Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Rahasia Umur Berkah di Tahun 2026, Jangan Tunda Ibadah Walau Sedikit!

4 Januari 2026, 14:54 WIB • 4 menit baca
Rahasia Umur Berkah di Tahun 2026, Jangan Tunda Ibadah Walau Sedikit!
Screenshot

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org- Dr. KH Fachrur Rozi M.Ag mengajak jamaah untuk menjadikan momentum muhasabah diri tahun baru 2026 sebagai titik balik perbaikan kualitas hidup. Ia mengingatkan bahwa Allah mencintai amalan yang dilakukan secara konsisten atau istiqamah, meski dalam jumlah sedikit.  

Pesan menyejukkan ini beliau sampaikan secara langsung saat mengisi pengajian di Pesantren Lansia. Acara tersebut berlangsung khidmat di Masjid At-Taqwa Wates, Ngaliyan, pada Sabtu (03/01/26).  

Sosok yang akrab disapa Yai Rozi ini hadir mengemban tanggung jawab sebagai pengasuh utama Ponpes Pesantren Lansia. Selain memimpin pesantren, beliau saat ini juga menjabat sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang.

Dalam tausiyahnya, Yai Rozi menegaskan bahwa pergantian tahun merupakan alarm nyata bagi setiap manusia. Beliau memandang bertambahnya angka tahun sebagai tanda berkurangnya jatah hidup di dunia secara otomatis.  

Beliau mendorong setiap jamaah agar segera melakukan evaluasi besar melalui muhasabah diri tahun baru 2026. Yai Rozi menekankan pentingnya kesadaran waktu agar manusia terhindar dari golongan yang merugi sebagaimana peringatan dalam Surah Al-‘Ashr.  

“Janganlah kita menunggu hari esok untuk memulai sebuah kebaikan, karena amalan yang paling Allah cintai adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun jumlahnya sedikit. Mari kita jadikan sisa umur ini sebagai ladang syukur dan perbaikan diri menuju garis finish yang indah atau husnul khatimah,” tutur Yai Rozi dengan penuh penekanan.

Menjawab Pertanggungjawaban Umur

Yai Rozi menjelaskan bahwa setiap hamba kelak akan menghadapi pertanyaan besar di hari kiamat. Pertanyaan tersebut berkaitan erat dengan pemanfaatan umur selama hidup di dunia.  

Ia mengingatkan para lansia agar tidak menjadi golongan yang merugi. Merugi dalam hal ini berarti membiarkan dosa bertambah sementara kondisi fisik kian melemah seiring usia.

“Ingatlah, kaki kita tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga kita mampu menjawab untuk apa umur ini kita habiskan. Setiap detik adalah amanah yang harus kita pertanggungjawabkan dengan amal nyata, bukan sekadar niat yang tertunda,” tambah Ketua PDM Kota Semarang tersebut.

Yai Rozi memaparkan bahwa predikat manusia terbaik jatuh kepada mereka yang memiliki umur panjang dan amal yang bagus. Motivasi ini beliau sampaikan agar jamaah terus memperbaiki diri tanpa melihat sisa usia yang ada.  

Konsistensi Ibadah di Masa Senja

Ibadah yang membawa keberkahan tidak selalu memerlukan lonjakan besar yang memberatkan fisik secara mendadak. Yai Rozi menyarankan jamaah mulai mendisiplinkan diri menjaga shalat tepat waktu dan membasahi lisan dengan dzikir secara rutin.  

Aktivitas sederhana ini menjadi fondasi utama dalam menjalankan muhasabah diri tahun baru 2026. Membaca Al-Qur’an walau hanya beberapa ayat setiap hari juga mampu memberikan nutrisi penting bagi ketenangan batin.  

Selain itu, Ia menekankan pentingnya mengelola emosi dengan menjauhi perilaku ghibah. Jamaah harus memperbanyak rasa sabar dan syukur dalam menghadapi dinamika hidup sehari-hari.  

Kebiasaan berbagi melalui sedekah sesuai kemampuan juga menjadi poin penting yang beliau soroti. Beliau menganggap sedekah sebagai investasi langit yang akan membuahkan balasan nyata dari Allah SWT.  

“Ketenangan hati itu tidak datang dari harta yang melimpah, melainkan dari hati yang selalu bersabar dan lisan yang terjaga dari amarah. Fokuslah memperbaiki hubungan dengan keluarga dan sesama sebagai cermin kebaikan iman kita,” pesan pengasuh utama Pesantren Lansia tersebut lebih lanjut.

Menuju Akhir yang Indah

Pada sesi penutup, Yai Rozi mengajak seluruh jamaah memperbanyak istighfar. Beliau mendorong mereka melakukan taubat yang sungguh-sungguh demi menjemput akhir hayat yang baik.  

Ia menegaskan kembali bahwa Allah akan membalas setiap kebaikan maupun keburukan sekecil apa pun. Kesadaran akan maut yang bisa datang kapan saja seharusnya memicu semangat jamaah untuk terus berhijrah.  

Harapannya, setiap doa dan langkah dalam muhasabah diri tahun baru 2026 ini mendapat ridha dari Sang Pencipta. 

Semua upaya perbaikan diri ini bermuara pada satu keinginan mulia, yakni mengakhiri perjalanan hidup dengan kondisi husnul khatimah.  

Baca juga : Tawa dan Air Mata di Pesantren Lansia Semarang: Mengupas Satu-Satunya Bekal Abadi Menuju Liang Lahat

Bagikan: