Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Saat Alam Berbicara, Lalu Kita Masih Diam?

6 Desember 2025, 14:02 WIB 2 menit baca
Saat Alam Berbicara, Lalu Kita Masih Diam?

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Di tengah derasnya berita banjir, longsor, dan gempa yang silih berganti menimpa berbagai wilayah Indonesia, Masjid Jami’ Jatisari Mijen menjadi ruang renungan yang menghadirkan suasana berbeda pada Jumat (05/12/2025). Para jamaah duduk rapat, menyimak khutbah yang langsung menyorot kenyataan paling dekat yakni bencana tidak datang tiba-tiba, selalu ada pesan yang perlu dibaca.

Dr. H. Krat. AM. Juma’i, S.E., M.M., Ketua LDK PWM Jawa Tengah, mengawali khutbah dengan gambaran Indonesia negeri yang penuh anugerah, namun juga tempat berbagai musibah seolah berulang tanpa jeda. Dari rumah yang hanyut, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, hingga nyawa yang tak sempat diselamatkan.

Musibah dan Pesan di Baliknya

Dalam pemaparannya, sang khatib menjelaskan bahwa musibah bukan sekadar gelombang air atau guncangan tanah.

Banyak peristiwa terjadi karena ulah manusia sendiri mulai dari hutan yang gundul, gunung dipangkas, sungai dijadikan tempat sampah, hingga tambang ilegal yang merusak ekosistem.

Mengutip firman Allah pada QS Ar-Rum ayat 41, ia menegaskan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia…” 

Kerusakan alam, menurutnya, adalah bentuk teguran agar manusia berhenti merasa paling berkuasa atas bumi. Musibah juga menjadi ujian keimanan menguji kesabaran, sekaligus menghidupkan kepedulian sosial.

Jangan Jadi Orang Baik yang Diam

Dalam bagian khutbah yang paling menekan hati, sang khatib menjelaskan bahwa bencana tidak hanya terjadi karena faktor alam, tetapi juga akibat kelalaian manusia ketika membiarkan berbagai bentuk kerusakan tanpa upaya untuk mencegahnya.

Fenomena itu menggambarkan bagaimana kemungkaran yang dibiarkan tumbuh justru memperbesar dampak musibah dan bisa menimpa seluruh masyarakat.

Ia juga menegaskan bahwa musibah sejatinya hadir sebagai pengingat agar manusia berhenti merusak bumi, kembali kepada nilai ketakwaan, serta memperbaiki hubungan dengan lingkungan dan sesama.

“Musibah adalah seruan agar manusia berhenti berbuat kerusakan, kembali kepada Allah, dan memperbaiki hubungan dengan lingkungan maupun sesama.” Tegasnya

Pesan tersebut bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk mengajak umat lebih peka, lebih aktif, dan tidak lagi menjadi “orang baik yang pasif” ketika kerusakan terus terjadi di sekitar mereka.

Jamaah diajak memandang musibah sebagai dorongan untuk memperbaiki diri, menumbuhkan solidaritas, dan menjaga amanah sebagai khalifah di bumi.

Seruan itu mengingatkan bahwa bangsa ini membutuhkan semakin banyak orang baik yang berani bergerak, bukan hanya ikut bersedih ketika bencana sudah datang.

Baca Juga :

Menembus Banjir, Membawa Harapan: Puluhan Relawan Muhammadiyah Rela Tinggalkan Keluarga demi Sumatera

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: