Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Cara Keren Aisyiyah Wonosari Teladani Nabi lewat Aksi Sosial

28 Desember 2025, 07:15 WIB • 3 menit baca
Cara Keren Aisyiyah Wonosari Teladani Nabi lewat Aksi Sosial

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Mempraktikkan akhlakul karimah, Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Wonosari menggalang Aksi Sosial Aisyiyah untuk memastikan pengungsi banjir di Sumatra bisa beribadah dengan layak. Gerakan spontan ini mewarnai hangatnya Pengajian Selapanan yang berlangsung di kediaman Ibu Badriyah, RT 4 RW 5 Wonosari, Ngaliyan, Sabtu (27/12).

Meskipun mendung menggelayut di langit Semarang, semangat ibu-ibu tangguh ini tidak surut. Mereka berkumpul merawat tradisi anjangsana yang sudah berjalan puluhan tahun. 

Sebagai ranting senior yang membidani TK ABA 31 sejak 1969, PRA Wonosari konsisten menjaga denyut nadi organisasi melalui penguatan ideologi dan empati nyata.

Navigasi Islami di Tengah Arus Zaman

Narasumber pengajian, Pujiyanto S.Pd.I., mengajak jamaah menyelami Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Bendahara PDPM Kota Semarang itu menegaskan bahwa PHIWM merupakan panduan perilaku sehari-hari yang mengkristalkan nilai Al-Qur’an dan Sunnah.

Ia memandang pedoman ini sebagai navigasi penting agar warga tidak salah langkah, baik dalam urusan ibadah ritual maupun hubungan sosial. Pemahaman yang benar akan mencegah warga dari kekeliruan dalam bermuamalah dengan sesama manusia maupun lingkungan.

“Warga Muhammadiyah dan Aisyiyah wajib memahami isi PHIWM agar tetap pada jalur yang benar saat menjalankan ibadah maupun interaksi sosial,” tegas Pujiyanto saat menyampaikan materi.

Empat Pilar Penggerak Kemajuan

Ia menguraikan empat pilar inti dalam pedoman tersebut yang harus menjiwai setiap anggota. Pertama adalah Tauhid yang lurus dengan menempatkan Allah di atas segalanya. Kedua, Akhlakul Karimah sebagai misi utama kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, ia menekankan keteraturan hidup yang mencakup ranah pribadi, keluarga, hingga pengelolaan organisasi. Pilar terakhir adalah Semangat Tajdid atau pembaruan pola pikir. Hal ini menuntut warga untuk terus mengasah kecerdasan agar tetap relevan di abad ke-21 tanpa meninggalkan dasar agama.

“Semangat tajdid menuntut kita semua untuk senantiasa mengasah pola pikir yang mutakhir sehingga kita tidak akan tergilas oleh perkembangan zaman,” tambah Pujiyanto di depan para peserta.

Solidaritas Nyata Menembus Samudra

Kedalaman pemahaman agama tersebut langsung memicu Aksi Sosial Aisyiyah yang menyentuh hati. Sesaat sebelum menutup acara, Ketua PRA Wonosari, Al Qoyimah, mengetuk nurani jamaah untuk peduli pada duka saudara muslim yang tertimpa musibah banjir di Pulau Sumatra.

Respons para jamaah mengalir sangat cepat. Dalam satu kali pertemuan singkat, mereka menghimpun dana tunai sebesar Rp435.000. Dana ini dialokasikan khusus untuk pengadaan kain kafan bagi para korban bencana yang membutuhkannya.

Tidak berhenti di situ, mereka juga mengumpulkan belasan paket perlengkapan ibadah. Para ibu secara sukarela menyerahkan mukena, sajadah, hingga sarung layak pakai untuk pengungsi di Sumatra. Bantuan ini bertujuan agar para penyintas tetap bisa menjalankan ibadah dengan nyaman meski berada di tengah keterbatasan.

“Alhamdulillah, selain donasi tunai, ibu-ibu juga bergerak cepat mengumpulkan belasan mukena dan sarung. Semoga bantuan ini meringankan beban saudara kita di Sumatra,” tutur Al Qoyimah.

Melalui Aksi Sosial Aisyiyah ini, PRA Wonosari membuktikan bahwa memahami agama berarti harus peka terhadap realitas sosial. Mereka tidak hanya belajar teori di atas kertas, tetapi langsung menerjemahkannya menjadi bantuan nyata bagi kemanusiaan.

Baca juga : Warnai Milad Muhammadiyah, Aksi Pemberdayaan Mualaf MCA Semarang Curi Perhatian Publik

Kontributor: Pujiyanto
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: