Dai Kampus Zaman Now: Bukan Sekadar Ceramah, Tapi Gerakan Nyata!
SEMARANG – Di tengah hiruk pikuk informasi dan tantangan zaman yang kian kompleks, peran juru dakwah menjadi sorotan utama. Bukan lagi sekadar bicara di mimbar, melainkan bagaimana seorang dai mampu merespons isu-isu sosial, bahkan menjadi agen perubahan. Inilah yang digaungkan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Semarang lewat gelaran Pelatihan Mubaligh Dasar Nasional (PMD) 2025 yang baru saja usai.
Acara yang berlangsung selama tiga hari, 4–6 Juli 2025 di SD Muhammadiyah 8 Kota Semarang ini, dibuka langsung oleh H. Jumadi, M.Pd., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang. Ia menekankan betapa krusialnya melahirkan dai-dai muda yang tidak hanya cerdas ilmu, tapi juga peka terhadap realitas sosial.
“PMD ini adalah langkah strategis untuk menyiapkan kader dai Muhammadiyah yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memahami realitas dan dinamika sosial,” ungkapnya.
Senada, Immawan Jordi, Ketua Umum PC IMM Kota Semarang, menegaskan bahwa PMD ini lebih dari sekadar pelatihan biasa. Ini adalah bagian dari upaya IMM untuk mengonsolidasikan dakwah kampus yang berbasis ilmu dan nilai, memastikan kader IMM hadir sebagai dai yang tak hanya berpikir, tapi juga bergerak dan memberikan dampak nyata di tengah masyarakat.
“Di tengah fragmentasi sosial dan krisis narasi di ruang publik, IMM ingin memastikan bahwa kader IMM hadir sebagai dai yang berpikir, bergerak, dan berdampak,” ujarnya.
Merajut Dakwah, Membangun Peradaban
Dengan tema “Membumikan Islam Berkemajuan: Semangat Tarjih sebagai Api Perjuangan,” PMD 2025 ini berhasil mengumpulkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah se-Indonesia. Mereka dibekali berbagai materi penting, mulai dari penguatan ideologi, komunikasi dakwah, hingga orientasi gerakan dakwah kampus.

momen penyampaian materi “memahami psikologi mad’u” oleh Ustaz Budi Hidayat dari Himpunan Dai Muda Indonesia. (Foto: Fachriza)
Sesi pertama, Ustadz Dr. Cahyo Seftiyono, akademisi dari Universitas Negeri Semarang, membuka wawasan peserta dengan mengupas strategi dakwah Rasulullah SAW di Madinah. Ia menyoroti bagaimana masjid di masa Rasulullah bukan hanya tempat ibadah, melainkan pusat peradaban dan kebijakan. Ini menunjukkan bahwa dakwah bukan hanya urusan spiritual, tapi juga politik dan sosial.
Selanjutnya, Ustadz Dr. H. Sukendar, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kota Semarang, memperdalam pemahaman tentang Manhaj Tarjih sebagai sistem ijtihad Muhammadiyah. Ia menjelaskan bagaimana Manhaj Tarjih mengintegrasikan tiga pendekatan: bayani (tekstual), burhani (rasional), dan irfani (spiritual). Intinya, tarjih ini harus jadi alat berpikir yang terus memperbarui diri dan mengutamakan kemaslahatan umat.
Tak kalah penting, Ustadz H. Suparno, Sekretaris PDM Kota Semarang, membahas konsep Islam Berkemajuan. Ia menegaskan bahwa ini bukan sekadar slogan, melainkan kerangka nilai yang berpihak pada pencerahan, keadilan, dan keberpihakan terhadap umat. IMM, menurutnya, punya peran strategis untuk menguatkan narasi Islam sebagai kekuatan moral di tengah tantangan zaman.
Aspek krusial lain dalam berdakwah adalah memahami psikologi mad’u. Ustadz Budi Hidayat dari Himpunan Dai Muda Indonesia menekankan, “Dai bukan hanya penyampai pesan, tapi pembaca jiwa. Dakwah memerlukan empati, bukan sekadar retorika.” Ini mengingatkan bahwa dakwah harus menyentuh hati, bukan hanya telinga.
Di era digital ini, dakwah pun harus bertransformasi. Ustadz Akbar, seorang praktisi media dakwah, mengajak peserta memahami algoritma sebagai medan dakwah modern.
“Kalau kita tidak hadir di ruang digital dengan narasi yang jernih dan bernilai, maka ruang itu akan dikuasai oleh konten yang tak bermakna,” ujarnya. Ia pun membagikan strategi jitu untuk berdakwah di platform digital.
Terakhir, Immawan Fahmi, Sekretaris Bidang Tabligh dan Keislaman (TKK) DPD IMM Jawa Tengah, menutup pelatihan dengan sesi Manajemen Dakwah Kampus. Ia menekankan bahwa kampus adalah ladang utama pembentukan opini publik dan kaderisasi nilai.
“Dakwah kampus butuh desain, strategi, dan evaluasi. Ini kerja intelektual, bukan rutinitas seremonial,” katanya.
Estafet Dakwah Tak Berhenti di Sini!
Di penutup acara, Immawan Fahri, Ketua Bidang Tabligh dan Keislaman PC IMM Kota Semarang, menegaskan bahwa tugas dakwah IMM masih panjang. Tantangan dakwah saat ini, menurutnya, bukan cuma soal metode, tapi juga tentang keberanian menyusun narasi besar Islam Berkemajuan yang membumi dalam kehidupan nyata.
“IMM melalui gerakan tablighnya harus menjadi arsitek narasi Islam berkemajuan—membawa nalar kritis, empati sosial, dan spiritualitas yang relevan ke ruang-ruang paling nyata dalam kehidupan mahasiswa dan masyarakat,” pungkasnya.
PMD Nasional 2025 ini benar-benar mempertegas komitmen IMM untuk membangun barisan mubaligh muda yang tidak hanya cakap bicara, tapi juga siap memimpin perubahan, menavigasi zaman, dan memikul dakwah sebagai proyek besar peradaban. Jadi, bersiaplah, karena dai-dai kampus zaman now ini siap membawa angin segar untuk Indonesia yang berkemajuan!