Mengapa praktik magis, dari ritual “sim salabim” hingga berbagai sesaji khas, masih begitu mengakar dalam nadi keberagamaan umat, bahkan di kalangan tokoh agama? Benarkah berdoa, yang sering kali dilakukan saat merasa lemah tak berdaya, setara dengan magis karena sama-sama bersifat irasional?
Artikel ini mengajak kita menyelami perbedaan mendasar antara keduanya, terutama dalam Islam, di mana hakikat berdoa justru menjadi kunci hubungan akrab yang melampaui batas dengan Yang Maha Tinggi.
Berdoa dan magis memiliki satu kesamaan: keduanya berada dalam ranah irasional dan muncul dari posisi mental yang merasa lemah. Namun, lebih dari itu, keduanya adalah dua entitas yang sangat berbeda.
Unsur magis umumnya mencakup tiga hal utama: irasionalitas, ritual “sim salabim” yang bersifat manipulatif, serta upaya memanipulasi kekuatan gaib. Disebut irasional karena tidak ada logika yang menghubungkan perbuatan dengan hasil yang diharapkan.
Sebagai contoh, dengan ritual khusus, seperti ucapan sim salabim, abra kadabra, rapal, mantra, atau praktik khas seperti mutih, ngrowot, apati geni, dan mbisu, seseorang berharap bisa kebal senjata, dagangan laris, orang lain jatuh cinta, meloloskan diri dari saringan pegawai, atau bahkan membuat pemimpin tunduk (kullu hajatin).
Agar praktik magis efektif, di samping adanya larangan atau tabu, juga diperlukan sesaji yang sangat khas untuk setiap hajat. Bentuk sesaji ini bisa bermacam-macam.
Pertama, sesaji umum (non-profil agama). Bentuk sesaji umum biasanya meliputi jajan pasar (segala jenis makanan yang dijual di pasar, sering kali berupa nasi dan lauk pauk dalam satu wadah bambu), kembang setaman (berbagai jenis bunga dalam satu wadah), dan asap kemenyan (dupa).
Sesaji jenis ini diperuntukkan kepada penunggu tempat yang dianggap wingit, angker, atau kepada tokoh yang diyakini sebagai cikal bakal, danyang, punden, atau muassisul qaryah. Setelah itu, barulah menggunakan formula atau ritual tertentu.
Kedua, sesaji profil tokoh agama Islam. Jika pengamal memiliki profil sebagai tokoh agama dalam Islam, sesajinya akan menggunakan aneka macam minyak, seperti minyak za’faron, mukhallad dubai, atau minyak misk. Di Jawa Barat, dikenal minyak Cimande, sementara di Suku Dayak, ada minyak racikan Bu Ida yang melegenda.
Asap kemenyan Arab biasanya menyertai ritual tertentu. Mereka beranggapan bahwa jika menggunakan kemenyan Arab, yang datang adalah ruh suci, misalnya para nabi, wali, Malaikat, atau jin wali. Sebaliknya, jika menggunakan dupa (kemenyan lokal), maka yang datang adalah dedemit seperti gendruwo, banaspati, Nyi Blorong, Kanjeng Ratu Kidul, dan Ki Tunggul Wulung.
Kadang kala, ritual magis secara sengaja menghadirkan setan yang berkarakter merusak (destruktif). Dalam praktik ini, salah satu unsur ritual bisa menggunakan daging ayam mentah, jeroan mentah, bulu-bulu (apa saja), atau darah segar.
Ironisnya, praktik magis ini benar-benar telah berakar dan berurat dalam nadi keberagamaan para agamawan tertentu. Umumnya, mereka sulit membedakan antara agama dan magis, bahkan meyakini bahwa ritual-ritual tersebut adalah bagian penuh dari agama.
Ketika menyadari bahwa aneka ritual itu masuk kategori magis, mereka masih mencoba memisahkan antara white magic dan black magic. White magic diklaim sepenuhnya agamis, meskipun kadang bersifat destruktif, misalnya mengirim pahala yang diharapkan dapat menghancurkan orang yang diduga pencuri.
Mengurai Praktik Magis
Dalam Islam, magis sering di-Arabkan dengan istilah wirid, dan kumpulan wirid semacam itu disebut ‘ilmul aurâd. Pemiliknya adalah para tokoh agama yang disebut wali, setengah wali, atau kiai khas.
Profil lahiriah mereka serba Islami: baju koko, gamis, kopiah, serban, dan parfum khas Timur Tengah. Hal ini berbeda dengan wong pinter (dukun, wong tuwo) yang secara lahiriah berbusana hitam, serba longgar, mengenakan iket kepala, dengan tampang sangar, dan kadang kukunya hitam serta panjang.
Pada dasarnya, baik white magic maupun black magic tidak ada kaitannya dengan ibadah yang unsur kesatuannya adalah iman dan beramal saleh. Keduanya bahkan tidak termasuk dalam kategori berdoa.
Doa Transenden
Berbeda dengan magis, dalam Islam, berdoa adalah inti dari beragama. Sebagaimana sabda Rasulullah: ad-du’au muḩul ‘ibâdah (“doa adalah otak ibadah”).
Setiap ritual ibadah, khususnya ibadah mahdlah (ibadah murni), intinya adalah berdoa. Bahkan zikir pun merupakan bentuk doa karena pelakunya mengharapkan fadlilah (keutamaan) dari Allah.
Berdoa selalu dilatarbelakangi oleh kesadaran diri yang merasa lemah dan tidak berdaya saat menghadapi kenyataan yang musykil (sulit) untuk dilaksanakan hanya dengan amal (usaha). Inti dari berdoa adalah memohon sesuatu.
Sesuatu yang diinginkan itu tidak dapat dimiliki karena ketiadaan alat tukar atau sarana untuk membayar. Itulah sebabnya yang dapat dilakukan hanyalah menengadahkan tangan kepada yang dimintai, baik itu sesama manusia maupun kepada Allah yang diyakini Maha Pemberi.
Di sinilah letak perbedaan fundamental antara magis dan berdoa. Kesadaran dalam berdoa adalah mentransendensikan diri kepada sesuatu yang transcendence.
Arti dari transcendence adalah to climb over (memanjat di atas ujung), yang bermakna di atas yang paling atas. Dalam Islam, sesuatu yang paling atas adalah Allah Ta’ala.
Makna Ta’âla adalah Yang Maha Tinggi. Jadi, makna Allâh Ta’âla adalah Allah Yang Maha Tinggi. Oleh karena itu, suatu saat Nabi Muhammad pernah berdoa menghadap ke atas, mengangkat tangannya hingga ketiak putihnya terlihat oleh sahabat yang menyertainya.
Jika dibandingkan dengan agama-agama di dunia, hubungan antara manusia dengan yang dipertuhankan, yaitu Allâh Ta’âla, sangat intim, seperti hubungan antar teman akrab.
Ketika berdoa, manusia menyapa nama Tuhan secara langsung, dalam istilah Jawa disebut jangkar, tanpa didahului gelar-gelar kehormatan tertentu. Misalnya, tidak menggunakan sapaan seperti kanjeng, Gusti, Bapa, Baginda, Bathara, oracle, dan sapaan yang berlaku di agama-agama non-Islam.
Saat memohon ampunan, baik menggunakan bahasa Arab maupun terjemahannya, sapaan yang digunakan tetap bersifat jangkar. Contohnya: Allâhummaghfirli. Terjemahannya: “Allah, atau Ya Allah, ampunilah aku”.
Dalam bahasa Jawa, sapaannya adalah “Ya Allah, kulo nyuwun pangapuro“. Meskipun menggunakan bahasa kromo (halus dan menghormati senior), cara penyebutan nama Allah tetap jangkar (langsung). Bahkan sambil menangis sekalipun, aturan standarnya tetap njangkar (menyapa langsung).
Begitu pula ketika memohon kemurahan rezeki, formulanya: Yâ Razzâq, urzuqnî. Terjemahahannya: “Wahai pemberi rezeki, berilah rezeki aku”.
Ketika berdoa diawali dengan Yâ, maknanya adalah “hai” atau “wahai”. Secara manusiawi, yang diseru seakan lebih yunior daripada penyeru. “Yâ Allâh,” maknanya “Wahai Allah” atau “Hai Allah” atau “He, Allah.”
Pelajaran yang diperoleh dari Allah adalah bahwa cara menyeru dan memohon kepada-Nya ditentukan oleh Allah sendiri, yaitu dengan menyebut nama-Nya secara langsung. Hal ini menunjukkan betapa akrabnya hubungan antara manusia dengan Tuhannya.
Oleh karena demikian akrabnya hubungan antara manusia dengan Allah, sungguh bodoh jika sampai manusia mengutamakan magis, wirid, atau berbagai amalan (ritual) non-syariat, sementara ia tidak yakin dan percaya diri mengenai kedekatannya untuk menjalin hubungan intim kepada Allah.
Allah senantiasa membuka diri untuk didekati, dimintai, dan di-tawajjuhi (dihadapkan hati kepadanya).
Wallâhu A’lamu bi ṣawâb.