Kematian Bukan Akhir, Ini 3 Pilar Sabar yang Wajib Dikuasai Umat
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org– Kematian bukanlah akhir, melainkan permulaan kehidupan abadi. Pandangan teologis ini menjadi inti pesan yang disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Prof. Dr. Ahwan Fanani, dalam Pengajian Tashabur di rumah duka almarhum Agung Satrio Prakoso, jemaah Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bringin, di Komplek Permata Puri Ngaliyan, Semarang, Ahad (30/11/25).
Di hadapan pelayat jemaah PRM, para tetangga, serta perangkat lingkungan, Prof. Ahwan Fanani menekankan bahwa orang beriman yang meninggal dunia akan mendapatkan pertolongan melalui amal dan syafaat, terutama bagi mereka yang terbiasa mengucapkan kalimat syahadat.
Ia menegaskan bahwa kunci untuk mendapatkan kebahagiaan sejati adalah orang yang mengucapkan “Laa Ilaha Illallah” dalam hati dan jiwanya.
“Bagi orang beriman, meninggal itu bukan akhir. Di dalam mati juga ada kehidupan, baik di alam barzah maupun di alam lainnya,” ujar Prof. Ahwan, memberikan penguatan hati kepada keluarga duka terkait kematian bukanlah akhir.
Sabar Menghadapi Takdir
Prof. Ahwan Fanani secara khusus menyoroti pentingnya kesabaran (sabar) bagi keluarga yang ditinggalkan. Menurutnya, ta’ziah atau tashabur (menghibur) bertujuan untuk mensabarkan dan memberikan keteguhan hati kepada keluarga agar tidak merasa sendirian dalam menghadapi takdir ini.
Dalam ajaran Islam, sabar tersebut memiliki tiga pilar utama yang wajib diterapkan dalam kehidupan, termasuk saat duka melanda. Pertama adalah Sabar ‘ala Thoa’ah, yaitu keteguhan dalam menjalankan ketaatan dan perintah Allah, seperti salat dan ibadah lainnya.
Kedua, dan yang relevan dengan momen ini, adalah Sabar ‘ala Musibah, yaitu ketabahan dalam menghadapi cobaan atau peristiwa duka, termasuk kematian.
Terakhir, umat juga harus menerapkan Sabar ‘ala Maksiat, yakni menahan diri untuk tidak melakukan kemaksiatan atau hal yang dilarang Allah.
“Musibah [kematian] adalah sesuatu yang keras ditangkap. Oleh karena itu, kita harus sabarkan, kita hibur, karena makna dari ta’ziah adalah menghibur dengan mensabarkan,” tegasnya.
Kesaksian Ketua RW: Almarhum Aktif sebagai Ketua RT
Keramaian pelayat dalam pengajian ini mencerminkan kuatnya ikatan sosial almarhum Agung Satrio Prakoso, yang di samping sebagai jemaah PRM, juga aktif sebagai Ketua RT di lingkungan setempat. Kesaksian tentang kebaikan almarhum disampaikan langsung oleh Ketua RW 11, Hunus, yang turut hadir dalam tashabur tersebut.
“Almarhum adalah orang yang baik dan sangat aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Aktivitasnya di masyarakat sangat terasa, apalagi dengan perannya sebagai Ketua RT,” ujar Hunus di lokasi.
Solidaritas kuat ini, yang terdiri dari jemaah dan seluruh tetangga, menunjukkan betapa Almarhum dihormati dan dicintai di lingkungannya.
Menguatkan suasana solidaritas tersebut, Prof. Ahwan Fanani mengingatkan audiens akan tanggung jawab duniawi yang harus diselesaikan. Ia meminta keluarga memastikan agar segala tanggungan, utang, atau kewajiban almarhum diselesaikan atau diikhlaskan.
“Tujuan dari tashabur ini adalah agar yang punya tanggungan [utang/kewajiban] bisa diikhlaskan. Ini sangat penting agar yang meninggal tidak punya beban,” terangnya.
Ia kemudian mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan almarhum agar diberikan tempat terbaik, diberikan cahaya kubur, dan dibangkitkan bersama orang-orang saleh dan salihah.
Baca juga: