Banyak orang bertanya, mengapa shalat kita terasa hambar? Padahal, ada pengalaman spiritual shalat yang mampu membawa jiwa merasakan “getaran” surga jika kita melakukannya dengan benar.
Pengalaman batin orang shalat berbeda antara yang satu dengan lainnya. Sifatnya sangat individual. Tetapi juga dapat dibedakan antara yang shalat khusyu’ dan yang tidak khusyu’, antara yang pikirannya nglambrang ke mana-mana dan yang fokus ilallllâh.
Namun demikian, penulis belum menemukan narasi autentik tentang perolehan pengalaman surgawi (religious experience) saat shalat.
Menghindari Khilafiah Demi Mencapai Keikhlasan Ibadah
Diskusi ramai dari para ulama tentang shalat hanya mempersoalkan khilafiah. Hasilnya yang paling menonjol hanya perasaan shalat mazhabku yang paling benar. Shalat di luar kelompoknya salah, bahkan dijustifikasi sesat. Padahal, setiap klaim demikian itu dari siapapun, yang diperoleh hanya terjauh dari jalan menuju kebenaran, yaitu Allah:
وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
Artinya: Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa (QS al-An’am: 153).
Dapat disaksikan dalam hal doa qunut, membaca basmalah saat salat, sayyidina dalam shalawat saat duduk attahiyyat, salam terputus dan salam lengkap, umat Islam banyak berselisih.
Ikutilah secara jujur dan ikhlas terhadap tuntunan Nabi, tidak terikat dengan golongan dan madzhab. Pasti benar shalatmu. Tetapi jika mengikuti madzhab, tidak ada jaminan benar, peluang keliru sangat terbuka.
Belajar dari Pengalaman Spritual Shalat Nabi
Atas dasar ayat itu, hentikan khilafiah. Yakinlah atas pilihanmu jika berdasar tuntunan Rasul. Berusahalah kualitas salat sebagai mi’rajul mu’minin (mi’rajnya orang mukmin). Insya Allah mungkin terjadi, bahwa shalatmu bisa memiliki pengalaman surgawi seperti yang biasa diperoleh oleh Rasulullah.
Shalat gerhana beliau lama, yaitu selama matahari gerhana. Berdiri, ruku’, sujud, duduk diantara dua sujud dilakukan dengan khusyu’ dan lama. Selesai shalat, beliau bercerita:
وَقَدْ رَأَيْتُهُ فِي مَقَامِي هَذَا حَتَّى الْجَنَّةَ وَالنَّارَ
(telah kulihat di tempat berdiriku ini sekarang, yaitu surga dan neraka – HR Bukhari: 178, 994, 6743, Muslim: 904, 1508).
Dalam hadis ini beliau memperoleh pengalaman ruhani cukup banyak dan mendalam yang puncaknya melihat surga dan neraka. Selain menjelaskan tentang pengalaman ruhani saat shalat yang berisi: pertanyaan kubur, persaksian dakwah Rasul kepada umat, kemunculan Dajjal, wanita menyiksa seekor kucing, dan isi neraka kebanyakan wanita saat beliau salat, beliau bersabda:
وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْMِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
Artinya: Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita. Mereka bertanya, Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah? Beliau menjawab, Disebabkan kekufuran mereka. Ada yang bertanya kepada beliau, Apakah para wanita itu kufur kepada Allah? Beliau menjawab, Tidak, melainkan mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikannya. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu (HR. Bukhari: 28, 993, 4798, dan Muslim: 1512, Nasa’i: 1476).
Ketaatan Istri dan Jaminan Pintu Surga dalam Hadis Nabi
Pengalaman ruhani Nabi ini mengandung pelajaran khusus kepada wanita. Intinya, para istri jangan membantah, mengomeli, dan ngambek kepada suami, utamanya dalam semua hal yang mengandung nilai kebaikan. Istri harus taat kepada suami setinggi-tingginya dalam hal kebaikan. Hingga, Nabi bersabda:
لَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ المَرْأَةَ أَنْ يَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
(Jika saya (diperbolehkan) memerintah seseorang untuk bersujud kepada orang lain, maka saya akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya (HR Turmuzi: 1079, Abu Dawud: 1828, Ibnu Majah: 1842, 1843, Darimi: 17, 1427, 1428, Ahmad: 12153, 18591, 23331).
Dalam suatu kesempatan, Nabi juga menjanjikan istri shalihah dengan sabdanya:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
Artinya: Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, berpuasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka (HR Ahmad: 1573, hadis hasan ilghairih).
Menjemput Pengalaman Spiritual Salat Melalui Penghayatan Doa
Hadis-hadis yang dapat dijadikan hujjah dalam beragama ini sudah sepantasnya menjadi acuan bagi wanita untuk meningkatkan kualitas keberagamaannya, termasuk bagaimana saat shalat memperoleh pengalaman spiritual shalat. Kemudian, harus lebih menjadi habitat bagi para suami bagaimana dia menjadi imam bagi istri dalam menggapai derajat yang tinggi dalam pelaksanaan salatnya.
Jika suami atau istri, atau umumnya shalat umat Islam itu berlama-lama dalam shalat, artinya berdiri lama (tasbihnya banyak), ruku’ lama (tasbihnya banyak), i’tidal lama (membaca lirabbiyal ḩamdu banyak), sujud lama (tasbihnya banyak), dan duduk diantara dua sujud juga lama (doa diantara dua sujud: rabbighfili banyak) dengan penuh penghayatan makna yang dibaca dan terfokus kepada Allah, sangat mungkin pengalaman spiritual shalat dapat diperoleh, meskipun tidak sebaik Rasulullah.
Jadi, cerita pengalaman surgawi Rasul dalam salat bisa diambil sebagai inspirasi oleh umat Islam untuk memperoleh pengalaman spiritual salat. Inilah hakikat ruhaniah shalat, bukan sekedar formalitas salat.
Baca juga:
Terungkap! Makna Simbolis Shalat, Rahasia Shalat yang Mampu Ubah Karakter