Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Waspada Bahaya Brain Rot yang Mengintai di Balik Serunya Video Pendek

8 Januari 2026, 11:58 WIB • 3 menit baca
Waspada Bahaya Brain Rot yang Mengintai di Balik Serunya Video Pendek

SEMARANG SELATAN, Muhammadiyahsemarangkota.org – Di balik tawa saat menonton reels, ada ancaman Brain Rot yang nyata.

Kajian di Masjid RS Roemani Semarang mengungkap bagaimana konten instan merusak daya fokus kita secara perlahan. Pernahkah Anda merasa otak seolah “kosong” setelah lama asyik scrolling ponsel?

Fenomena ini bukan sekadar kelelahan biasa, melainkan ancaman Brain Rot yang kini menghantui masyarakat digital.

Ustadz Mirza, selaku Bendahara Takmir Masjid At Taqwa RS Roemani Semarang, mengupas tuntas isu kesehatan mental ini dalam kajian ba’da Dzuhur di Masjid RS Roemani Kota Semarang, Rabu (07/01/26).

Sang penceramah menyoroti dampak buruk media sosial yang mulai mengikis ketajaman berpikir kita semua.

Mekanisme Otak dan Jebakan Dopamin Instan

Brain Rot menggambarkan kondisi menurunnya kemampuan kognitif akibat konsumsi konten digital yang dangkal dan cepat.

Ustadz Mirza menjelaskan bahwa otak manusia kini terbiasa menerima lonjakan dopamin instan dari video pendek. Akibatnya, pikiran menjadi malas saat harus bekerja keras atau berkonsentrasi dalam waktu lama.

“Sekarang ini kita harus lebih bijak memilih mana tontonan yang baik. Perbanyak aktivitas yang mengurangi ketergantungan pada handphone dan menjauhi tontonan tanpa faidah,” ujar Ustadz Mirza di hadapan jamaah.

Ia menekankan bahwa kebiasaan buruk ini memicu penurunan daya fokus yang semakin meluas di tengah masyarakat.

Ujian Fokus dan Jebakan Waktu Luang

Selanjutnya, ia mengingatkan bahwa pikiran yang tumpul menandakan kelalaian manusia dalam menjaga nikmat waktu. Hal ini menjadi tantangan besar bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah secara berkualitas.

Tanpa manajemen waktu Islami yang disiplin, waktu berharga justru habis hanya untuk “memberi makan” layar gawai.

Kemudia ustadz Mirza mengutip hadis Rasulullah SAW tentang dua nikmat yang sering menipu manusia, yakni kesehatan dan waktu luang.

“Segala hiburan kini hadir kapan saja melalui internet, sehingga memicu budaya serba instan dan melemahkan daya fokus,” tuturnya. Sosok ini membandingkan kondisi sekarang dengan masa lalu saat masyarakat jauh lebih sabar menunggu informasi.

Strategi Detoks Digital dan Pemulihan Kognitif

Meskipun tantangan digital sangat besar, kita tetap bisa memperbaiki kondisi ini melalui langkah yang konsisten.

Salah satu cara detoks digital yang paling ampuh adalah bersikap sangat selektif terhadap nutrisi visual. Kita perlu menjauhi konten hiburan kosong dan beralih pada tayangan yang memberikan ilmu bermanfaat.

“Kita harus sadar dalam memanfaatkan waktu dan menjaga fokus, serta menjadikan teknologi sebagai sarana kebaikan,” tegas pembicara tersebut di akhir tausiyahnya.

Ia mengajak jamaah melatih kembali otak melalui aktivitas literasi fisik, seperti membaca Al-Qur’an. 

Cara ini terbukti efektif memulihkan ketajaman pikiran yang sempat tumpul.

Mari kita renungkan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan tuan bagi pikiran. 

Gunakanlah waktu luang sebagai modal ibadah yang produktif daripada membiarkannya terbuang dalam kesia-siaan digital.

Dengan menjaga fokus, kita menyelamatkan kesehatan mental sekaligus memastikan setiap detik kehidupan bernilai berkah.

Baca juga : Libur Tanpa Gadget! Menukar Layar HP dengan Hafalan Al-Qur’an di PTM Ibnu Abbas, Rahasia Niat Ikhlas dalam Islam: Kunci Agar Lelahmu Menjadi Lillah

Kontributor: Tim Media Masjid At Taqwa RS Roemani
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: