Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tantangan Membumikan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM)

23 September 2025, 15:59 WIB 3 menit baca
Tantangan Membumikan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM)

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org- Sebuah kegelisahan perlahan menyelimuti hati para pimpinan Muhammadiyah di Kota Semarang. Bukan soal program kerja yang mandek atau urusan finansial, melainkan sebuah persoalan yang lebih mendalam: kurangnya pemahaman tentang Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) di kalangan pimpinan dan anggotanya sendiri.

Gelisah itu terasa jelas dalam nada bicara H. Suparno S.Ag. M.Si., Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang. Ditemui di sela-sela kegiatan pelatihan reputasi branding PWM Jateng, Sabtu (20/9/25) , ia tak segan mengakui bahwa implementasi PHIWM masih banyak yang perlu ditingkatkan, bahkan di tingkat paling atas.

Wajahnya menunjukkan sebuah kesungguhan saat menjelaskan bahwa banyak pimpinan, mulai dari tingkat ranting, cabang, hingga daerah, belum sepenuhnya memahami esensi pedoman hidup yang telah disusun rapi dari Al-Qur’an dan Hadis tersebut.

Materi PHIWM Relevan dengan Perkembangan Zaman

PHIWM sendiri bukanlah sekadar buku panduan keagamaan biasa, kata Dosen Fakultas Psikologi Undip ini. Materi yang terkandung di dalamnya sangat komprehensif, mencakup seluruh aspek kehidupan, menjadikannya relevan untuk mengatasi tantangan di era modern.

Materi PHIWM meliputi pedoman untuk kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, berorganisasi, mengelola amal usaha, hingga etika politik dan pengembangan profesi. Materi yang luas ini membuat PHIWM memiliki relevansi tinggi dalam membimbing warga Muhammadiyah menghadapi tantangan moral dan etika kontemporer, terangnya.

Suparno menegaskan bahwa PHIWM dapat berfungsi sebagai pegangan kuat untuk menghadapi isu-isu seperti patologi sosial dan korupsi melalui pengembangan etika profesi dan nilai-nilai kejujuran yang sangat relevan saat ini.

“Banyak di antara kita yang mungkin sudah mengamalkan nilai-nilai Islami dalam keseharian, shalat, puasa, berakhlak baik. Itu semua memang sudah ada dalam diri kita,” tutur Suparno, matanya menerawang. “Tapi, ketika ditanya tentang pemahaman buku PHIWM secara formal, itu yang jadi persoalan. Kebanyakan belum membaca, apalagi mendalami isinya.”

PHIWM sebagai Peta Jalan

Bagi Suparno, ini adalah sebuah ironi yang harus segera diatasi. Ia membandingkan pemahaman PHIWM dengan sebuah peta perjalanan. Banyak warga Muhammadiyah yang sudah berjalan di jalur yang benar, namun tanpa peta yang terperinci, langkah mereka bisa saja kurang terarah.

“Aktivitas keseharian warga Muhammadiyah itu sebetulnya tidak jauh berbeda dengan PHIWM, hanya saja belum terstruktur, belum terkodifikasi. Pengamalannya sudah baik, tapi pemahamannya belum,” ujarnya.

Maka, PDM Kota Semarang kini mengambil langkah strategis. Mereka mendorong semua tingkatan pimpinan untuk kembali ke meja belajar, menggelar kajian khusus tentang PHIWM. Suparno menyadari bahwa materi ini membutuhkan komitmen waktu yang serius. Di beberapa tempat, pembahasan satu buku PHIWM bisa memakan waktu hingga tujuh kali pertemuan.

“PHIWM itu seperti peta kompas. Kita butuh waktu untuk mempelajarinya, tidak bisa sekali pertemuan langsung selesai,” jelas Suparno seraya menambahkan perlunya kajian khusus tentang ideologi Muhammadiyah di setiap PCM dan PRM.

Meski demikian, Suparno optimistis. Ia melihat secercah harapan dari generasi muda. Sosialisasi PHIWM terus dilakukan melalui perkaderan formal internal Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Nasyiatul Aisyiyah (NA). Materi PHIWM dimasukkan sebagai bagian penting dalam kurikulum Baitul Arqam, sebuah program perkaderan khas Muhammadiyah.

“Anak-anak muda ini adalah tumpuan masa depan. Kita tanamkan nilai-nilai PHIWM sejak dini agar mereka memiliki pegangan kuat,” kata Suparno, suaranya kini dipenuhi harapan.

“Kita ingin PHIWM tidak hanya menjadi pedoman di atas kertas, tapi mengalir dalam setiap napas kehidupan warga Muhammadiyah, baik dalam beribadah, berinteraksi, maupun berkarya.”

Kontributor: MPI PDM
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: