Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 6 menit baca

Keutamaan Berzikir (Bagian 3)

Drs. H. Danusiri, M.Ag

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Keutamaan Berzikir (Bagian 3)
Drs. H. Danusiri, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus, saat mengulas realitas sosiologis fenomena Munu dalam praktik keagamaan warga Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Tahukah kita, ada hamba-hamba Allah yang begitu diistimewakan, bahkan dibicarakan di hadapan para malaikat?

Hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini mengungkap bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan perhatian dan pengampunan khusus di antara kaum mukminin kepada mereka yang senantiasa menyebut, mengingat, memuji, dan mengagungkan-Nya. Keistimewaan ini menunjukkan betapa besar nilai majelis zikir di sisi-Nya. Simak penjelasan lengkapnya.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِيي الْأَرْضِ فُضُلًا عَنْ كُتَّابِ النَّاسِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى بُغْيَتِكُمْ فَيَجِيئُونَ فَيَحُفُّونَ بِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ اللَّهُ أَيَّ ششَيْءٍ تَرَكْتُمْ عِبَادِي يَصْنَعُونَ فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ يَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ وَيَذْكُرُونَكَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي فَيَقُولُونَ لَا فَيَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي فَيَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ لَكَانُوا أَشَدَّ تَحْمِيدًا وَتَمْجِيدًا وَذِكْرًا فَيَقُولُ فَأَيَّ شَيْءٍ يَطْلُبُونَ فَيَقُولُونَ يَطْلُبُونَ الْجَنَّةَ فَيَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ فَيَقُولُونَ لَا فَيَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا فَيَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا قَالَ فَيَقُولُ وَمِنْ أَيِّ شَيْءٍ يَتَعَوَّذُونَ فَيَقُولُونَ مِنْ النَّاارِ فَيَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا فَيَقُولُونَ لَا قَالَ فَيَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا فَيَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا هَرَبًا وَأَشَدَّ مِنْهَا خَوْفًا قَالَ فَيَقُولُ إِنِّي أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ قَالَ فَيَقُولُونَ فَإِنَّ فِيهِمْ فُلَانًا الْخَطَّاءَ لَمْ يُرِدْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ فَيَقُولُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Artinya:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang selalu berkeliling di muka bumi, dan membantu para malaikat penjaga manusia. Jika mereka mendapati suatu kaum yang berzikir kepada Allah, mereka memanggil teman-temannya seraya berkata: ‘Kemarilah terhadap apa yang kalian cari.’ Lalu mereka pun datang seraya menaungi mereka dengan sayapnya sehingga memenuhi langit bumi. Maka Allah berfirman, ‘Apa yang dikerjakan oleh hamba-Ku ketika kalian tinggalkan?’ Para malaikat menjawab: ‘Kami tinggalkan sedang mereka masih memuji, mengagungkan, dan berzikir kepada-Mu.’ Allah berfirman: ‘Apakah mereka melihat-Ku?’ Para malaikat menjawab: ‘Tidak.’ Allah berfirman: ‘Bagaimana sekiranya mereka melihat-Ku?’ Para malaikat menjawab: ‘Sekiranya mereka dapat melihat-Mu pasti mereka akan lebih dalam memuji, mengagungkan, dan berzikir kepada-Mu.’ Allah berfirman: ‘Lalu apa yang mereka harapkan?’ Para malaikat menjawab: ‘Mereka mengharapkan surga.’ Allah berfirman: ‘Apakah mereka telah melihatnya?’ Para malaikat menjawab: ‘Belum.’ Allah berfirman: ‘Bagaimana sekiranya mereka telah melihatnya?’ Para malaikat menjawab: ‘Jika mereka melihatnya tentu mereka akan lebih berkeinginan lagi dan antusias.’ Allah berfirman: ‘Lalu mereka berlindung dari apa saja?’ Para malaikat menjawab: ‘Dari api neraka.’ Allah berfirman: ‘Apakah mereka telah melihatnya?’ Para malaikat menjawab: ‘Belum.’ Allah berfirman: ‘Bagaimana jika seandainya mereka telah melihatnya?’ Para malaikat menjawab: ‘Tentu mereka lari dan lebih takut lagi.’ Beliau melanjutkan: Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.’ Para malaikat menjawab: ‘Sesungguhnya di antara mereka ada si fulan yang tidak akan datang kecuali karena suatu keperluan.’ Allah berfirman: ‘Mereka adalah suatu kaum yang majelis mereka tidak ada kesengsaraannya.’” (HR. Ahmad: 7117, 8350, 8614, Bukhari: 5929, Muslim: 4854, Ibnu Hibban: 857).

Hadis ini dapat dipahami bahwa:

Pertama. Allah memiliki malaikat khusus, semacam pasukan patroli, yang tugasnya mengawasi manusia. Sasaran mereka adalah majelis pezikir.

Kedua, jika menemukan ahlul zikir, malaikat kemudian membentangkan sayapnya dan menaunginya. Naungan itu bertumpuk berlapis membubung tinggi ke langit hingga sampai di hadirat Allah.

Ketiga, meskipun Allah Maha Tahu aktivitas ahlul zikir, Dia tetap menanyai hasil kerja Malaikat.

Keempat. malaikat melaporkan kegiatan ahli zikir. Isi laporannya adalah aktivitas: memuji, mengagungkan, dan berzikir, mengharapkan surga, dan selamat dari neraka.

Kelima, Allah mempersaksikan di hadapan Malaikat bahwa Dia mengampuni dosa-dosa ahlu zikir. Jika dosa telah diampuni, kelak surga pasti didapat dan neraka tidak menyentuhnya.

Keenam, orang yang tidak berzikir tetapi sedang berada di lingkungan halaqah dengan tujuan yang tidak terkait dengan aktivitas zikir, memperoleh keselamatan dari Allah juga. Jenis orang ini bisa dicontohkan orang yang sibuk mempersiapkan hidangan ba’da zikir.

Problematika Realisasi

Terdapat perbedaan pelaksanaan antara aturan teknis dan tradisi berzikir. Aturannya tidak bersuara. Pengecualian zikir takbiran di hari raya saja, tidak bersumber dari nash autentik. Nabi tidak pernah memimpin zikir berjamaah di masjid atau di tempat lain.

Kenyataan yang dapat disaksikan di sekeliling kita, bahwa ritual tahlilan secara berjamaah, koor, bersuara keras, bahkan hingga berjingkrak telah menjadi tradisi yang subur. Tradisi ini telah mencapai tahap apologis, yaitu tidak mempan oleh argumen pembenaran apa pun selagi berbeda dari tradisi mereka.

Maka, bagi yang benar-benar mukmin, hendaklah tetap istikamah melaksanakan zikir sesuai dengan syariat. Misalnya berzikir di masjid menunggu pelaksanaan salat berjamaah, iktikaf, atau sesudah melaksanakan salat berjamaah.

Zikir semacam ini tetap dalam halaqah, tetapi dilaksanakan secara munfarid (individual). Mengapa? Ya, seluruh keutamaan zikir, baik di dunia maupun di akhirat, dapat diunduh secara utuh.

Wallahu a’lamu bi ṣawâb.

Baca juga:

Keutamaan Berzikir (Bagian 1)

Keutamaan Berzikiir (Bagian 2)

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: