Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 3 menit baca

Refleksi Maulid Nabi: Menghadirkan Semangat Salahuddin di Kota Semarang

Dr. H. KRAT. AM. Jumai, SE. MM

Wakil ketua PDM Kota Semarang

Refleksi Maulid Nabi: Menghadirkan Semangat Salahuddin di Kota Semarang
Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M., Alumni Pondok Pesantren Daarul Abroor, penulis opini peringatan Hari Santri Nasional 2026.

Dalam sejarah Islam, nama Salahuddin Al-Ayyubi (Ṣalāḥ ad-Dīn Yūsuf ibn Ayyūb) selalu dikenang sebagai simbol keberanian, keteguhan iman, dan kepemimpinan visioner yang berlandaskan pada semangat dakwah Rasulullah ﷺ. Lahir di Tikrit, Irak, pada 1137 M, Salahuddin tampil sebagai tokoh sentral dalam Perang Salib.

Melalui kepemimpinan yang visioner, ia berhasil menyatukan kekuatan umat Islam yang terpecah, hingga akhirnya berhasil merebut kembali Yerusalem dari pasukan Salib pada 1187 M melalui Perang Hittin. Kemenangan ini tak hanya menjadi catatan sejarah militer, tetapi juga manifestasi dari kesungguhan spiritual seorang pemimpin yang menjadikan tauhid sebagai landasan perjuangannya.

Semangat panji Nabi Muhammad ﷺ yang dihidupkan kembali oleh Salahuddin dapat dilihat dari empat hal pokok. Pertama, tauhid sebagai landasan perjuangan. Kemenangan tidak semata karena kekuatan senjata, melainkan karena keteguhan iman dalam menegakkan kalimat la ilaha illallah.

Kedua, keadilan dan akhlak mulia. Salahuddin tidak hanya dikenal sebagai panglima perang yang tangguh, tetapi juga sebagai pemimpin yang pemaaf, adil, dan berakhlak mulia, bahkan kepada musuh yang telah kalah perang.

Ketiga, persatuan umat. Ia menyadari bahwa kemenangan tidak akan terwujud tanpa ukhuwah atau persaudaraan yang kokoh.

Dan keempat, pengibaran panji Islam yang menjadi simbol jihad fi sabilillah, bukan sekadar untuk merebut wilayah, melainkan untuk menjaga kehormatan umat dan syiar Islam.

Dalam banyak riwayat, Salahuddin digambarkan sebagai pemimpin yang tidak pernah meninggalkan salat malam, selalu membaca Al-Qur’an, dan memulai setiap langkahnya dengan doa serta takbir. Semangat spiritual ini menunjukkan bahwa kemenangan lahir bukan hanya dari strategi, tetapi juga dari kesungguhan hati yang terikat dengan Allah SWT.

Dari sinilah, Salahuddin menjadi teladan nyata seorang pemimpin yang memadukan iman, strategi, persatuan, dan akhlak mulia di bawah panji Rasulullah ﷺ.

Relevansi Semangat Salahuddin di Kota Semarang

Refleksi dari sejarah Salahuddin Al-Ayyubi ini sangat relevan bagi umat Islam di Kota Semarang. Dengan jumlah umat Islam yang mencapai lebih dari 87%, potensi umat ini sejatinya menjadi modal besar dalam peran pembangunan dan kebangsaan.

Mayoritas bukan sekadar angka statistik, melainkan amanah untuk menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil-‘alamin. Yaitu dengan menebarkan kedamaian, menegakkan keadilan, memperkuat persaudaraan, dan menjaga keberagaman dalam bingkai kebangsaan. Semangat persatuan umat yang diteladankan Salahuddin seharusnya menginspirasi umat Islam di Semarang untuk tidak mudah terpecah karena politik, kepentingan sesaat, atau perbedaan pandangan.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ semakin menegaskan pesan ini. Nabi Muhammad ﷺ membangun masyarakat Madinah dengan fondasi tauhid, persaudaraan, dan keadilan sosial.

Semangat ini harus dihidupkan kembali oleh umat Islam di Semarang, khususnya dalam perannya sebagai mayoritas. Ini dapat diwujudkan dengan berkontribusi aktif dalam pembangunan kota, menjaga harmoni sosial, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Jika umat Islam mampu meneladani kepemimpinan Rasulullah ﷺ dan semangat Salahuddin Al-Ayyubi, maka Kota Semarang akan menjadi kota yang maju secara ekonomi, adil secara sosial, harmonis dalam kebhinekaan, sekaligus religius dalam nilai-nilai spiritualitasnya.

Dengan demikian, refleksi Maulid Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya perayaan seremonial, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali peran umat Islam dalam pembangunan Kota Semarang.

Panji Rasulullah ﷺ yang pernah dikibarkan oleh Salahuddin Al-Ayyubi menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati umat bukan pada jumlahnya semata, melainkan pada persatuan, keteguhan iman, dan komitmen untuk menghadirkan keadilan serta kedamaian bagi semua.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: