Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 4 menit baca

Muhammadiyah dan Perempuan

Gunoto Saparie

Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Tengah

Muhammadiyah dan Perempuan

Di banyak ruang pengajian, suara perempuan masih terdengar seperti gema yang samar. Seolah mereka hadir, tapi sekaligus disembunyikan. Padahal, sejarah Islam sendiri mengenal nama-nama perempuan yang lantang, yang jejaknya menyeberangi abad. Aisyah, misalnya, yang bukan hanya istri Nabi Muhammad, melainkan juga periwayat hadis yang kritis.

Muhammadiyah, dengan wajah modernismenya, mencoba membaca kembali gema samar itu. Ia menyadari: pemberdayaan perempuan bukan sekadar urusan emansipasi yang dipinjam dari Barat, melainkan bagian dari iman itu sendiri.

Ketika perempuan dicegah untuk bersekolah, organisasi ini mendirikan sekolah khusus untuk mereka. Ketika ruang sosial menutup diri, Muhammadiyah, melalui Aisyiyah, sayap perempuannya, membuka jendela.

Aisyiyah berdiri sejak 1917¹. Ia lahir dari rahim gerakan yang percaya bahwa pendidikan adalah kunci. Sejak itu, ribuan sekolah perempuan bermunculan. Di kelas-kelas sederhana, perempuan Jawa, Sumatra, Sulawesi, belajar menulis, berhitung, membaca ayat. Barangkali, di situ mereka juga belajar menemukan suara.

Tetapi pendidikan hanyalah permulaan. Pemberdayaan yang sejati adalah ketika perempuan menemukan dirinya dalam masyarakat, bukan sekadar di ruang domestik. Muhammadiyah mengembangkan pelatihan keterampilan, wirausaha kecil, koperasi, hingga penyuluhan kesehatan. Perempuan bukan hanya menjadi pengikut, melainkan pemimpin komunitas. Di banyak desa, kita menemukan kader Aisyiyah yang lebih sigap daripada aparat negara ketika bicara soal imunisasi atau gizi balita².

Dalam konteks ekonomi, pelatihan wirausaha bagi perempuan tampak sederhana: membuat kerajinan, membuka usaha kuliner, mengelola koperasi simpan pinjam. Tetapi sesungguhnya di situlah terletak radikalitas kecil. Perempuan yang sebelumnya tergantung pada nafkah suami kini memiliki sumber daya sendiri. Dari sana tumbuh kemandirian, yang pelan-pelan mengikis hierarki lama.

Tentu, ada resistensi. Sejarah mencatat bahwa gagasan perempuan sekolah, perempuan bekerja, perempuan berdakwah, pernah dianggap aneh. Namun, Muhammadiyah berdiri pada keyakinan bahwa agama tidak pernah menutup pintu itu. Bahwa justru iman menghendaki kesetaraan.

Tafsir Agama dan Realitas SosialDi titik inilah kita bisa melihat: pemberdayaan perempuan dalam Muhammadiyah bukan sekadar program, melainkan tafsir. Tafsir atas Al-Quran dan Sunah yang dibaca dengan mata baru, dengan keyakinan bahwa perempuan adalah subjek, bukan objek. Tafsir itu kemudian menjelma lembaga pendidikan, rumah sakit, panti asuhan, hingga jaringan koperasi.

Dan tentu saja, masih ada jalan panjang. Ketimpangan gender tidak hilang hanya dengan mendirikan sekolah atau koperasi. Ia memerlukan perubahan budaya, cara pandang, bahkan bahasa sehari-hari. Muhammadiyah, dengan segala kematangannya, tahu bahwa perubahan sosial selalu lambat. Tetapi ia juga tahu, tanpa langkah-langkah kecil perempuan di kampung, di pasar, di ruang kelas, tidak akan pernah ada perubahan besar.

Seorang kawan pernah bercerita tentang ibunya, kader Aisyiyah di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Ibunya tidak pernah berpidato di panggung besar. Tetapi setiap pekan ia berkeliling rumah, mengingatkan tetangga soal gizi balita, mendampingi ibu-ibu hamil, mengajari anak-anak membaca Al-Quran. Dari situ lahirlah generasi yang lebih sehat, lebih terdidik. Di sanalah sesungguhnya pemberdayaan perempuan menemukan bentuknya: sunyi, tanpa sorak, tapi menentukan.

Apa yang dilakukan Muhammadiyah pada akhirnya adalah membuktikan bahwa agama bisa bersuara lembut sekaligus tegas. Lembut pada manusia, tegas pada ketidakadilan. Ia menunjukkan bahwa iman tidak bertentangan dengan perempuan yang bekerja, yang memimpin, yang bersuara. Bahwa iman justru meminta itu.

Dan seperti biasa, perubahan besar sering hanya tampak dari jauh. Di dekatnya, ia sekadar perempuan yang mengajar anak-anak di ruang kelas bambu, atau seorang ibu yang mengelola koperasi simpan pinjam dengan catatan tangan. Tetapi bukankah sejarah justru tumbuh dari yang sederhana itu?

Mungkin suatu hari, orang akan membaca pemberdayaan perempuan Muhammadiyah bukan hanya sebagai kisah organisasi, melainkan sebagai kisah iman yang membela kehidupan. Dan barangkali, seperti kalimat yang sering ditulis Goenawan Mohamad, “kita tahu, sejarah tak pernah sempurna.” Tetapi justru di ketidaksempurnaan itulah, perempuan menemukan jalannya sendiri.

Catatan Kaki:

Aisyiyah didirikan di Yogyakarta tahun 1917 oleh Nyai Ahmad Dahlan, menjadi organisasi perempuan Islam pertama di Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.

Menurut data Pimpinan Pusat Aisyiyah (2020), organisasi ini telah mengelola lebih dari 7.000 TK, 3.000 sekolah dasar dan menengah, serta ratusan rumah sakit dan panti asuhan di seluruh Indonesia.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: