Ketika Bumi Menangis: Sebuah Muhasabah Iman di Balik Musibah Sumatera
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org- H. Musta’in mengetuk sanubari jamaah Masjid At-Taqwa, Ngaliyan, dengan pertanyaan yang menggetarkan jiwa. Saat banjir merendam saudara kita di Sumatera, apakah kita hanya melihat lumpur dan air bah, atau kita mampu menangkap teguran halus dari “tangan” Tuhan?
Dalam khutbah Jumat yang hening itu, ia mengajak kita melakukan refleksi musibah.
Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Manusialah yang kerap menzalimi diri sendiri dengan merusak keseimbangan alam yang telah Allah ciptakan dengan presisi. Kita merusak titipan Tuhan, lalu mengeluh saat titipan itu mendatangkan bencana.
“Jangan hanya sibuk menyalahkan langit yang menurunkan hujan. Tanyakan pada hati nurani, apakah kita sudah menjadi tamu yang sopan di bumi Allah, atau justru perusak serakah yang memaksa alam melawan?” tegas Musta’in dengan suara bergetar.
Dosa Ekologis dan Pengkhianatan Amanah
Sang khatib menekankan bahwa etika lingkungan dalam Islam menempatkan menjaga alam setara dengan menjaga kehidupan. Menebang hutan demi keuntungan sesaat bukan hanya kejahatan negara, tetapi pengkhianatan terhadap gelar khalifah di muka bumi.
Tanggung jawab manusia sejatinya meliputi hubungan vertikal dengan Pencipta dan hubungan horizontal dengan alam semesta. Saat hutan gundul dan banjir menerjang, itu tandanya kita telah gagal memegang amanah tersebut.
Nuansa kian hening saat Musta’in menyinggung hisab berat bagi para pemimpin. Ia mengingatkan bahwa setiap kebijakan yang membiarkan kerusakan alam akan meminta pertanggungjawaban di pengadilan Allah kelak.
“Ingatlah, setiap jengkal tanah yang rusak akibat kebijakan yang salah akan bersaksi di hadapan Allah. Pemimpin yang membiarkan alam hancur demi materi, sesungguhnya sedang menumpuk bara api untuk dirinya sendiri di akhirat,” ingatnya tajam.
Menutup khutbah, Musta’in mengajak jamaah menjadikan air mata di Sumatera sebagai titik balik. Kita harus membaca pesan spiritual bencana ini sebagai panggilan taubat nasuha; taubat yang tidak hanya di lisan, tetapi mewujud dalam tindakan nyata menyayangi bumi-Nya.
Baca juga: Refleksi Iman di Tengah Bencana, Saat Hutan Gundul Menuntut Balas