Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 3 menit baca

Muhammadiyah dan Arsitek Intelektual Bangsa

Oleh: Nurcahyono, S.E.,M.S.A., CSRS

Kepala Divisi Pustaka, Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Semarang

Muhammadiyah dan Arsitek Intelektual Bangsa

Awal abad ke-20 di Kauman, Yogyakarta, Kiai Haji Ahmad Dahlan merenung di tengah remang lampu minyak. Baginya, perlawanan terhadap kolonialisme tak selalu berbentuk dentuman senjata. Ada senjata lain yang tak kalah dahsyat: ilmu pengetahuan, kesehatan, dan pemberdayaan sosial. Dari ruang-ruang sederhana itulah Muhammadiyah lahir—sebuah langkah sunyi yang kelak menggaung dalam sejarah perjuangan kemerdekaan.

Jika sejarah kemerdekaan kerap dipenuhi kisah pertempuran dan meja perundingan, Muhammadiyah menempuh medan lain. Artikel ini akan menunjukkan bagaimana mereka mencerdaskan, memberdayakan, dan menyembuhkan bangsa sebagai fondasi tak tergantikan bagi lahirnya Republik.

Revolusi Senyap di Papan Tulis

Bayangkan Anda anak petani atau pedagang kecil di tahun 1920-an. Sekolah kolonial yang megah hanya untuk segelintir orang. Dunia Anda hanya selebar sawah dan pasar. Muhammadiyah datang mendobrak tembok tak kasatmata itu.

Pada 1923, organisasi ini sudah mengelola empat sekolah setara Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Yogyakarta. Dindingnya mungkin dari papan, tapi di dalamnya diajarkan ilmu hitung, aksara latin, dan ayat-ayat suci. Sebuah racikan yang mengasah logika sekaligus menguatkan iman.

Gerakannya berkembang seperti bola salju. Tahun 1937, ada 986 sekolah Muhammadiyah dengan lebih dari 160 ribu siswa. Dari papan tulis-papan tulis itulah lahir bibit intelektual yang kelak mengisi barisan pemimpin negeri.

Gerakan ini tak hanya milik laki-laki. Tahun 1917, Aisyiyah berdiri, membuka pintu lebar bagi perempuan untuk belajar. Di masa ketika suara perempuan kerap dibungkam, Aisyiyah justru menyalakan obor. Mereka mengadakan kelas baca-tulis, pengajian modern, hingga sekolah formal khusus perempuan.

Banyak sejarawan menyebut Aisyiyah sebagai pelopor gerakan perempuan modern di Indonesia, yang ikut melahirkan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) 1928. Aisyiyah mengajarkan, kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan bersama—laki-laki dan perempuan, bahu-membahu.

Tahun 1918, Muhammadiyah kemudian mendirikan Majelis Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), cikal bakal rumah sakit PKU. Di masa negara belum punya sistem kesehatan, PKO sudah membantu korban bencana, fakir miskin, dan anak yatim. Klinik-klinik pertolongan pertama bermunculan di Surabaya, Malang, dan Solo.

Inilah teologi Al-Ma’un yang diterjemahkan menjadi aksi sosial—membebaskan manusia dari penderitaan, satu pasien demi satu pasien.

Ketika panggung kemerdekaan dibuka, kader-kader Muhammadiyah ikut naik ke atasnya. Kiai Haji Mas Mansyur, Ki Bagus Hadikusumo, Prof. Kahar Mudzakir, hingga Mr. Kasman Singodimedjo memainkan peran penting di BPUPKI dan PPKI. Ki Bagus Hadikusumo, misalnya, menjadi salah satu tokoh kunci dalam perumusan Piagam Jakarta—dokumen yang memberi jiwa pada Pembukaan UUD 1945. Muhammadiyah tak hanya mendidik generasi, tapi juga ikut merancang fondasi negara.

Lebih dari seratus tahun berlalu, nyala itu tak redup. Dari Kauman, Muhammadiyah kini menjangkau Sabang hingga Merauke. Ratusan universitas, rumah sakit, dan ribuan sekolah menjadi bukti bahwa amanat “mencerdaskan kehidupan bangsa” bukan sekadar semboyan.

Sejarah pun mencatat: kemerdekaan sejati tak hanya direbut dengan senjata, tetapi dibangun dengan ilmu, iman, dan kepedulian yang tak pernah padam. Nilai-nilai inilah yang terus relevan, mengingatkan kita bahwa membangun bangsa adalah kerja tak kenal lelah, dari ruang kelas hingga ranah kepemimpinan.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: