Malam 1 Muharam atau yang sering disebut malam 1 Suro datang lagi. Di berbagai tempat, orang-orang berbondong-bondong mencari ketenangan. Ada yang berendam di sungai dan mata air pada tengah malam. Juga ada yang mencuci pusaka yang diyakini membawa tuah.
Atau ada pula yang menunda bepergian, membatalkan hajatan. Bahkan ada yang takut membangun rumah di bulan Suro. Karena percaya ada kekuatan gaib yang sedang “punya hajat” di momentum tahun baru Islam ini.
Semua dilakukan dengan satu alasan yang terdengar mulia: mencari keselamatan. Ironisnya, atas nama harapan itu, tauhid justru dilukai.
Tradisi 1 Muharam itu atau malam 1 Suro kemudian dibela dengan kalimat yang terdengar lembut: nguri-uri budaya leluhur, menjaga kearifan lokal, menghormati warisan nenek moyang. Kata-kata yang indah. Enak didengar. Seolah tidak ada yang salah.
Padahal masalahnya bukan pada budaya.
Muhammadiyah tidak pernah memusuhi budaya. Budaya adalah bagian dari peradaban manusia. Tetapi ketika sebuah tradisi berubah menjadi tempat menggantungkan harapan. Atau ketika rasa takut kepada makhluk lebih besar daripada rasa takut kepada Allah. Dan ketika manusia percaya keselamatan ditentukan oleh benda, waktu, atau sosok gaib, maka yang sedang dipertaruhkan bukan lagi budaya. Yang sedang dipertaruhkan adalah akidah.
Sesungguhnya Latta dan Uzza belum mati. Berhala-berhala itu hanya berganti pakaian.
Dulu manusia berdiri di hadapan patung. Hari ini manusia berdiri di hadapan benda-benda yang dianggap keramat. Dulu mereka menyebut nama berhala dengan penuh harap. Hari ini sebagian orang memanggil selain Allah dengan keyakinan yang sama.
Wajahnya berubah. Esensinya tetap sama. Dan yang membuat bulu kuduk meremang, pelakunya justru mengaku bertauhid.
Kaum musyrikin Arab dahulu tidak pernah mengingkari Allah sebagai Pencipta langit dan bumi. Mereka tahu siapa Tuhan mereka. Tetapi mereka merasa perlu “orang dalam”. Mereka merasa terlalu hina untuk meminta langsung kepada Allah. Maka mereka menciptakan perantara.
Dan berabad-abad kemudian, logika kesyirikan yang sama hidup kembali. Dengan suara yang terdengar religius, dengan bahasa yang dibungkus kecintaan kepada orang saleh, sebagian manusia kembali menggantungkan harapan kepada selain Allah.
Nama-nama makhluk dipanggil dalam doa. Benda-benda dianggap memiliki kekuatan. Orang-orang yang telah wafat diminta pertolongan dalam perkara gaib. Semuanya dibungkus dengan istilah-istilah yang terdengar suci.
Padahal pertanyaannya sederhana, tetapi menghunjam. Jika dalam kesulitan lidah pertama kali memanggil selain Allah, lalu di manakah posisi Allah di dalam hati itu?
Doa bukan sekadar rangkaian kata. Doa adalah cermin paling jujur tentang siapa yang sebenarnya kita agungkan.
Ketika seseorang tenggelam, nama siapa yang spontan ia seru? Atau ketika penyakit datang, usaha runtuh, anak sakit, kematian mendekat, kepada siapa hati itu berlari?
Di situlah letak tauhid yang sesungguhnya. Karena Allah tidak pernah meminta manusia mencari pintu belakang untuk menemui-Nya.
Tidak ada “orang dalam” di hadapan Tuhan. Tidak ada sekretaris langit. Dan tidak ada pula makhluk yang memegang nasib manusia.
Allah Yang Maha dekat justru berfirman bahwa Dia mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya.
Namun anehnya, manusia justru sibuk menciptakan jarak yang tidak pernah dibuat oleh Allah sendiri. Seolah Tuhan terlalu jauh. Seolah Dia tidak mendengar. Bahkan seolah doa harus melewati tangan makhluk terlebih dahulu.
Bukankah ini penghinaan yang sangat halus terhadap keagungan-Nya?
Kesyirikan tidak selalu datang dengan wajah yang menyeramkan. Ia tidak selalu berupa sujud di depan patung. Kadang ia datang melalui tradisi yang diwariskan turun-temurun melalui kalimat yang terus diulang tanpa pernah dipikirkan. Atau lewat ketakutan-ketakutan yang dibungkus cerita nenek moyang. Dan juga melalui kebiasaan yang dianggap biasa.
Karena ia halus, banyak orang tidak merasa sedang tersesat. Mereka menangis dalam ritual itu. Merasa khusyuk. Bahkan merasa sedang mendekat kepada Tuhan. Padahal bisa jadi, tanpa sadar, mereka sedang berjalan menjauh.
Dan inilah tragedi terbesar manusia: Merasa sedang menuju Allah, padahal justru sedang meninggalkan-Nya.
Tauhid bukan sekadar identitas yang tertulis di KTP. Tauhid adalah keberanian untuk memutus seluruh ketergantungan selain kepada Allah. Ia tidak mengenal kompromi. Tidak mengenal tawar-menawar.
Karena ketika Tuhan diduakan, meskipun hanya dalam satu harapan, satu keyakinan, atau satu seruan yang dipanjatkan kepada selain-Nya, saat itulah retakan pertama pada bangunan iman mulai terbentuk.
Maka sebelum malam tahun baru Hijriyah berlalu, sebelum berbagai ritual kembali digelar. Sebelum ketakutan-ketakutan lama diwariskan kepada anak-anak kita, ada satu pertanyaan yang harus dijawab dengan kejujuran yang paling dalam:
Ketika hati ini berada di titik paling lemah. Air mata tak lagi terbendung. Dan seluruh pintu dunia tertutup. Nama siapa yang pertama kali kita panggil?
Sebab di situlah letak tauhid yang sebenarnya. Dan di situlah jawaban tentang siapa sesungguhnya Tuhan dalam hati kita.