Rezeki sudah diatur, Hanya Butuh Iman dan Ikhtiar untuk Menjemputnya
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Siapa di antara kita yang tak pernah gelisah memikirkan rezeki? Tentang apakah hari esok masih bisa makan, apakah usaha akan membuahkan hasil, atau apakah hidup akan selalu cukup? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi renungan utama dalam Kajian Ahad Pagi PCM Tembalang 1 yang digelar di Aula Lantai 1 Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jateng, Kompleks UNIMUS, pada Ahad (09/11/2025).
Lewat tema “Ajaran Islam Tentang Rezeki di Dunia”, Ustadz Muchtar Arifin Sholeh, M.Lib, Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) mengajak jamaah untuk menenangkan hati.
Sebab, rezeki sejatinya bukan sesuatu yang perlu dikejar dengan cemas, melainkan dijemput dengan iman dan ikhtiar. Dalam pandangannya, setiap manusia telah dijamin rezekinya oleh Allah SWT, bahkan sebelum ia lahir ke dunia.
Dalam pandangan islam, rezeki jauh lebih luas bisa berupa kesempatan berbuat baik, kesehatan, ketenangan hati, hingga keluarga yang salih. Semua itu adalah wujud kasih sayang Allah yang tidak selalu berwujud materi.
Menjemput Rezeki dengan Ikhtiar Halal dan Hati Bersih
Dalam pemaparannya, Ustadz Muchtar menekankan pentingnya mencari rezeki melalui jalan yang halal dan thayyib bersih, baik, dan bermanfaat. Ia mengingatkan bahwa rezeki tidak datang hanya dari usaha semata, melainkan juga melalui amal saleh dan ketaatan.
“Allah bisa memberikan rezeki lewat banyak pintu,” jelasnya, seraya menyebutkan beberapa cara mendatangkan rezeki seperti bersedekah, bersyukur, memperbanyak istighfar, hingga menikah. Semua itu, katanya, adalah bentuk ikhtiar spiritual yang menyuburkan keberkahan dalam hidup.
Jamaah pun tampak antusias, terutama saat pembahasan tentang “Rezeki Tak Terduga” yang diambil dari QS. At-Thalaq ayat 2–3. Ustadz Muchtar menjelaskan bahwa ayat ini menjadi bukti nyata betapa luasnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa siapa pun yang bertakwa akan diberikan jalan keluar dari setiap kesulitan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Ia menuturkan bahwa makna “rezeki tak terduga” bukan semata datangnya uang atau kesempatan besar secara tiba-tiba, melainkan juga berupa kemudahan yang Allah hadirkan dalam langkah-langkah kecil kehidupan kita.
Bisa jadi dalam bentuk kesehatan yang membaik, pertemuan dengan orang baik, atau bahkan jalan yang dimudahkan ketika hati sedang sempit.
“Kadang kita menganggap rezeki itu harus berupa uang, padahal doa yang dikabulkan, hati yang tenang, atau masalah yang akhirnya terselesaikan juga bagian dari rezeki,” terangnya dalam penjelasan yang membuat jamaah mengangguk setuju.
Lebih lanjut, penceramah menekankan bahwa kunci dari rezeki tak terduga itu ada pada ketakwaan dan keyakinan. Sering kali manusia terlalu sibuk menghitung usaha, tapi lupa menghitung doa dan rasa syukur.
“Kalau kita yakin dan berserah diri pada Allah, maka apa pun yang datang pasti yang terbaik, meski bentuknya tidak selalu seperti yang kita harapkan,” imbuhnya.
Rezeki Sebagai Ujian dan Amanah
Lebih lanjut, Ustadz Muchtar menegaskan bahwa rezeki sejatinya bukan hanya bentuk kenikmatan, tetapi juga amanah yang mengandung ujian.
Setiap manusia memiliki porsi rezeki yang berbeda, namun semuanya mengandung tanggung jawab yang sama: bagaimana cara mensyukuri dan mengelolanya dengan bijak.
Mereka yang diberi kelapangan harta diuji dengan rasa syukur, agar tidak terjerumus dalam kesombongan dan kelalaian. Sementara mereka yang diberi keterbatasan justru sedang ditempa untuk bersabar dan memperkuat keimanan.
Dalam pandangan Islam, keseimbangan inilah yang menjaga manusia tetap berpijak di jalan tengah tidak terlena oleh nikmat, dan tidak pula berputus asa karena kekurangan.