Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Transformasi Masjid: Dari Ruang Ibadah Jadi Pusat Solusi Hidup Umat

10 November 2025, 11:05 WIB 3 menit baca
Transformasi Masjid: Dari Ruang Ibadah Jadi Pusat Solusi Hidup Umat
Screenshot

NGALIYAN,muhammadiyahkotasemarang.orgPernahkah terbayang jika masjid di dekat rumahmu bukan hanya tempat untuk shalat, tapi juga menjadi tempat pertama yang kamu tuju saat butuh solusi masalah ekonomi, atau bahkan saat anakmu butuh pekerjaan? Gagasan inilah yang sedang hangat digaungkan: menjadikan masjid solusi umat dalam arti yang sebenarnya.

Bukan sekadar wacana, semangat inilah yang dibawa oleh Lembaga Pengembangan Masjid dan Mushola (LPMM) Kota Semarang saat bertandang ke Masjid At Taqwa Wates, Ngaliyan. 

Selama tiga hari penuh, dari Kamis hingga Sabtu (6-8/10/25), para ahli dari LPMM Jawa Tengah dan Semarang duduk bersama takmir masjid tersebut. Agendanya bukan sekadar evaluasi rutin, melainkan sebuah refleksi mendalam untuk memproyeksikan Masjid At Taqwa menjadi pusat keunggulan yang nyata.

Selamat Tinggal “One Man Show”

Dr. H. Suwardi M.M., Ketua LPMM Kota Semarang, berbagi pandangan menarik. Menurutnya, era di mana satu orang pengurus masjid mengurus semuanya mulai dari imam, muadzin, sampai urusan kran bocor sudah harus ditinggalkan.

“Masjid zaman now butuh manajemen masjid modern. Strukturnya harus rapi seperti organisasi profesional. Bayangkan kalau urusan IT dipegang ahlinya, lalu penggalangan dana (fundraising) dikelola oleh mereka yang paham strategi keuangan, pasti dahsyat hasilnya,” ujarnya dengan antusias.

Perubahan pola pikir atau mindset ini adalah kunci. Tujuannya agar masjid tidak hanya ‘meminta’ dari jamaah, tapi justru ‘memberi’ lebih banyak. Inilah inti dari visi masjid makmur memakmurkan.

Menjawab Kebutuhan Riil: Dari Perut hingga Karir

Yang paling menarik dari pendampingan ini adalah dorongan agar masjid menyentuh aspek konkret kehidupan. Dr. Suwardi mencontohkan bagaimana aset masjid bisa disulap menjadi unit bisnis produktif, seperti pertanian atau perikanan, yang hasilnya kembali ke umat.

Lebih jauh lagi, masjid didorong untuk berperan aktif menyiapkan masa depan anak muda. “Masjid harus dinamis. Kita bisa siapkan anak-anak kita masuk dunia kerja lewat jaringan jamaah yang sudah sukses berbisnis, atau malah menciptakan lapangan kerja baru dari unit usaha masjid itu sendiri,” tambahnya.

Resonansi Kebaikan Masjid

Gayung pun bersambut. Ketua Takmir Masjid At Taqwa Wates Ngaliyan, Prof. Ahwan Fanani M.Ag., merasa mendapatkan energi baru dari pendampingan ini. Ia mengakui bahwa tantangan masyarakat kini makin kompleks, dan masjid harus hadir dengan program unggulan yang relevan, termasuk merangkul ide-ide segar dari kaum muda.

Transformasi di Masjid At Taqwa ini diharapkan bukan hanya berhenti di Wates, tapi menjadi gelombang resonansi kebaikan bagi masjid-masjid lain di bawah naungan PDM Kota Semarang.

Pada akhirnya, ketika masjid benar-benar berfungsi sebagai pusat peradaban, ia akan menjadi oase yang sesungguhnya. Bukan tidak mungkin, di masa depan, kalimat “ada masalah, ayo ke masjid” akan menjadi solusi paling logis bagi setiap persoalan hidup kita.

Baca juga : Bukan Cuma Mengaji, Santri Muhammadiyah di Semarang Juga Dilatih Menguasai AI

Kontributor: Tim Media At Taqwa Wates
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: