Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Ketika Langit Mendung Tak Lagi Membawa Tawa: Kiriman Rahmat atau Sinyal Marabahaya?

5 Desember 2025, 18:13 WIB 3 menit baca
Ketika Langit Mendung Tak Lagi Membawa Tawa: Kiriman Rahmat atau Sinyal Marabahaya?

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org  – Aroma tanah basah yang tersiram air hujan biasanya memantik rasa rindu dan kenyamanan. Namun, belakangan ini, suara gemuruh petir dan derasnya air langit justru lebih sering memicu detak jantung yang lebih kencang karena rasa waswas. 

Pemandangan air yang meluap hingga merendam permukiman seolah mengubah wajah hujan yang semula sahabat menjadi ancaman yang menakutkan. Fenomena inilah yang menjadi sorotan utama dalam Khutbah Jumat Masjid At Taqwa Wates Ngaliyan, Jumat (05/12/25).

Antara Berkah dan Teguran Tuhan

Ustadz Ananto Tri P, S.Pd, selaku Kabid Dakwah dan Pendidikan Masjid At Taqwa Wates Ngaliyan, membuka wawasan jamaah tentang dua wajah air dalam kehidupan manusia. Ia mengajak ratusan jamaah yang hadir untuk merenung; air sejatinya adalah tanda kebesaran Allah yang menghidupkan bumi yang mati. 

Dalam khutbahnya, Ustadz Ananto memberikan filosofi mendalam mengenai keberadaan air, “Air menjadi sesuatu yang paling mahal ketika hilang, dan paling remeh ketika melimpah. Bila ia lenyap, menyusut, atau manusia tidak mampu mendapatkannya, bumi kehilangan kesegarannya, buah-buahannya hilang, hewan ternaknya binasa, dan warnanya menjadi pucat.”

Namun, elemen yang sama ini memiliki potensi kekuatan destruktif yang dahsyat ketika manusia gagal menjaganya. Dalam sejarah peradaban manusia, air pernah menjadi tentara Allah yang menenggelamkan kesombongan Fir’aun dan kaum Nabi Nuh yang ingkar. 

Kecemasan Rasulullah Saat Awan Gelap Datang

Dalam penyampaiannya yang menyentuh hati, Ustadz Ananto menceritakan sebuah riwayat menarik tentang respons Nabi Muhammad SAW terhadap cuaca. Berbeda dengan kita yang mungkin bersorak girang saat mendung datang karena cuaca menjadi sejuk, Rasulullah justru memperlihatkan raut wajah khawatir. 

Rasulullah takut jika awan tebal tersebut membawa azab, seperti yang pernah menimpa kaum ‘Ad. Kekhawatiran itu baru sirna dan berganti senyum lega ketika hujan benar-benar turun membasahi bumi dengan membawa manfaat. Sikap ini mengajarkan kita untuk selalu mawas diri dan tidak merasa aman dari peringatan Tuhan.  

Alam Rusak, Bencana Mengintai

Lebih jauh, khatib menyoroti ironi perilaku manusia modern terhadap lingkungan. Seringkali kita mengeluhkan banjir bandang atau tanah longsor, padahal tangan-tangan manusialah yang merusak keseimbangan alam itu sendiri. Penebangan pohon secara liar menghilangkan fungsi akar sebagai penahan tanah dan penyerap air alami.

Ustadz Ananto menyampaikan pesan tegas terkait hal ini, “Janganlah kita biarkan orang-orang merusak alam dengan menebang pohon sembarangan atau mengambil hasil hutan tanpa kendali. Pohon-pohon yang ditebang itu sejatinya adalah benteng alami yang menahan air dan melindungi lingkungan kita. Jika benteng itu hilang, maka kerusakan menyebar dan musibah semakin mudah terjadi.”

Solidaritas di Tengah Musibah

Menutup khutbahnya, Ustadz Ananto mengajak jamaah Masjid At Taqwa Wates Ngaliyan untuk membangun solidaritas sosial. Bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai daerah merupakan panggilan kemanusiaan bagi kita yang masih aman. 

Ia menekankan bahwa bantuan tidak melulu soal uang; tenaga, pikiran, dan doa yang tulus juga merupakan bentuk sedekah terbaik. Kita perlu bahu-membahu meringankan beban para korban sebagai wujud nyata persaudaraan umat Islam.  

Ia juga memberikan kabar gembira yang menyejukkan hati bagi keluarga korban bencana agar tetap tabah, sebagaimana beliau sampaikan, “Syahid memiliki tingkatan-tingkatan, dan orang yang meninggal karena tenggelam atau tertimpa bangunan termasuk syahid akhirat, yakni mendapatkan pahala syahid”, pungkasnya.  

Baca juga : Bawa 4 Armada Khusus, Muhammadiyah Jateng Siap Terjang Medan Sulit Bencana Tapanuli

Kontributor: Tim media masjid At Taqwa Wates
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: