Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Nyantri di Pesantren Lansia: Nikmati Oase Spiritual di Usia Senja

4 Agustus 2025, 05:00 WIB • 4 menit baca
Nyantri di Pesantren Lansia: Nikmati Oase Spiritual di Usia Senja

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org- Udara Ahad (3/8/25) dini hari di masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates terasa dingin menusuk. Namun bukan kedinginan yang menyelimuti hati para lansia yang berkumpul di sana. Tepat pukul 03.00, sebuah panggilan lembut membangunkan mereka. Dengan langkah tertatih namun penuh semangat, para santri pesantren lansia beranjak dari istirahatnya, bersiap untuk sebuah pertemuan yang mengharukan dengan Sang Pencipta.

Saat lantunan ayat suci al-qur’an mengalun syahdu dari bibir Ustadz H. Nurbini merobek sepi dini hari, tak sedikit air mata mengalir dari pipi-pipu keriput. Ini bukan sekadar salat tahajud biasa, melainkan sebuah oase spiritual yang menyemai keteduhan jiwa di usia senja.

Suasana inilah yang menjadi jantung dari pesantren lansia masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates. Sebuah program yang tak hanya mengajarkan kemandirian dan spiritualitas, tetapi juga merajut kebersamaan dan kebahagiaan bagi para peserta.

Bayangan para santri “senior” yang dengan khusyuk bermuhasabah, berdzikir pagi, hingga menunaikan salat syuruq, menunjukkan kesungguhan hati yang lahir dari kesadaran, bukan paksaan.

Antusiasme Membludak, Melampaui Harapan

Program unggulan masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates ini kembali digelar untuk kedua kalinya pada Sabtu-Ahad (2-3/8/25). Kegiatan ini sukses memikat hati para lansia. Tercatat 29 peserta ambil bagian dalam pesantren lansia. Mereka terdiri atas 3 laki-laki dan 26 perempuan, melebihi target awal yang hanya 20 orang.

“Membangun Kesadaran tentang Usia Lanjut” menjadi tema sentral, membuktikan bahwa usia senja bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan spiritual yang lebih sadar dan mandiri.

Penanggung jawab program pesantren lansia, Ustadz H. Solikhul Hadi menjelaskan, bahwa kegiatan ini dirancang untuk membekali para lansia agar lebih mandiri, sehat, dan produktif. “Instruktur dari Sekolah Lansia Bapak Ir.Teguh Triadiyanto, MM kami datangkan untuk memberikan motivasi dan konsep lansia tangguh. Dilanjutkan dengan dinamika kelompok agar para peserta lebih akrab satu sama lain,” ujarnya, menggambarkan suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan.

Rangkaian Hari yang Penuh Makna

Sejak sore, kegiatan sudah dimulai. Para peserta dijemput tim panitia dan langsung disambut dengan salat Ashar berjamaah yang dilanjutkan dengan sesi pengantar oleh Ketua Takmir Masjid At Taqwa Ngaliyan Prof. Dr. Ahwan Fanani.

Dzikir petang dipimpin Ustadz Pujiyanto mengiringi senja, menghanyutkan pikiran dalam ketenangan. Malam harinya, pembelajaran tahsin Qur’an oleh Ustadz Ananto dan kajian kitab Nashoihul ‘Ibad oleh Ustadz Yusuf Isnan mengisi ruang-ruang hati dengan ilmu agama.

Namun, puncaknya adalah momen di sepertiga malam terakhir. Setelah salat tahajud yang diimami Wakil Ketua PDM Kota Semarang,Ustadz H. Nurbini, para lansia diajak bermuhasabah bersama, merenungi perjalanan hidup, disusul dengan dzikir pagi dan salat syuruq. Rutinitas spiritual ini bukan sekadar ibadah, melainkan sebuah injeksi semangat dan energi positif untuk memulai hari.

Setelah melebur dalam kekhusyukan, para lansia mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis, dilanjutkan dengan coffee break santai. Pagi yang cerah disempurnakan dengan senam lansia yang penuh tawa dan kebersamaan. Sebelum berpisah, tausiyah yang menyentuh hati disampaikan, diiringi sarapan bersama dalam suasana kekeluargaan yang erat.

Program Unggulan yang Terus Bersinar

Ustadz H. Solikhul Hadi mengungkapkan bahwa pelaksanaan pesantren lansia kali ini terasa lebih matang dan siap. Peningkatan sarana prasarana, durasi yang diperpanjang, serta materi yang lebih komprehensif menjadi kunci keberhasilan.

“Beberapa peserta bahkan merupakan alumni dari angkatan pertama yang kembali datang karena merasakan manfaat besar,” kata Solikhul, yang juga seorang praktisi pendamping lansia.

Tak hanya dari Ngaliyan, peserta datang dari berbagai penjuru Kota Semarang, bahkan luar kota. Ini menjadi bukti nyata bahwa animo terhadap program ini kian tinggi, sinyal bahwa para lansia pun ingin terus belajar, tumbuh, dan memperbaiki kualitas hidup mereka.

Melihat respons positif ini, pihak takmir masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates optimis akan mengembangkan program ini lebih jauh. “Jika Allah mengizinkan, durasi pertemuan akan diperluas, tidak hanya dua hari pada pekan pertama setiap bulan. Bahkan, muncul wacana menjadikan peserta sebagai santri mukim,” terang Ketua Takmir Ahwan Fanani .

Dengan semangat memperbaiki diri dan merawat usia senja dengan cara yang lebih bermakna, pesantren lansia ini benar-benar menjadi oase bagi mereka yang ingin menjalani masa tua bukan sebagai akhir, tetapi sebagai awal dari perjalanan spiritual yang lebih sadar dan mandiri, penuh dengan keteduhan dan kebahagiaan.

Kontributor: Riyo Zakaria
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: