Kisah israiliyat tentang cicak versus burung pipit sangat menginspirasi dan populer di kalangan ulama Islam. Tafsir Ibnu Katsir dan Mawa’idul ‘Ushfuriyyah mempresentasikan kembali kisah purba itu untuk mengajarkan prinsip moral, yaitu tentang keberpihakan.
Burung pipit berpihak kepada kebenaran. Ia berusaha memadamkan api yang membakar tubuh Ibrahim a.s., meskipun usaha menyemburkan air dari paruh mungilnya disadari tidak akan mungkin berhasil. Pelajaran yang diperoleh adalah meskipun sangat kecil dan tidak berdampak, burung pipit berada di pihak kebenaran karena bersinergi dengan Ibrahim a.s., yaitu melawan kezaliman Namrud dan kemusyrikannya.
Sementara itu, cicak menertawakan burung pipit yang menyiramkan setetes air dari paruhnya. Cicak juga mengibas-ngibaskan api supaya nyalanya lebih besar. Tentu, tujuan perbuatannya agar Ibrahim a.s. segera hangus terbakar. Meskipun kibasan dari lidahnya tidak berpengaruh apa pun untuk memperbesar nyala api, pesan moral yang diperoleh dari figur cicak adalah ia berpihak kepada kebatilan. Perbuatan cicak ini sudah sah disebut berpihak kepada kezaliman dan kemusyrikan Namrud, sekaligus bermaksiat kepada Allah SWT.
Rasulullah Muhammad, yang hidup ribuan tahun setelah peristiwa pembakaran Ibrahim a.s. oleh Namrud, menyadari status burung pipit dan cicak dalam perannya masing-masing. Itulah sebabnya Rasulullah melegalkan kaum muslimin membunuh cicak sebagai perbuatan yang terpuji.
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَقَالَ كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَم
Artinya:
Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda, “Dahulu cicak ikut membantu meniup api Ibrahim a.s.” (HR Bukhari: 3109).
Sebaliknya, jika kaum muslimin membunuh burung pipit tanpa alasan yang dapat dibenarkan, maka perbuatannya termasuk zalim. Dalam hal ini Nabi bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَتَلَ عُصْفُورًا بِغَيْرِ حَقِّهِ سَأَلَهُ اللَّهُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa membunuh seekor burung (pipit) tanpa hak, maka Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadanya pada hari Kiamat kelak.” (HR. ad-Darimi: 1896).
Pelajaran berharga yang dapat diperoleh dari kisah burung pipit dan cicak, di satu sisi, dan perlakuan Nabi terhadap kedua binatang itu, dapat digunakan untuk melihat dan menilai perilaku manusia sekarang ini dalam aspirasi politik di negeri ini. Yaitu tentang siapa berpihak kepada siapa. Nabi menjelaskan bahwa siapa saja yang berpihak kepada pemerintah zalim, pasti hilang statusnya sebagai muslim, dan di akhirat tidak memperoleh jatah minum dari telaga Rasul.
فَقَالَ إِسْمَعُوْا هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُوْنُ بَعْدِيْ أُمَرَاءُ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ
Artinya:
Beliau bersabda: “Dengarkan, apa kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku nanti akan ada pemimpin-pemimpin? Barang siapa yang memasuki (berpihak kepada) mereka lalu membenarkan kedustaan mereka serta menolong kezaliman mereka, ia tidak termasuk golonganku dan aku bukan bagian darinya, serta tidak akan mendatangi telagaku.” (HR at-Tirmizi: 2259, Hakim 270, 271, Ahmad, 17660).
Jadi, siapa saja yang berpihak kepada partai politik atau calon presiden “musuh Islam” dengan cara mencoblosnya dalam pemilihan umum, maka dia termasuk pembela kezaliman. Ini bukan tindakan membawa-bawa agama dalam ranah politik, sebagaimana tuduhan kaum islamofobis, melainkan memang realisasi agama dalam kancah perpolitikan. Allah juga mengancam dengan lembah neraka kepada kaum oportunistik di pemerintahan zalim, meskipun dilakukan oleh ulama. Nabi bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جُبِّ الْحُزْنِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا جُبُّ الْحُزْنِ قَالَ وَادٍ فِي جَهَنَّمَ تَعَوَّذُ مِنْهُ جَهَنَّمُ كُلَّ يَوْمٍ أَرْبَعَ مِاائَةِ مَرَّةٍ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ يَدْخُللُهُ قَالَ أُعِدَّ لِلْقُرَّاءِ الْمُرَائِينَ بِأَعْمَالِهِمْ وَإِنَّ مِنْ أَبْغَضِ الْقُرَّاءِ إِلَى اللَّهِ الَّذِينَ يَزُورُونَ الْأُمَرَاءَ
Artinya:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berlindunglah kalian kepada Allah dari Jubbul Huzn.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan Jubbul Huzn?” Beliau menjawab: “Sebuah lembah di neraka jahanam. Jahanam berlindung darinya empat ratus kali setiap hari.” Beliau ditanya: “Ya Rasulullah, siapakah yang akan memasukinya?” Beliau menjawab: “Ia dipersiapkan bagi para qari’ yang berlaku riya dengan amalan-amalannya. Qari’ yang paling dimurkai Allah adalah orang-orang yang mengunjungi para penguasa.” (HR Ibnu Majah: 252).
Dapat dilihat dari sekarang, siapa nanti yang gagal meminum dari telaga Rasul dan selanjutnya masuk ke dalam lembah jahanam. Siapa yang memperoleh jatah minum telaga Rasul dan selamat dari jahanam. Neracanya ada pada aspirasi politik. Siapa berpihak ke partai islamophobis dan siapa berpihak pada Islam sebagai the way of life. Siapa berpihak pada politik sebagai kekuasaan dan siapa berpihak pada politik sebagai sarana ibadah. Siapa berpihak pada penguasa culas dan siapa berpihak pada penguasa pemangku amanah.
Wallahu a’lamu bi shawab.