
MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, GUNUNGPATI – Amal adalah segala bentuk perbuatan yang dikerjakan dengan tujuan atau niat tertentu. Dalam Al-Qur’an, kata amal memiliki makna perbuatan. Sedangkan dalam Islam Amalan berarti sesuatu yang dikerjakan dengan mengharapkan ridha Allah SWT. Allah SWT telah menjanjikan ganjaran pahala bagi hamba-Nya yang senantiasa mengerjakan amal ibadah.
Ustadz Sholahuddin ketika menjadi narasumber kajian Ahad pagi PCM Gunungpati 1 juga menjelaskan tentang amalan yang selain untuk mendapat pahala, berbuat kebaikan juga ditujukan agar mendapat kasih sayang dari sang pencipta. Diantara amalan – amalan itu, ada amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan karena sangat dicintai atau disukai Allah SWT.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya : Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit”. (Hadits Shahih, Riwayat Bukhori dan Muslim, Lihat Shahiihul jaami’ no. 163).
Hadits ini mengindikasikan bahwa, seorang hamba itu harus memiliki amalan dihadapan Allah SWT walaupun sedikit tapi rutin dikerjakan lillahi ta’ala maka Allah SWT akan mencintai seorang hamba tersebut.
KONSEP UTAMA TENTANG KEBAIKAN DAN KEBURUKAN
Kebaikan dan keburukan merupakan dua istilah yang banyak digunakan untuk
menentukan suatu perbuatan yang dilakukan manusia. Segala bentuk tindakan
manusia mengacu pada pandangannya tentang baik dan buruk. Nilai kebaikan dan
keburukan senantiasa akan menjadi sumber rujukan dalam menjalankan berbagai
tindakan hidupnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Artinya : Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah). (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 49)
Rasulullah seringkali berdoa didalam sholat :
للَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Artinya : Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu. (HR. Abu Daud dan Ahmad)
Ketika Alloh memberikan satu kabaikan maka akan ada keburukan berdampingan disitu. Namun ketika Alloh menghadirkan keburukan maka siapkan di situ dua kebaikan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
فَاِ نَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya : Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 5)
Ayat ini diturunkan saat orang-orang musyrik mengejek orang-orang muslim dengan kefakirannya. Ketika ayat ini diturunkan, Nabi SAW bersabda sebagaimana yang dikatakan Ibnu Jarir dari Hasan Al-Bashri: “Apakah kalian senang atas posisi kalian yang berada dalam kemudahan, kesulitan tidak akan selalu berada di atas kemudahan”. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan lain dan (cara) untuk menghadapi setiap kesulitan adalah (mencari) kemudahan.
Sebagai penutup, ustadz Sholahuddin menjelaskan bahwa ada keseimbangan antara potensi kebaikan dan keburukan pada manusia, dan semua potensi ini tergantung
ikhtiar manusia, sekalipun sejak awal dilahirkan manusia berada dalam kesucian (fitrah). Karena pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat dari potensi negatifnya, hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat daripada daya tarik kebaikan. Karena itu manusia dituntut agar memelihara kesucian jiwa (nafs) dan tidak mengotorinya.
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara