Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Mengurai Benang Kusut Trauma: Catatan Penting Aisyiyah Semarang dari Forum DPD RI

8 Desember 2025, 14:51 WIB 3 menit baca
Mengurai Benang Kusut Trauma: Catatan Penting Aisyiyah Semarang dari Forum DPD RI

SEMARANG TIMUR, muhammadiyahsemarangkota.org – Di balik citra ketangguhan seorang ibu atau wanita karier, sering kali tersimpan lapisan kelelahan yang tak terucap. Realitas inilah yang mendorong Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Semarang, Aminah Kurniasih S.Pd., M.Pd., untuk hadir langsung di tengah diskusi hangat di Kampus 4 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Jalan Gajah Raya, pada Sabtu (7/12/2025).  

Aminah tidak datang sendiri. Ia didampingi oleh lima srikandi Aisyiyah lainnya, yakni Purwanti, Minang, Fitri, Hetty, dan Indah, untuk menyelami isu yang kerap dianggap tabu namun vital bagi kelangsungan keluarga.  

Mereka membaur bersama sekitar 375 peserta lain dari berbagai kalangan, mulai dari aktivis komunitas, akademisi, hingga praktisi kesehatan, dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang diinisiasi oleh Sekretariat Jenderal DPD RI.  

Sorotan Tajam pada Beban Ganda

Kehadiran Aminah dalam forum bertajuk “Menyingkap Beban Ganda dan Trauma: Eksplorasi Mendalam Kesehatan Mental Perempuan” ini menyiratkan pesan kuat mengenai kepedulian Aisyiyah.  

Dalam pandangannya terhadap jalannya diskusi, Aminah Kurniasih menilai bahwa forum seperti ini sangat krusial karena perempuan sering kali terjebak dalam ekspektasi untuk tampil sempurna, baik di ranah domestik maupun publik, yang berujung pada pengabaian kesehatan mental mereka sendiri.  

Perspektif ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dalam sambutannya.

GKR Hemas menegaskan bahwa modernisasi justru kerap memaksa perempuan memikul beban ganda. Mereka tidak hanya dituntut menjadi pengelola rumah tangga yang piawai, tetapi juga pekerja profesional yang kompetitif.  

Situasi ini, menurut GKR Hemas, menciptakan tekanan psikologis hebat yang menjebak perempuan dalam siklus stres dan kelelahan kronis tanpa ujung.  

Ancaman Digital dan Kelelahan Biologis

Diskusi yang dibuka oleh Ketua PGRI Jawa Tengah sekaligus anggota DPD RI, Dr. H. Muhdi, S.H., M.Hum., ini semakin mendalam ketika para pakar mulai membedah satu per satu akar masalah trauma perempuan.  

Fakta mengejutkan terungkap dari paparan Mikewati Vera Tangka, Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia. Ia membuka mata para peserta tentang sisi gelap dunia digital.  

Ternyata, ruang maya yang seharusnya memudahkan, justru menjadi ladang baru bagi trauma melalui cyber-bullying, doxing, hingga pelecehan berbasis gender yang bisa memicu depresi berat dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).  

Tak hanya faktor eksternal, kerentanan internal juga menjadi sorotan. Dr. Arri Handayani, seorang psikolog, mengingatkan bahwa tumpukan kewajiban sosial dan pekerjaan bisa mengacaukan keseimbangan hormonal tubuh.  

Jika dibiarkan, hal ini akan berujung pada burnout atau kelelahan mental yang parah, sehingga kualitas hidup seorang perempuan pun merosot tajam.  

Menemukan Keseimbangan Baru

Di tengah paparan yang serius, suasana FGD sempat mencair dan penuh tawa berkat pendekatan unik dari Prof. Dr. Christin Wibhowo, M.Si..  

Mengajak peserta bernyanyi lagu masa kecil, Prof. Christin menekankan bahwa fluktuasi emosi perempuan seperti saat menstruasi atau menopause memiliki dasar biologis yang kuat dan tidak boleh sekadar dicap “baper” atau emosional semata.  

Sebagai solusi konkret atas kesehatan mental perempuan, konsep Work-Life Harmony ditawarkan sebagai jalan tengah.

Alih-alih memisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadi secara kaku, perempuan diajak untuk menyelaraskan keduanya agar saling mendukung, bukan saling menjatuhkan.  

Harapan untuk Kebijakan Nyata

Bagi Aminah Kurniasih dan jajaran PDA Kota Semarang, pertemuan ini bukan sekadar ajang mendengarkan teori.

Acara ini diharapkan menjadi batu loncatan lahirnya kebijakan negara yang lebih ramah gender, termasuk penyediaan layanan psikologis yang terjangkau dan perlindungan hukum yang tegas.  

Sudah saatnya kita berhenti menuntut perempuan menjadi “manusia super”. Mari mulai membangun lingkungan yang suportif, di mana perempuan bisa berdaya tanpa harus mengorbankan kewarasannya.

Sebab, perempuan yang bahagia dan sehat mentalnya adalah kunci utama bagi lahirnya generasi bangsa yang tangguh. 

Baca juga : Saat Generasi Muda Perempuan Bersiap Mengisi Ruang Kekuasaan

Kontributor: indah lppakosem
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: