menjelang magrib hingga pengajian Ahad pagi seusai senam. Kegiatan harian mereka bukan sekadar rutinitas; tetapi cara tubuh yang menua, pikiran yang meredup, dan jiwa yang tetap menyala memantulkan iman.

Dalam i’tikaf dan tahajud, rasa syukur dan harapan melandasi kekhusyukan. Kajian kitab Al-Hikam oleh Prof. Ahwan membentang seperti samudera perenungan. Senam ringan dengan instruktur professional melembutkan persendian, pemeriksaan kesehatan merawat tubuh, dan kehangatan sapa menyuburkan ukhuwah.

Para lansia membawa ragam kondisi: diabetes, hipertensi, gangguan jantung. Maka, pesantren lansia memerlukan kolaborasi dengan dunia medis. Tidak hanya dokter, tetapi juga tenaga kesehatan rutin, fasilitas obat-obatan ringan, hingga pendekatan promotif-preventif.

Lebih dari itu, fasilitas di Masjid At-Taqwa boleh dikatakan aksesibel: ramah kursi roda, jalur wudhu rendah, kamar istirahat yang aman. Sebagian peserta bisa berjalan mandiri, sebagian memerlukan bantuan alat. Ini bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga tentang keadilan spiritual.

Ceramah saja tak cukup. Metode seperti bandongan, sorogan, diskusi, dan praktik ibadah perlu digunakan. Pengajar mesti memahami psikologi dan kebutuhan lansia: daya serap menurun, tapi kerinduan belajar justru meningkat. Maka kita melihat bagaimana Ustadz Yusuf Baba Mona, Ananto Tri P, Sholikul Hadi, dan Sri Multi Fatmawati dengan sabar dan tlesih memberikan materi hadis, tahsin, dan kelansiaan.

Lihatlah bagaimana orang-orang sepuh duduk khusyuk di ruang masjid. Ada yang membawa tongkat, ada yang membawa kursi. Ada yang langkahnya tertatih. Bahkan ada yang terhuyung. Tak ada yang tergesa. Tak ada yang bercita-cita menyelesaikan kitab dalam semalam. Tetapi semua datang dengan satu kehendak: menjadi murid lagi.

Kurikulum Pesantren Lansia

Saya kira, itulah yang membedakan pesantren lansia dari sekadar tempat beribadah. Ini bukan tempat untuk “mengisi waktu” setelah pensiun. Ini bukan juga semacam “panti jampa keagamaan” yang membuat kita merasa nyaman karena merasa telah memberi tempat. Pesantren lansia bukan penghiburan—ia panggilan. Sebuah undangan untuk menua bersama ilmu, bersama Tuhan, dan bersama sesama.

Tetapi adakah kurikulum untuk orang yang tak lagi mengejar nilai ujian? Yang matanya tak tajam, yang pikirannya mudah lelah, tapi hatinya kian terang?

Mungkin jawabannya ada pada keseimbangan. Bahwa kurikulum itu bukan hanya kumpulan mata pelajaran, tapi cara melihat manusia. Di usia senja, manusia tidak hanya perlu tahu ayat, tapi juga perlu merasa tenteram membacanya.

Ia tidak hanya ingin belajar hadis, tapi juga ingin tahu bagaimana caranya wudhu tanpa rasa nyeri. Ia ingin bertanya, “Apakah aku masih berguna?” tanpa merasa sedang diuji.

Maka kurikulum pesantren lansia tidak bisa hanya rohani, tanpa menyentuh fisik yang rapuh. Tidak bisa hanya ceramah, tanpa menyisakan ruang sosial untuk tertawa dan menangis bersama. Tidak bisa hanya tafsir, tanpa disertai dokter yang tahu bahwa obat jantung tidak boleh telat.

Kurikulum ini harus lahir dari niat yang tulus dan kerangka yang waras: memadukan ruh, tubuh, akal, dan hati, dalam satu tarikan napas panjang menuju Allah.

Saya kira, inilah bentuk amal jariyah yang tak selalu disebut dalam ceramah-ceramah itu: bukan hanya membangun gedung, tapi membangun kerangka dasar untuk belajar hingga ajal. Amal jariyah yang memerdekakan lansia untuk tetap bertanya, tetap merasa hidup, tetap menjadi bagian dari ummat.

Tentu saja, tak ada yang ringan. Makanan sehat tidak turun dari langit. Pengajar yang sabar tidak tumbuh dari pujian. Kursi roda, alat bantu dengar, honor pengasuh, semuanya punya harga. Takmir masjid boleh mulai, alumni bisa membantu, tapi tanpa sistem, semua akan selesai sebelum semangatnya mekar.

Maka, perlu keberanian untuk memikirkan dana dengan cara yang berkelanjutan dan bermartabat. Donasi berkala, wakaf produktif, CSR yang sadar usia, bahkan zakat yang dialirkan ke layanan lansia. Semua bukan semata bantuan, tapi bagian dari tanggung jawab sosial dan spiritual yang belum terlalu sering kita sebut: bahwa menjadi tua adalah juga bagian dari menjadi manusia seutuhnya.

Saya kira, ini bukan soal lansia semata. Ini soal kita semua yang sedang menuju ke sana. Karena menurut angka-angka statistik yang kerap tak kita gubris, pada 2045, satu dari lima orang Indonesia akan masuk kategori lansia. Jika kita menolak memikirkan mereka hari ini, kita sedang menyiapkan kesepian massal di masa depan.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah pesantren lansia mungkin. Tapi apakah kita cukup berani menyusunnya sebagai sistem. Apakah lembaga keagamaan bisa membangun kurikulum yang memahami tubuh dan jiwa yang rapuh? Apakah pemerintah bisa melihat bahwa lansia bukan beban APBN, tapi harta moral bangsa? Apakah keluarga bisa menerima bahwa orang tua mereka bukan sekadar “dirawat”, tapi juga bisa belajar dan memberi makna?

Di akhir usia, banyak yang kehilangan banyak hal. Tapi satu yang tak boleh hilang: hak untuk merasa hidup, dan merasa berguna. Pesantren lansia, jika dirancang seimbang dan inklusif, bisa jadi ruang itu. Tempat di mana usia bukan halangan untuk bertanya, untuk mengingat, untuk tersenyum pada ayat yang dipahami ulang.

Mungkin itu sebabnya, kita harus berhenti melihat lansia sebagai objek yang “dirawat.” Dan mulai melihat mereka sebagai manusia yang masih ingin merawat dirinya sendiri dengan iman, ilmu, dan cinta.

Dan seperti semua pertanyaan dalam catatan ini, saya harus akhiri tulisan ini dengan satu pertanyaan yang tak bisa dijawab sekali duduk: Apakah kita, sebagai masyarakat, berani menjawab panggilan itu, panggilan dari ujung usia yang ingin tetap belajar?
*

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: