Kesabaran dan Keistiqamahan Jadi Kunci Keimanan Sejati
SEMARANG SELATAN, muhammadiyahkotasemarang.org – Menjadi hamba yang istiqomah dan sabar bukan perkara mudah, apalagi di tengah kehidupan yang penuh ujian. Pesan inilah yang disampaikan Ustadz Amiril Edi Pranomo, S.HI., M.H Pembina rohani RS Roemani., saat mengisi khutbah Jumat (10/10/2025) di Masjid Husnul Khatimah, Wonodri Semarang.
Dengan suara tenang namun penuh penekanan makna, ia mengajak jamaah untuk menapaki jalan ibadah dengan niat yang ikhlas dan tekad yang teguh. “Amal tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan,” kutipnya dari hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Ujian, Iman, dan Makna Kesabaran
Dalam khutbahnya, Ustadz Amiril menegaskan bahwa setiap manusia pasti akan diuji oleh Allah SWT. Ujian itu bukan bentuk hukuman, tetapi sarana untuk menilai seberapa kuat keimanan dan ketulusan ibadah seseorang.
Ia menjelaskan, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 155, ujian hidup bisa berupa ketakutan, kekurangan harta, hingga kehilangan orang yang dicintai. Namun, bagi mereka yang sabar dan istiqomah, Allah menjanjikan rahmat dan ampunan yang luas.
Beliau mengingatkan jamaah untuk tidak mudah goyah ketika cobaan datang. Iman sejati, katanya, justru diuji ketika seseorang tetap beribadah dan bersabar dalam situasi sulit. “Orang yang istiqomah tidak meninggalkan perintah Allah meski sedang diuji,” ujarnya.
Khutbah Jumat kali ini juga menyoroti pentingnya menjaga istiqomah dalam setiap aspek kehidupan. Menurut Ustadz Amiril, istiqomah bukan hanya berarti konsisten beribadah, tetapi juga tetap teguh menjalankan perintah Allah tanpa tergoda oleh urusan dunia.
Ia menyinggung bahwa banyak orang lalai karena disibukkan oleh harta, jabatan, atau kesibukan duniawi. “Siapa yang sibuk dengan hartanya hingga melalaikan shalat, maka ia akan bersama Qarun. Siapa yang sibuk dengan kekuasaan hingga lalai dari Allah, maka ia akan bersama Haman,” tuturnya menegaskan.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa istiqomah adalah bentuk ketundukan total kepada Allah, bukan hanya dalam ibadah formal, tapi juga dalam kejujuran, kesabaran, dan cara menghadapi kehidupan.
Ustadz Amiril juga mengajak jamaah untuk melihat musibah sebagai bentuk kasih sayang Allah, bukan sekadar ujian berat. Dalam pandangannya, musibah dapat menjadi sarana membersihkan hati dari kesombongan dan menumbuhkan keikhlasan.
“Musibah membangun keimanan dan mendekatkan manusia kepada Allah. Dari situ, kita belajar bahwa sabar adalah bentuk tertinggi dari tawakal,” jelasnya.
Khutbah Jumat diakhiri dengan doa agar umat Islam senantiasa diberi kekuatan untuk istiqomah dan sabar dalam menjalani ibadah.
Suasana khusyuk terasa ketika jamaah menundukkan kepala, merenungi pesan yang baru saja disampaikan.
Khutbah ini menjadi pengingat lembut bahwa dalam setiap langkah kehidupan, ada ruang untuk memperbaiki diri, memperkuat niat, dan memperdalam keikhlasan. Seperti pesan Ustadz Amiril, “Orang beriman akan diuji, tapi dari ujian itulah iman menjadi nyata.”
Melalui khutbah ini, Masjid Husnul Khatimah kembali menjadi tempat lahirnya renungan dan keteguhan iman tempat di mana kesabaran dan istiqomah diuji, dipupuk, dan dikuatkan.