Krisis Karakter Generasi Muda, Dr. Bunyamin: 60 Persen Kunci Ada di Keluarga, Bukan Sekolah
Ngaliyan, muhammadiyahkotasemarangkota.org – Di tengah fenomena keresahan moral yang ditandai dengan maraknya tawuran, pornografi, dan lahirnya “generasi instan”, solusi utama ternyata tidak terletak di sekolah, melainkan di dalam rumah.
Pakar pendidikan Dr. H. Bunyamin, M.Pd. menegaskan, dengan porsi pengaruh mencapai 60%, keluargalah yang memegang peran paling vital dalam membentuk karakter anak. Hal ini jauh melampaui institusi sekolah dan lingkungan sosial yang masing-masing hanya berpengaruh 20%.
Penegasan tersebut menjadi sorotan utama dalam Pengajian Ahad Pagi PCM (Pimpinan Cabang Muhammadiyah) yang bertema “Membangun Karakter Islami Sejak Dini” di Gedung Dakwah PCM, Jalan Srikaton, Ahad (28/9/2025).
Menurut mantan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang itu, sikap saling menyalahkan antara orang tua, guru, dan pemerintah terkait krisis karakter yang terjadi tidak akan menyelesaikan masalah. Ia mengajak jemaah untuk kembali pada fondasi Islam yang menempatkan karakter sebagai bangunan kokoh yang esensial.
Tiga Pilar Karakter Kokoh
“Karakter yang kokoh itu ditopang oleh tiga pilar utama: akidah Islam yang sahih, ibadah yang bersandar pada sunah Nabi, dan kemuliaan akhlak dengan memuliakan orang lain,” tegas Dr. Bunyamin yang juga merupakan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, di hadapan para jamaah yang hadir.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa karakter Islami yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis bertujuan untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia (akhlakul karimah), bertanggung jawab, dan amanah. Karakter ini, menurutnya, berfungsi sebagai panduan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menjadi benteng pertahanan di era digital yang penuh tantangan.
Prinsip dasar dari karakter ini pun sederhana dan universal, mencakup respect (menghargai lawan bicara), empathy (ikut merasakan kondisi orang lain), audible (dapat didengar/dimengerti orang lain), dan humble (sikap rendah hati).
Sebagai penutup, Dr. Bunyamin mengingatkan bahwa tujuan akhir dari pembentukan karakter ini adalah untuk memenuhi esensi penciptaan manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT.
Dengan menanamkan karakter Islami sejak dini, diharapkan akan lahir generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual, bermartabat, dan disegani.