Setiap tahun, perayaan Maulid Nabi selalu disambut dengan berbagai cara. Ada yang melantunkan salawat, mengkaji sirah nabawiyah, atau sekadar ikut meramaikan.
Namun, di balik seremonial tersebut, seringkali kita lupa bahwa Maulid Nabi adalah momentum penting untuk merenungi dan meneguhkan kembali kewajiban mendasar kita kepada Rasulullah SAW. Kewajiban-kewajiban ini tidak lekang oleh waktu, bahkan semakin relevan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.
Berikut berbagai kewajiban umat muslim kepada Rasulullah SAW:
1. Tashdiquhu Fima Akhbar Membenarkan apa yang beliau sampaikan adalah langkah pertama . Nabi SAW datang membawa kabar dari Allah, dan tugas kita adalah menerimanya sepenuh hati. Di tengah banjir informasi dan opini liar zaman sekarang, iman ini menjadi penopang agar kita tidak mudah goyah.
2. Tha‘ātuhu Fīmā Amar Selanjutnya adalah mentaati perintah beliau. Banyak perintah Nabi SAW yang terasa sederhana: jujur, amanah, menolong yang lemah. Tapi justru di era modern, hal-hal itu sering dilupakan. Padahal, kalau semua orang menaatinya, banyak masalah sosial bisa selesai dengan sendirinya.
3. Ijtinābu Mā Nahā ‘Anhu Tak kalah penting, menjauhi larangan beliau. Rasulullah SAW melarang riba, penipuan, dan kebencian antar sesama. Bukankah larangan ini yang justru jadi kunci agar umat tidak terjebak dalam krisis ekonomi dan perpecahan sosial?
4. Lā na‘budullāha Illā Bimā Syara‘a Ibadah pun harus sesuai dengan syariat beliau. Kita tidak perlu mencari jalan baru dalam beribadah, karena Rasulullah SAW sudah meninggalkan pedoman yang jelas. Kalau ingin dekat dengan Allah, ikuti saja caranya beliau beribadah.
5. Al-īmānu Bihi Semua itu berlandaskan pada iman sepenuhnya kepada beliau. Iman bukan hanya di lisan, tapi juga di hati dan tindakan. Apalagi di era global sekarang, iman diuji bukan hanya dengan keraguan intelektual, tapi juga dengan gaya hidup yang kadang menjauhkan kita dari ajaran beliau.
6. Maḥabbatuhu Tidak cukup hanya percaya, kita juga harus mencintai beliau lebih dari segalanya. Cinta ini terlihat saat kita rela meneladani akhlak beliau, walau kadang terasa berat.
7. Ta‘dhīmu-hu Cinta itu melahirkan sikap mengagungkan dan menghormati beliau. Artinya, kita menjaga adab dalam menyebut nama Nabi, tidak meremehkan sunnahnya, dan tetap menempatkan beliau sebagai teladan agung.
8. Ad-difā’u ‘anhu Kita pun wajib membela beliau dan sunnahnya. Di era media sosial, pembelaan tidak harus dengan teriakan keras. Bisa dengan tulisan yang mencerahkan, dengan sikap yang menunjukkan betapa indahnya Islam.
9. Maḥabbatu Man Aḥabbahu Kewajiban lain adalah mencintai orang-orang yang mencintai beliau. Persaudaraan di antara umat Islam semestinya lahir dari cinta bersama kepada Rasulullah SAW. Kalau kita masih mudah membenci sesama muslim, berarti cinta kita kepada Nabi masih belum utuh.
10. Iḥyā’u Sunnatihī Selain itu, kita dituntut untuk menghidupkan sunnah beliau. Sunnah itu bukan hanya soal pakaian, tapi juga etos kerja keras, kejujuran, kasih sayang, dan kepedulian sosial. Sunnah Nabi SAW sangat mungkin dipraktikkan di ruang kerja modern, di pasar, bahkan di media digital.
11. Iktsāru Shalawāt ‘Alayhī Dan tentu saja, jangan lupakan memperbanyak shalawat kepada beliau. Di tengah hidup yang makin sibuk dan penuh tekanan, shalawat bisa menjadi penyejuk hati. Sekali shalawat, Allah balas dengan sepuluh rahmat, itulah janji yang luar biasa.
Maulid Nabi seharusnya membuat kita bertanya: sejauh mana kita benar-benar menjalankan kewajiban kepada Rasulullah SAW. Bukan sekadar merayakan kelahirannya, tapi juga menghidupkan ajaran beliau di tengah kehidupan kita. Kalau itu bisa kita lakukan, maka peringatan Maulid benar-benar membawa makna.