Merasa tertekan dengan beban hidup yang kian berat? Temukan panduan cara mengatasi stres melalui pendekatan spiritual yang membawa ketenangan sejati dalam hidup Anda.
Bulan Januari seolah mengandung nilai keramat bagi penganut agama apa saja, termasuk kaum muslimin kelas atas. Padahal, secara historis, Januari sebenarnya hanya diperuntukkan bagi para pemeluk Nasrani sebagai ancang-ancang menapaki impian indah di masa depan.
Namun, akibat perenungan yang terlalu mendalam, banyak orang justru terjebak dalam kebingungan karena rencana hidup mereka seolah tertumbuk tembok kegelapan. Kondisi kebuntuan pemikiran inilah yang kemudian memicu seseorang menjadi stres, murung, hingga putus asa.
Alih-alih mencari solusi yang logis, banyak orang yang justru menempuh jalan pintas dengan lari ke orang tua, orang pintar, dukun, tabib, hingga kiai untuk meminta sesuatu. Mereka mencari amalan, cekelan, ritual tertentu, bahkan hingga terjerumus pada praktik pesugihan seperti Nyi Blorong, tuyul, Dewi Lanjar, Belang Jimbung, Gunung Kemukus, dan Eyang Jugo di Gunung Kawi Blitar.
Secara magis, mereka meyakini ritual tersebut efektif mengantarkan kesuksesan. Padahal, jika ditinjau secara teologis, praktik magis tersebut sama sekali tidak Allah rekomendasikan karena merusak konsep kesehatan mental menurut Islam.
Menjaga Khusyuk Sebagai Benteng Jiwa
Ketidaksesuaian antara praktik magis dan iman terlihat jelas pada kualitas ibadah seseorang. Para pengamal magical power, meskipun mengaku keislamannya paling benar, pasti tidak akan khusyu’ salatnya. Padahal, sebagai cara mengatasi stres yang hakiki, Allah SWT telah memberikan panduan melalui firman-Nya:
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ
Artinya: (Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’– QS al-Baqarah: 45).
Melalui ayat ini, kita dapat mendeteksi kualitas keberagaman seseorang secara kasat mata. Begitu seseorang mengamalkan ritus magis, salatnya dipastikan tidak khusyu’ karena pikirannya mudah terombang-ambing oleh pemikiran menyesatkan.
Agar memiliki keimanan dan pendirian yang mantap, maka lakukanlah perintah Allah: salatlah sebaik-baiknya dengan landasan sabar. Inilah titik mulainya keajaiban salat dan sabar.
Perlu dipahami, sabar bukan berarti tabah menderita sambil berpangku tangan, melainkan berarti al-jihdu wal istimrâr, yaitu berusaha secara sungguh-sungguh, sistematis (meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi), serta ulet.
Menggapai Keberhasilan dengan Ikhtiar dan Tawakal
Selain sabar yang aktif, umat Islam juga harus menyadari bahwa doa tanpa usaha tidak akan membuahkan hasil. Hal ini selaras dengan isyarat Al-Qur’an mengenai hukum perubahan nasib:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْmٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَدَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ dُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
Artinya: (Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia – QS ar-Ra’du: 11).
Ayat tersebut mendorong kaum mukminin agar berusaha keras menggunakan segenap potensi diri. Berusaha secara mitis hanya menjatuhkan kita pada kemusyrikan yang membuat batin merana akibat tumbal atau bekakak.
Padahal, jika kita kembali kepada inti ibadah, salah satu manfaat salat untuk ketenangan adalah sebagai sarana mengingat Allah.
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
Artinya: (Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku- QS Thaha: 14).
Dengan ingatan yang senantiasa tertuju kepada Allah, hati akan menjadi tenang. Inilah cara mengatasi stres bagi seorang muslim.
Jaminan ketenangan batin ini ditegaskan kembali dalam ayat berikut:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
Artinya: (Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram – QS. ar-Ra’d/13: 28).
Sebagai penegasan, tidak ada orang sukses yang kaya mendadak melalui rumus irrasional-magis seperti thong kali thong, pet kali pet. Kesuksesan selalu memerlukan perjuangan berkelanjutan tanpa putus asa, karena Allah SWT melarang hamba-Nya menyerah pada keadaan:
وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ LLٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰfِرُوْنَ
Artinya: (Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir – QS Yusuf/12: 87).
Sebagai pengingat dalam konteks ikhtiar dan tawakal ini, mari kita pegang prinsip santri: Man Jadda wajadda (barang siapa berusaha sungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya).
Kubur dalam-dalam pepatah alon alon waton kelakon yang melambangkan kelambanan. Bekerja cerdas dan keras merupakan kunci utama dalam meraih kesuksesan dunia dan akhirat.
Wallâhu a’lamu biṣawâb.
Baca juga: