Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Gelar Madrasah Ideologi Tingkat Tinggi, IMM Semarang Upgrade Otak Kader Agar Tidak Jadi Buzzer!

14 Desember 2025, 12:32 WIB 3 menit baca
Gelar Madrasah Ideologi Tingkat Tinggi, IMM Semarang Upgrade Otak Kader Agar Tidak Jadi Buzzer!

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Semarang secara tegas menargetkan 14 kader pilihan untuk di-upgrade kemampuan intelektualnya. Tujuannya agar mereka menjadi mahasiswa kritis dengan lingkunganniya, tidak hanya study-oriented. Mereka mampu membaca realitas sosial serta tidak mudah terjerumus menjadi buzzer pasif dalam wacana publik.

Lembaga Pengembangan Intelektual Kader (LPIK) PC IMM Semarang resmi memulai program Madrasah Ideologi (MI) V, sebuah penggemblengan tingkat tinggi yang secara langsung mengkritik tumpulnya nalar kritis mahasiswa dan menurunnya tren aktivisme saat ini.

Dibuka pada Jumat (12/12/25) di Kompleks Masjid At-Taqwa, Patemon, Gunungpati, Semarang, kegiatan ini mengusung tema “Reinterpretasi Ideologi dan Dekonstruksi Wacana Kritis Abad 21”.

Ketua Umum PC IMM Kota Semarang, IMMawan Inas Jordi Purnomo, menegaskan bahwa MI V adalah upaya mengubah paradigma kader. Ia membedakan secara tegas tugas institusi akademik dengan tugas organisasi kader.

“Ada perbedaan mendasar. Tugas Perguruan Tinggi adalah mencetak kalian menjadi seorang akademisi. Namun, tugas IMM melalui Madrasah Ideologi adalah menjadikan kader-kader ini sebagai seorang intelektual,” ujar Inas Jordi.

Cetak Kader Mahasiswa Kritis, Bukan Buzzer

Ia melanjutkan, MI V hadir untuk melawan tumpulnya nalar kritis yang membuat mahasiswa tercerabut dari lingkungan sosial dan hanya fokus pada nilai akademis IPK. Proses ini bertujuan agar kader mampu menjadi intelektual organik yang kritis, bukan sekadar pelaksana atau penyebar wacana tanpa analisis mendalam, atau yang sering disebut buzzer.

Kurikulum MI V dirancang sebagai “kelas berat” yang memaksa peserta untuk mendalami dan menggunakan pisau analisis dari pemikiran tokoh-tokoh besar dunia. Materi ini meliputi gagasan kritis seperti Rausyan Fikr Ali Shariati, Eksistensialisme Religius Muhammad Iqbal, hingga konsep Intelektual Profetik Kuntowijoyo dan Intelektual Organik Antonio Gramsci.

Tantangan intelektual yang dihadapi peserta tidak main-main. Panitia pelaksana telah menyusun kurikulum padat yang terdiri dari 32 materi yang harus diselesaikan dalam kurun waktu tujuh hari. Proses penyampaian materi dilakukan menggunakan metode Training of Facilitator Ideology (TOFI) guna menjamin ketajaman analisis dan diskusi yang mendalam.

Madrasah Ideologi V ini diikuti oleh 14 peserta terpilih yang merupakan representasi kader terbaik dari berbagai kampus ternama di Semarang, di antaranya Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), UIN Walisongo, dan Poltekkes.

Acara pembukaan turut dihadiri oleh perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gunungpati II yakni Ketua Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI), Muhammad Nur Haris Luqman, S.T.

Ketua Pelaksana Nadvi Sajid Barelvi memastikan meskipun materi berat, pendekatan tetap humanis dan egaliter, serta logistik dan asupan fisik peserta telah diprioritaskan untuk menjaga stamina selama proses penggemblengan.

Sementara Jordi menekankan bahwa proses belajar di Madrasah Ideologi ini harus dinikmati demi melahirkan intelektual yang kritis, progresif, dan anti-arus pasif.

Jordi lalu menutup sambutannya dengan pesan reflektif untuk mengingatkan peserta tentang pentingnya perjuangan intelektual. “Jika kalian tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kalian harus siap menahan perihnya kebodohan,” pungkas Inas Jordi mengutip nasehat Imam Syaf’i kepada para pencari ilmu.

Baca juga:

IMM Semarang Latih Kader Tekuni Riset, Targetkan Publikasi Ilmiah Sejak Dini

Kontributor: Ryan Wijayanto, Afida Nur Aulia
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: