Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Belajar dari PRM Unggulan di Desa Krakitan Klaten, Kelola 26 Masjid dan 39 Tanah Wakaf

7 Desember 2025, 16:09 WIB 2 menit baca
Belajar dari PRM Unggulan di Desa Krakitan Klaten, Kelola 26 Masjid dan 39 Tanah Wakaf

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Tidak semua inspirasi datang dari panggung besar. Kadang, ia tumbuh dari desa yang tampak biasa, tetapi bekerja dengan kesungguhan luar biasa. Itulah yang dirasakan rombongan PRM Pudakpayung ketika menginjakkan kaki di Desa Krakitan, Bayat, Klaten, pada Ahad (7/12/2025). Mereka datang bukan sebatas bersilaturahmi, tetapi belajar dari salah satu PRM paling progresif di Indonesia PRM Krakitan, peraih peringkat kelima pada Cabang dan Ranting Muhammadiyah Award 2025.

Berlokasi di MTS Muhammadiyah Program Khusus Bayat, rombongan disambut hangat oleh PRM Krakitan bersama PRA Krakitan 1 dan PRA Krakitan 2. Suasana sederhana, namun penuh semangat, menjadi awal dari rangkaian pembelajaran yang ingin dibawa Pudakpayung menuju target mereka tahun 2028.

Desa yang Bergerak, Bukan Menunggu

Ada alasan besar mengapa Pudakpayung memilih Krakitan sebagai tempat studi tiru. Krakitan mungkin hanya desa, tetapi gerakannya jauh melampaui batas geografisnya.

Ketua PRM Pudakpayung, Nur Sodiq, menyampaikan kekagumannya tanpa ragu.

“Keberhasilan PRM Krakitan menjadi terbaik kelima di tingkat nasional memantik kami untuk bisa belajar ke tempat ini. Bagi kami PRM Krakitan relevan untuk diikuti sebagai percontohan sesuai dengan target kami,” ujarnya.

Salah satu kekuatan terbesar Krakitan adalah kelola wakafnya. Bayangkan, 26 masjid berada di bawah naungan PRM semua aktif, semua memiliki kajian rutin, dan semua dikelola mandiri.

Wakil Ketua PRM Krakitan, Tugiran, menjelaskan inti strateginya.

“Korps Mubaligh Muhammadiyah kami orbitkan untuk mengisi pengajian di masjid-masjid kami. Karena bagi kami jantung pergerakan Muhammadiyah adalah pengajian. Terlebih lagi pengajian tersebut harus kita isi dari mubaligh-mubaligh kita sendiri,” terangnya.

Dari Limbah Plastik hingga Kebun Wakaf

Tidak hanya kuat dalam dakwah, Krakitan juga kreatif dalam pemberdayaan umat. Mereka menjalankan program yang menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung yakni

Pertama pinjaman tanpa bunga berbasis kas masjid, kedua adanya pengelolaan sampah plastik untuk kemandirian jamaah, ketiga pemanfaatan tanah wakaf sebagai kebun pisang produktif

Dan yang mengejutkan, Krakitan mencatat rekor tersendiri: 39 bidang tanah wakaf berhasil mereka kelola terbanyak di Kabupaten Klaten.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa penguatan ranting tidak harus menunggu anggaran besar atau fasilitas perkotaan. Yang dibutuhkan adalah komitmen, kerja kolektif, dan kecerdikan membaca potensi lokal.

Studi tiru ini bukan sekadar perjalanan sehari. Bagi PRM Pudakpayung, ini adalah peta jalan menuju 2028, tahun ketika mereka ingin tampil sebagai PRM unggulan.

Krakitan membuktikan bahwa desa kecil pun bisa menorehkan cerita besar bagi gerakan Muhammadiyah.

Kontributor: Burhan Robbany
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: