Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Jangan Salah Paham! Kenali Makna Hari Kiamat dalam Islam sebagai Kompas Moral Hidup

3 Januari 2026, 13:40 WIB 3 menit baca
Ilustrasi dramatis hari kiamat yang menampilkan kehancuran kota, ombak besar, gunung meletus, dan lubang lava sebagai pengingat pertanggungjawaban amal
Hari Akhir bukan sekadar akhir zaman, melainkan awal pertanggungjawaban setiap pilihan hidup manusia di hadapan Allah

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Kesadaran terhadap hari akhir seringkali hanya muncul sebagai rasa takut terhadap kehancuran dunia. Dr. H. Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i, M.Ag., yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor UIN Walisongo Semarang, menawarkan sudut pandang yang lebih mendalam dan menyentuh. Sang ulama menegaskan bahwa iman kepada hari akhir merupakan pengingat abadi tentang tanggung jawab manusia di hadapan Sang Pencipta. Pesan reflektif ini mewarnai suasana khidmat di Masjid Assalam, Semarang Selatan, pada Kamis sore (18/12/2025).

Dalam Pengajian Rutin Sab’ata Asyaro tersebut, sang penceramah mengajak jamaah melihat kiamat sebagai awal pertanggungjawaban, bukan sekadar akhir kehidupan. Pemahaman yang benar terhadap fase ini semestinya mampu mengubah perilaku sosial menjadi lebih berkualitas. Iman yang kuat harusnya tecermin dalam kejujuran bekerja, cara berinteraksi, hingga integritas diri dalam bermuamalah sehari-hari.

Mengubah Ketakutan Pasif Menjadi Kekuatan Moral Nyata

Sang doktor menguraikan bahwa hari akhir adalah fase kepastian hukum Allah yang paling sempurna. Kesadaran eskatologis ini berfungsi sebagai pengontrol paling efektif bagi hati nurani manusia agar tidak berbuat semena-mena.

Banyak orang sering merasa bebas dari konsekuensi karena melupakan hari pembalasan. Padahal, setiap pilihan hidup memiliki catatan yang akan tervalidasi pada pengadilan akhirat nanti.

Iman kepada hari akhir seharusnya melahirkan sikap kepedulian sosial yang jauh lebih kuat. Sang ulama ingin jamaah memiliki kehati-hatian dalam bertindak agar tidak merugikan orang lain.

Ketakutan yang muncul bukanlah rasa takut yang melumpuhkan, melainkan kewaspadaan yang memicu peningkatan kualitas amal ibadah.

“Hari Akhir bukan untuk ditakuti secara berlebihan, tetapi untuk disadari agar hidup kita tidak kehilangan arah dan tanggung jawab,” jelas Dr. Ahmad Hasan Asy’ari saat menyampaikan materinya.

Menjadikan Iman sebagai Cermin Evaluasi Diri Setiap Hari

Sang penceramah juga mengingatkan bahwa maut dan kiamat tidak mengenal kata libur atau menunda. Oleh karena itu, umat Islam perlu serius memperbaiki akhlak tanpa harus menunggu momen tertentu.

Setiap amal, sekecil apa pun, akan mendapatkan balasan yang setimpal. Kesadaran ini menjadi kompas moral agar manusia menjalani kehidupan yang lebih jujur dan bermakna.

Kajian ini mendorong jamaah untuk memandang hari pembalasan sebagai cermin evaluasi diri yang jujur. Hidup manusia akan terasa lebih tertata saat ia menyadari bahwa ada mata Tuhan yang selalu mengawasi.

Melalui penguatan iman ini, masyarakat diharapkan mampu membangun tatanan hidup yang lebih amanah dan penuh kedamaian.

“Iman yang benar akan melahirkan tanggung jawab, bukan ketakutan yang pasif,” tegas sang doktor kepada para jamaah yang hadir.

Menutup kajiannya, sang ulama mengajak semua pihak untuk segera memperbaiki diri sebelum kesempatan itu hilang. Menjadikan hari akhir sebagai motivasi berbuat baik adalah kunci untuk meraih kebahagiaan sejati.

Dengan bekal ilmu yang benar, perjalanan hidup manusia akan selalu berada pada jalur yang diredai Allah.

Kontributor: Syafii Media Masjid Assalam Wonodri
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: