Jangan Terjebak Harapan Kosong! Kupas Makna Hakiki Pergantian Tahun
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Memasuki awal Januari 2026, suasana khidmat menyelimuti Masjid As Salam Wonodri, Semarang Selatan, pada Jumat (09/01/2026). Di tengah hiruk pikuk perayaan tahun baru, Ust. HM Budi Hidayat, M.Pd.I. mengajak jamaah untuk berhenti sejenak dan merenung. Pasalnya, pergantian tahun bukan hanya soal angka yang berubah di kalender, melainkan sebuah pengingat bahwa jatah usia manusia di dunia semakin berkurang.
Sosok pendidik ini menekankan bahwa setiap detik yang berlalu membawa kita semakin dekat pada hari perjumpaan dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu, awal tahun harus menjadi momentum besar untuk revolusi jiwa, bukan sekadar perayaan tanpa makna. Semangat baru dalam berislam dan memperbaiki diri menjadi kunci utama agar hidup lebih terarah dan berkah di masa depan.
Waktu yang Berkurang dan Catatan Amal yang Bertambah
Selanjutnya, Ust. HM Budi Hidayat mengingatkan bahwa bertambahnya angka tahun berarti bertambah pula catatan amal yang harus kita pertanggungjawabkan.
Penceramah ini mengutip hadis bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang panjang umurnya dan baik pula amalnya. Namun, banyak orang justru terjebak dalam kelalaian dan menyia-nyiakan waktu luang mereka untuk hal yang kurang bermanfaat.
“Awal tahun adalah isyarat bahwa waktu terus berjalan, usia kita semakin berkurang, dan hari perjumpaan dengan Allah semakin dekat,” ungkap Ust. HM Budi Hidayat dalam pesan khutbahnya.
Maka dari itu, sosok ustadz ini mengajak jamaah untuk selalu mengintrospeksi diri. Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu menahan hawa nafsu dan beramal untuk kehidupan setelah mati.
Menjadi Pribadi Beruntung dengan Semangat Perubahan
Sementara itu, perubahan nasib seseorang sangat bergantung pada keberaniannya untuk mengubah diri sendiri. Ust. HM Budi Hidayat menekankan pentingnya menjadi pribadi yang beruntung, yaitu mereka yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin.
Bahkan, Islam mengajarkan keseimbangan antara mengejar kesejahteraan dunia dan kesiapan menghadapi akhirat.Akhirnya, sebelum waktu benar-benar habis, setiap muslim perlu memanfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara lainnya.
Jangan sampai ada penyesalan di alam kubur nanti, di mana banyak jiwa memohon untuk kembali ke dunia hanya demi satu amal saleh.
Mari jadikan tahun 2026 ini sebagai titik awal untuk mempererat kedekatan kita kepada Allah SWT melalui ketaatan yang total.