Diskusi tentang salat selama ini hanya marak dari segi formalitas, fikih, dan kaifiyah, seperti tentang doa iftitah, basmalah, bacaan tasbih, cara berselawat, lafal salam, dan tentang mengangkat tangan. Diskusi semacam ini tidak membuahkan kesepakatan, tetapi selalu diulang-ulang tanpa berkesudahan.
Pendekatan eksoteris ini menimbulkan banyak mazhab. Di dalam mazhab, muncul sub-sub mazhab. Satu mazhab berbeda dari mazhab lainnya. Akhirnya, ketika hendak salat berjamaah muncul persoalan, “mazhab apa yang dianut oleh sang imam?”
Jika praktik salat imam berbeda, misalnya tidak membaca basmalah dalam surat Al-Fatihah, makmum pasti akan terganggu batinnya karena terbiasa dengan basmalah. Puncak rasa terganggu ini bisa memicu justifikasi bahwa salatnya tidak sah atau dengan istilah lain, bidah. Selanjutnya, makmum akan kapok dan tidak mau berjemaah lagi dengan imam tersebut. Itulah sebabnya ada seseorang yang bertetangga dekat dengan masjid, tetapi dia mencari masjid yang jauh yang sesuai dengan praktik salatnya.
Penulis mengajak pembaca menelisik dimensi isoteris, yaitu aspek kedalaman batin di balik peragaan salat secara fisik. Hadis berikut ini penting untuk disimak dengan saksama:
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ:{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ:{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ:{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } قَالَ االلَّهُ: مَجَّدَنِي عَبْدِي، فَإِذَا قَالَ:{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ:{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
Artinya:
(Rasulullah SAW bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan bagi hamba-Ku apa yang dia mohonkan. Maka ketika hamba-Ku berkata: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (Segala Puji Hanya Bagi Allah, Tuhan semesta alam). Allah SWT berfirman: حَمِدَنِي عَبْدِي (Hamba-Ku telah memuji-Ku). Dan ketika seorang hamba berkata: الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang). Allah SWT berfirman: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي (Hamba-Ku telah memuji-Ku). Dan ketika seorang hamba berkata: مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (Yang Menguasai di Hari Pembalasan), Allah berfirman: مَجَّدَنِي عَبْدِي (Hamba-Ku telah memuliakan Aku). Dan ketika seorang hamba berkata: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan), Allah SWT berfirman: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ (Ini adalah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya). Dan saat berkata: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat), Allah pun berfirman: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ (Ini adalah bagi hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia pinta).” (HR. Muslim: 598, Abu Dawud: 699, at-Turmuzi: 2877, 3050, an-Nasai: 900, 905, Ibnu Majah: 3774, Malik: 174, Ahmad: 6990, 7502, 9552, 20180, ad-Daruquthni: 1176, Ibnu Khuzaimah: 502, dan Ibnu Hibban: 776, 1784, 1795).
Hadis ini nyaris tidak pernah disampaikan dalam pengajian-pengajian akbar. Narasi ini juga terlewatkan dalam kitab-kitab fikih. Bahkan, dalam kajian-kajian yang di dalamnya ada forum tanya jawab, hadis ini berada di luar kesadaran narasumber maupun jemaahnya. Akibatnya, baik umat maupun para mubalighnya memiliki pola salat yang bersifat formalistik dan rutinitas. Salat model ini tidak menyentuh spirit pesan hadis yang masyhur dan berkualitas sahih. Padahal, di dalamnya tersirat bahwa ketika seorang musali membaca surat Al-Fatihah, isinya adalah dialog intim antara Khalik dan makhluk. Makhluk memuji, mengagungkan, dan memohon kepada Allah SWT, sementara Allah menerima pujian itu dan mengijabahi permohonan makhluk.
Tibalah saatnya kaum muslimin merasa malu melaksanakan salat yang hanya berhenti pada taraf formalisme-mazhabisme. Berhijrahlah pada salat esensialis-sunah Rasulillah, yaitu salat fungsionalisme dengan kesadaran berdialog dengan Khalik sebagai refleksi kerinduan kepada-Nya.
Salat fungsionalis inilah perwujudan kualitas ihsan. Indikator lahiriahnya adalah membaca surat Al-Fatihah berhenti sejenak pada tiap ayat untuk menghayati ketulusan pujian kepada Allah dan permohonan kepada-Nya.
Ketika Umar bin Abdul Aziz ditanya mengapa pemberhentian pada setiap ayat di dalam membaca surat Al-Fatihah agak sedikit lama, beliau menjawab, “Aku sedang berbisik-bisik kepada Tuhanku untuk memuji, mengagungkan, dan memohon sesuatu kepada-Nya.”
Dengan mengetengahkan esensi salat dengan kualitas ihsan, dan menjadikannya media dialog intim, dapat diprediksi bahwa umat Islam pasti akan menjadi kuat, seperti ketika dipimpin oleh Rasulullah, Abu Bakar, Umar bin Khathab, Umar bin Abdul Aziz, Sultan Salahuddin al-Ayyubi, maupun Sultan al-Fatih dari Kesultanan Usmaniyah.
Wallahu a’lamu bi shawab.