Masyarakat muslim Indonesia umumnya melakukan persiapan menyambut Ramadhan dengan ungkapan marḩaban yâ Ramaḍân. Secara teknis, rumusan ini tidak berbasis pada tekstual Al-Qur’an maupun hadis Nabi. Ungkapan tersebut merupakan ekspresi kegembiraan karena Ramadhan adalah bulan suci penuh berkah di mana umat Islam wajib berpuasa sebulan penuh.
Sebagai panduan autentik dalam persiapan menyambut Ramadhan, Rasulullah SAW memberikan tuntunan doa saat melihat hilal baru:
اَللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيْمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ
(Ya Allah, Terbitkanlah bulan tersebut kepada kami dengan berkah, iman, keselamatan serta Islam! Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah – HR Turmuzi: 3373).
Sebenarnya, Nabi SAW memberikan peringatan serius terkait bulan suci ini, namun umat Islam sering kali kurang memperhatikannya. Kebanyakan orang justru salah arah dalam mengapresiasi datangnya bulan puasa. Rasulullah bersabda:
قَالَ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيْلَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
Artinya: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!” Lalu beliau ditanya, “Siapakah yang celaka, ya Rasulullah?” Jawabnya, “Barang Siapa yang mendapati kedua orang tuanya, dalam usia lanjut, atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya)” (HR Muslim: 4627, 4628).
Amalan di Bulan Ramadhan untuk Meraih Ampunan Allah
Hadis di atas menekankan bahwa berbakti kepada orang tua adalah kunci surga yang sangat nyata. Selain itu, terdapat hadis lain yang mengaitkan bakti tersebut dengan bulan suci:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانَ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهَ الْكِبَرُ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ
(Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Celakalah seseorang, aku disebut-sebut di depannya dan ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku. Celakalah seseorang, Bulan Ramadhan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan, dan celakalah seseorang yang kedua orang tuanya berusia lanjut namun tidak dapat memasukkan keduanya ke dalam surga – HR Ahmad: 3468, 8201).
Makna praktis dari ungkapan raghima anfu rajulin adalah “celaka seseorang”. Namun, secara literal artinya “jelek sekali hidung seseorang”. Ungkapan ini menggambarkan kehinaan luar biasa, ibarat seseorang yang kehilangan batang hidungnya sehingga hanya tampak lubang yang menganga.
Pada zaman jahiliah, mematahkan batang hidung adalah cara melukai musuh yang paling dibenci. Maka, seseorang menjadi luar biasa jelek jika: (1) tidak bershalawat saat nama Nabi disebut, (2) keluar dari Ramadhan tanpa ampunan, dan (3) tidak berbakti kepada orang tua.
Oleh karena itu, amalan di bulan Ramadhan harus berfokus pada permohonan ampun. Saat i’tikaf, Nabi SAW memerintahkan umatnya memperbanyak doa: Allahumma innaka ‘afuwun karîm tuḩibbul ‘afwa fa’fu ‘annî, atau tanpa karîm (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ampunan dan Maha Pemurah. Engkau senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku – HR Turmuzi: 3435).
Selama i’tikaf di masjid, pagi hingga malam, isilah waktu dengan doa ini sebanyak-banyaknya di sela keperluan manusiawi Anda.
Wujud Nyata Berbakti kepada Orang Tua di Bulan Ramadhan
Bagaimana wujud nyata berbakti kepada orang tua saat ini? Jika mereka masih hidup dan sudah lemah, bayarkanlah fidyah untuknya. Rawatlah mereka sebaik mungkin hingga tidak ada kata marah atau umpatan yang keluar. Namun, jika keduanya sudah meninggal dunia, kirimkanlah ampunan sebanyak-banyaknya. Nabi SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْفَعُ دَرَجَةَ الْعَبْدِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّي لِي هَذَا؟ فَيَقُولُ: بَاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
(Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, lalu orang tersebut akan bertanya, ‘Bagaimana ini bisa terjadi ya Rabb? Allah menjawab, ‘Karena anakmu telah memohonkan ampun untukmu – HR Ibnu Majah, 3650, Ahmad, 10202).
Sebagai penerapan praktis, Anda bisa sekaligus memohon ampunan untuk diri sendiri dan orang tua dengan doa: Allahummaghfirlî waliwâlidayya (Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku). Lakukan doa ini secara intensif sejak awal puasa hingga malam Idul Fitri.
Semoga melalui persiapan menyambut Ramadhan yang benar, derajat ketakwaan kita benar-benar meningkat (la’allakum tattaqûn).
Wallâhu a’lamu biṣawâb.
Baca juga:
Penetapan Awal Ramadhan: Menakar Akurasi Metode Ru’yah dan Hisab di Indonesia