Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 6 menit baca

Dimensi Dialogis dalam Salat: Bagian Kedua

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Dimensi Dialogis dalam Salat: Bagian Kedua
Drs. H. Danusiri, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus, saat mengulas realitas sosiologis fenomena Munu dalam praktik keagamaan warga Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Salat, sebuah ritual suci dalam Islam, tak sekadar gerakan fisik dan bacaan lisan. Lebih dari itu, salat adalah dialog mendalam antara seorang hamba dan Tuhannya. Namun, seberapa sering kita benar-benar menyadari dimensi dialogis ini?

Tulisan ini mengupas tuntas rahasia salat yang lebih dari sekadar rutinitas, mengajak kita menelusuri bagaimana Rasulullah saw. menjadikan salat sebagai percakapan yang hidup dan bermakna.

Bagaimana Rasulullah saw. memperagakan salat sebagai sebuah percakapan mendalam antara seorang hamba dan Tuhannya bisa disimak dalam hadis berikut:

عَوْفَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ َقُمْتُ مَعَهُ فَبَدَأَ فَاسْتَفْتَحَ الْبَقَرَةَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ فَسَأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ يَتَعَوَّذُ ثُمَّ رَكَعَ فَمَكَثَ رَاكِعًا بِقَدْرِ قِيَامِهِ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ ثُمَّ قَرَأَ آلَ عِمْرَانَ ثُمَّ سُورَةً فَفَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ

Artinya:
“’Auf Bin Malik berkata, ‘Aku berdiri, salat, bersama beliau. Beliau memulai dengan membaca Surat al-Baqarah. Tidaklah beliau melintasi ayat rahmat, melainkan beliau berhenti lalu meminta, dan tidaklah melintasi ayat azab, melainkan beliau berhenti lalu meminta perlindungan diri. Setelah itu beliau rukuk lalu diam dalam keadaan rukuk seukuran lamanya saat berdiri. Saat rukuk beliau membaca: Subḩâna ẕil jabarûti wal malakûti wal kibriyâ’i wal ‘azhmah. Setelah itu beliau membaca Āli ‘Imran kemudian satu surat lain, lalu beliau melakukan hal yang sama.’” (HR. Ahmad: 22855, Abu Dawud: 739, an-Nasai: 1120. Hadis ini ṣaḩîḩ).

Penulis menyadari bahwa hadis ini jarang dieksplorasi oleh para mubalig dalam berbagai pengajian, baik secara langsung maupun daring. Oleh karena itu, penulis merasa penting untuk mengenalkannya. Inti dari hadis ini adalah praktik Rasulullah saw. yang berhenti sejenak saat membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan surga atau neraka. Ketika membaca ayat tentang surga, beliau diam dan berdoa agar kelak surga menjadi tempatnya. Sebaliknya, saat membaca ayat tentang neraka, beliau berhenti dan memohon perlindungan dari azabnya.

Meskipun praktik salat seperti ini jarang ditemui dari imam mana pun, termasuk di Haramain, kita dapat menerapkan dimensi dialogis ini sebagai makmum. Bagi makmum yang mengerti arti bacaan salat, ini adalah kesempatan emas.

Ketika imam membaca ayat tentang surga, makmum dapat berdoa dalam hati memohonnya. Begitu pula saat imam membaca ayat tentang neraka, makmum dapat memohon perlindungan darinya. Dengan cara ini, salat benar-benar menjadi media dialogis antara seorang hamba dengan Allah.

Bagi makmum yang tidak mengerti arti bacaan salat, tidak perlu khawatir. Tanpa harus memahami seluruh ayat, makmum biasanya dapat mengenali kata-kata kunci. Misalnya, ketika mendengar kata-kata seperti Jannah, Firdaus, Jannatu ‘adn, atau Dârussalâm, kita tahu itu merujuk pada surga. Saat itu, berdoalah dalam hati: As alukal Jannah yâ Allâh (Ya Allah, aku memohon surga-Mu).

Sebaliknya, ketika mendengar kata-kata seperti nâr, jaḩîm, jahannam, sa’îr, khutamah, atau hawiyah, kita tahu itu merujuk pada neraka. Saat itu, mohonlah perlindungan kepada Allah dengan berdoa: A’ûẕubika minannâr (Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari neraka).

Agar dialog batin ini dapat terjalin, makmum harus seksama mendengarkan bacaan imam. Kualitas khusyuk batiniah akan meningkat jika kita fokus pada bacaan yang dilantunkan. Hal ini sejalan dengan anjuran Al-Qur’an:

وَاِذَا قُرِئَ الۡقُرۡاٰنُ فَاسۡتَمِعُوۡا لَهٗ وَاَنۡصِتُوۡا لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ‏ ٢٠٤
Artinya: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204).

Anjuran ini juga dikuatkan oleh hadis-hadis lain. Abu Hurairah meriwayatkan sabda Rasulullah saw:

صَلَّى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- بِأَصْحَابِهِ صَلاَةً نَظُنُّ أَنَّهَا الصُّبْحُ فَقَالَ « هَلْ قَرَأَ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ ». قَالَ رَجُلٌ أَنَا. قَالَ « إِنِّى أَقُولُ مَا لِى أُنَازَعُ الْقُرْآنَ ».

Artinya:
Aku mendengar Abu Hurairah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam salat bersama para sahabatnya yang kami mengira bahwa itu adalah salat subuh. Beliau bersabda, ‘Apakah salah seorang dari kalian ada yang membaca surat (di belakangku)?’ Seorang laki-laki menjawab, ‘Saya.’ Beliau bersabda, ‘Kenapa aku ditandingi dalam membaca Al-Qur’an?’” (HR. Turmuzi: 287, Abu Dawud: 803, an-Nasai: 910, Ibnu Majah: 839, Ahmad: 6972, 7485, (7499, 9928 semakna, lain lafal), 7665, 21844, Malik: 179, Ibnu Hibban: 1843, 1849, 1851, (Daruquthi: 1204 semakna dan lebih panjang, Ibnu Khuzaimah: 1207).

Hadis lain juga menegaskan:
مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَةُ الِإمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ
Artinya: “Barangsiapa yang salat di belakang imam, bacaan imam menjadi bacaan untuknya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah: 850).

Meski demikian, terdapat hadis lain yang menjelaskan bahwa makmum hanya diwajibkan membaca surat Al-Fatihah saja, sementara untuk ayat atau surat lain, makmum cukup diam dan mendengarkan (istima’). Hadis tersebut adalah:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَقْرَءُونَ خَللْفِي قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَلَا تَفْعَلُوا إِلَّا بِأُمِّ الْكِتَابِ [رواه أحمد].
Artinya: Dari Abdullah Ibnu Abi Qatadah dari ayahnya (Abi Qatadah) diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bertanya kepada para sahabatnya: “Apakah kalian membaca sesuatu di belakangku?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau berkata: “Jangan kalian lakukan itu, kecuali Ummul-Kitab (Al-Fatihah).” (HR. Ahmad No. 21576).

Dengan demikian, ketika imam membaca surat atau ayat selain Al-Fatihah, makmum dianjurkan diam dan menyimak, sambil merespons secara batiniah setiap kali melewati ayat surga atau neraka.

Mari tingkatkan kekhusyukan salat kita sehingga setiap hari kita bisa bercengkerama dengan Allah, mencontoh pola salat Rasulullah SAW

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: