Mengikuti tren memang asyik. Tapi sudahkah Anda memahami bagaimana perayaan tahun baru menurut Islam yang sebenarnya? Memahami asal-usul perayaan adalah kunci agar identitas kita sebagai muslim tidak luntur oleh sinkretisme budaya.
Setiap akhir tahun Masehi kita selalu menyaksikan fenomena sebagian umat muslim yang merayakan Nataru, singkatan dari Natal dan Tahun Baru.
Namun, jika yang merayakan adalah kaum Yahudi dan Nasrani, hal itu tidak masalah bagi umat Islam karena memang ajaran mereka demikian. Tapi hal itu akan menjadi masalah besar jika yang merayakannya adalah kaum muslimin, terutama kaum muda yang gegap gempita merayakannya secara istimewa.
Mereka meniup terompet, membunyikan lonceng, menyulut kembang api dan mercon, serta doa pada detik pergantian tahun sebagai acara puncak. Padahal, jika merujuk pada tinjauan perayaan tahun baru menurut Islam, satu unsur pun dalam perayaan tersebut tidak ada yang bersumber dari ajaran Islam.
Bahaya Tasyabbuh: Hukum Meniru Tradisi Non-Muslim
Pernyataan ini bukan cerminan intoleransi, melainkan upaya mengembalikan kompas akidah kaum muslimin pada posisi yang sebenarnya.
Dalam kajian perayaan tahun baru menurut Islam, terdapat peringatan keras dari Rasulullah agar kita tidak meniru-niru kaum Yahudi dan Nasrani:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
Artinya:
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta hingga seandainya mereka menempuh (masuk) ke dalam lubang biawak kalian pasti akan mengikutinya.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang baginda maksud Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka).” (HR. Bukhari & Muslim).
Kenyataannya, banyak kaum muslimin mengikuti tradisi kaum Yahudi-Nasrani dengan dalih moderasi, padahal itu adalah tasyabbuh (meniru-niru) yang dilarang.
Akar Sejarah: Mengapa Perayaan Tahun Baru Menurut Islam Tidak Dianjurkan?
Oleh karena itu,umat muslim perlu memahami bahwa Nataru merupakan sinkretisme dari berbagai ajaran non-tauhid seperti Yahudi, Nasrani, Majusi, hingga paganisme Yunani kuno.
1. Unsur Nasrani dalam Natal. Natal diyakini sebagai kelahiran Yesus sebagai putra Tuhan, yang tentu bertentangan dengan konsep tauhid dalam Islam.
2. Tradisi Kembang Api dan Unsur Majusi. Kita perlu mewaspadai ritual menyulut kembang api dalam perayaan tahun baru karena sejarahnya merujuk pada simbol penghormatan Dewa Api bagi agama Parsi kuno (Majusi).
3. Tiup Terompet: Tradisi Kaum Yahudi. Tradisi meniup terompet saat pergantian tahun adalah perayaan besar bagi kaum Yahudi. Dahulu, Rasulullah menolak usulan terompet untuk adzan karena menyerupai ibadah mereka.
4. Mitos Dewa Janus dan Ritual Doa Pukul 00.00. Doa di detik pergantian tahun berakar dari mitologi Yunani tentang Dewa Janus. Maka, memanjatkan doa dengan irama musik pada waktu tersebut bukanlah bagian dari perayaan tahun baru menurut Islam.
Membentengi Akidah Generasi Muda
Lantas, mengapa Anda masih berpartisipasi dalam perayaan ini? Apakah Anda takut dikatakan “jadul” dan tidak mengikuti tren?
Justru kita perlu kita kampanyekan luas kepada masyarakat, bahwa prinsip perayaan tahun baru menurut Islam menekankan pentingnya menjaga identitas. Tokoh agama hendaknya mengadakan kegiatan alternatif yang menarik bagi remaja muslim di lingkungan masing-masing.
Dengan begitu, perhatian generasi muda dapat beralih dari budaya luar menuju penguatan budaya Islami yang berlandaskan tauhid.
Wallâhu a’lamu biṣawâb.
Baca juga:
Sejarah Malam Tahun Baru: Mengungkap Akar Mitologi di Balik Ritual 1 Januari