Di sebuah ruang pengajian sederhana, seorang anak muda membuka kitab tafsir. Ia membaca keras-keras ayat tentang keadilan. Di luar, di jalan yang sama, papan reklame menyala, menawarkan cicilan tanpa bunga untuk gawai terbaru. Dua dunia itu berhadapan.
Dan di antaranya, Muhammadiyah, organisasi yang sejak awal berdirinya mencoba menempatkan Islam sebagai panduan moral dalam modernitas, tiba-tiba menemukan dirinya di tengah pusaran kapitalisme yang kian tak terbendung.
Kapitalisme, kita tahu, bukan sekadar sistem ekonomi. Ia adalah sebuah peradaban dengan tata nilai yang menyelinap halus, menembus rumah, sekolah, bahkan masjid. Ia menjanjikan efisiensi, pertumbuhan, dan pilihan tanpa batas, tetapi juga menyisakan kegelisahan. Apakah semua itu sejalan dengan cita-cita awal Muhammadiyah yang didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan lebih dari seabad lalu?
Muhammadiyah sejak mula bukan gerakan antimodernitas. Ia justru memeluk modernisasi, mendirikan sekolah, rumah sakit, panti asuhan. Tetapi yang berbeda: modernisasi itu dibingkai oleh etika Islam. “Amar ma’ruf nahi munkar” bukan slogan kosong, melainkan kerangka kerja sosial. Kini, kapitalisme datang dengan bahasa modernitas yang lebih nyaring: kompetisi, privatisasi, dan konsumerisme.
Di kampus-kampus Muhammadiyah, mahasiswa mulai sibuk membangun start-up. Di sekolah-sekolahnya, sponsor korporasi masuk dengan iming-iming beasiswa dan teknologi. Bahkan di rumah sakitnya, sistem manajemen dipaksa mengikuti standar korporasi global. Semua terlihat wajar.
Tetapi, di balik itu ada tanda tanya: Apakah Muhammadiyah sedang melangkah ke arah lembaga bisnis raksasa, atau tetap menjadi gerakan dakwah sosial?
Bahaya kapitalisme, kata Max Weber, adalah “kandang besi” rasionalitas. Semua diukur dalam efisiensi, angka, dan laba. Apa yang tak memberi keuntungan segera dianggap mubazir.
Maka yang riskan: lembaga pendidikan Muhammadiyah bisa tergoda menjadikan murid sebagai “klien”, bukan sebagai amanah. Rumah sakitnya melihat pasien sebagai “pasar”, bukan mustahiq pelayanan sosial. Dakwahnya bisa tereduksi menjadi manajemen citra: menata merek, bukan menegakkan moral.
Tentu, Muhammadiyah tak bisa menutup diri. Dunia memang telah dikuasai kapitalisme global. Ia bahkan menyusup ke ruang ibadah: aplikasi donasi daring, dakwah di kanal YouTube yang dikejar algoritma, ceramah dipotong agar “ramah” bagi penonton singkat.
Tetapi, di titik inilah, tantangan itu menjadi ujian ideologis. Apakah Muhammadiyah masih mampu menjaga ruh Islam yang mencerahkan, ataukah ia akan larut menjadi salah satu pemain dalam “pasar agama”?
Sejarah menunjukkan bahwa organisasi keagamaan sering tergoda oleh kapitalisme. Gereja di Eropa abad pertengahan menjual indulgensi. Di Amerika kini, lahir “megachurches” dengan khotbah yang lebih mirip seminar motivasi dan rekening bank yang gemuk.
Apakah Muhammadiyah bisa menghindari jalan yang sama? Ataukah ia, dengan amal usahanya yang meluas, justru tanpa sadar sedang mengulang pola itu?
Kiai Ahmad Dahlan pernah mengajarkan murid-muridnya membaca ulang surat Al-Ma’un. Tentang anak yatim yang terlantar, tentang orang miskin yang diabaikan. Tafsir itu kemudian melahirkan sekolah-sekolah dan panti asuhan. Sebuah etika: jangan biarkan manusia ditelan oleh logika pasar yang dingin.
Tetapi kini, di abad ke-21, kapitalisme datang dengan wajah lebih lembut. Ia masuk ke kelas melalui gawai, ke rumah sakit lewat peralatan medis mutakhir, ke majelis taklim lewat sponsor.
Mungkin kapitalisme tidak bisa dihentikan. Tetapi ia bisa diarahkan. Pertanyaan itu kini mendesak: Sanggupkah Muhammadiyah menundukkan kapitalisme agar menjadi “alat dakwah”, bukan sebaliknya? Atau malah sebaliknya, kapitalisme yang menundukkan Muhammadiyah, menjadikan amal usaha tak lebih dari perusahaan besar dengan papan nama Islam?
Sebagian orang optimis. Muhammadiyah memiliki basis ideologis yang kuat, dengan tradisi intelektual yang panjang. Ia punya jaringan ulama, cendekiawan, aktivis yang kritis.
Tetapi, kita juga tahu, kapitalisme punya cara mengikis nilai tanpa terasa. Ia tak datang dengan palu, melainkan dengan kenyamanan. Murid yang dulu diajari hemat kini bangga memakai seragam mahal. Dosen yang dulu menekankan kesederhanaan kini mengejar proyek. Dan perlahan, tanpa disadari, amar ma’ruf menjadi jargon, bukan praksis.
Di sinilah, mungkin, relevansi “jihad kultural” yang kerap disuarakan. Jihad bukan sekadar melawan musuh luar, tetapi juga melawan godaan dalam: keinginan untuk nyaman, untuk makmur tanpa peduli lagi pada misi awal. Sebab kapitalisme bekerja dengan menawarkan mimpi, dan sering kita tertidur di dalamnya.
Muhammadiyah bisa runtuh bukan karena serangan ideologi asing, tetapi karena kehilangan jati dirinya. Ia bisa jadi besar, kaya, modern, tetapi hampa. Atau sebaliknya: ia bisa menjadikan kapitalisme sebagai kuda tunggangan, memanfaatkannya untuk memperluas dakwah, sambil tetap menambatkan pelana pada etika Islam.
Pilihan itu kini ada di tangan warga, terutama para pengurus Muhammadiyah. Di masjid-masjid, di kampus, di rapat-rapat pimpinan.
Dan sejarah akan mencatat: Apakah Muhammadiyah masih setia pada suara yatim yang dibacakan Kiai Ahmad Dahlan, ataukah ia akan sibuk mengejar angka laba dalam laporan tahunan.
Kapitalisme, seperti bayangan, tak bisa diusir. Tetapi kita bisa menentukan apakah ia akan menjadi sekadar bayangan yang meneduhkan, atau kegelapan yang menelan cahaya.