Sikap Muhammadiyah terhadap perayaan Tahun Baru Masehi pada mulanya terasa sederhana. Ia seperti nasihat seorang tua di beranda rumah: jangan berlebihan, jangan lupa bercermin. Tetapi justru di situlah letak bobotnya. Kesederhanaan sering kali menyimpan daya gugah yang lebih dalam daripada gemerlap kembang api.
Tahun Baru Masehi, dalam ingatan kolektif kita, hampir selalu identik dengan ledakan suara, cahaya warna-warni di langit, pesta pora, dan hitung mundur yang riuh. Waktu seakan diperlakukan seperti barang dagangan: harus dirayakan dengan konsumsi, harus disambut dengan keramaian.
Muhammadiyah memilih berdiri agak ke pinggir, mengambil jarak. Bukan untuk memusuhi kegembiraan, melainkan untuk mengajukan sebuah pertanyaan yang lebih sunyi: setelah semua itu, apa yang benar-benar berubah dalam diri kita?
Dalam pandangan Muhammadiyah, pergantian tahun bukanlah garis finish atau garis start yang dramatis. Ia hanyalah penanda waktu, sebuah jeda. Yang penting bukan letupan perayaannya, melainkan isi batinnya.
Prinsip yang sering dikutip, yaitu “man ‘arafa yaumahu khairun min amsihi”, menjadi kunci: siapa yang hari ini lebih baik daripada kemarin, dialah orang yang beruntung. Di sini, waktu tidak diukur dengan kalender, tetapi dengan mutu diri.
Sikap ini menarik karena ia tidak jatuh ke dalam dua ekstrem. Di satu sisi, tidak ada pengharaman mutlak terhadap kegembiraan. Muhammadiyah tidak memerintahkan wajah masam di malam pergantian tahun. Tetapi di sisi lain, ia menolak kegembiraan yang kehilangan ukuran: pesta pora yang mubazir, penghamburan uang, atau bahkan maksiat yang dibungkus istilah “perayaan”. Kegembiraan, kata Muhammadiyah, harus tetap berada dalam koridor etika dan syariat.
Barangkali, di titik inilah kritik sosialnya bekerja. Di negeri dengan jurang kaya-miskin yang masih menganga, pesta kembang api bernilai miliaran rupiah bukan sekadar soal selera, melainkan soal kepekaan.
Setiap letupan cahaya di langit bisa dibaca sebagai ironi, ketika di bawahnya masih ada perut-perut lapar yang tak ikut menghitung mundur. Muhammadiyah mengingatkan bahwa pemborosan bukan hanya persoalan individu, tetapi juga soal empati sosial.
Refleksi akhir tahun dan evaluasi diri yang ditekankan Muhammadiyah—muhasabah—sebetulnya adalah kerja sunyi yang sering kita hindari. Kita lebih suka menoleh ke luar daripada ke dalam.
Padahal, seperti ditulis oleh Søren Kierkegaard, “Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.” Hidup baru bisa dipahami dengan menengok ke belakang, namun tetap harus dijalani ke depan. Tahun baru, dalam kerangka ini, adalah kesempatan untuk memahami yang telah lalu agar langkah ke depan tidak sekadar pengulangan.
Muhammadiyah mengusulkan agar momen ini diisi dengan zikir, doa, pengajian, atau kegiatan positif lainnya. Ia terdengar normatif, bahkan klise. Tetapi justru di tengah kebisingan perayaan, tawaran semacam ini menjadi subversif. Ia melawan arus.
Di saat orang beramai-ramai keluar rumah untuk mencari hiburan, ada ajakan untuk masuk ke dalam diri, menyepi, dan bertanya: sudah sejauh mana aku menjadi manusia yang lebih berguna?
Ada pula dimensi dakwah yang ditekankan. Tahun baru tidak diperlakukan sebagai milik budaya “lain” yang harus dijauhi, melainkan sebagai momen bersama yang bisa diisi dengan nilai.
Dakwah di sini bukan pidato berapi-api, melainkan teladan: menunjukkan bahwa kegembiraan bisa bersanding dengan kesadaran, bahwa perayaan tidak harus berujung pemborosan.
Sikap ini mengingatkan kita pada kalimat Mahatma Gandhi: “The world has enough for everyone’s need, but not enough for everyone’s greed.” Dunia cukup untuk kebutuhan semua orang, tetapi tidak untuk keserakahan semua orang.
Kemubaziran dalam perayaan tahun baru adalah wajah kecil dari keserakahan itu: keinginan untuk berlebih, untuk mengonsumsi tanpa batas, seakan waktu yang baru harus ditebus dengan pengeluaran yang baru pula.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, sikap Muhammadiyah ini juga menarik karena ia tidak mengunci diri dalam benteng eksklusif. Ia tidak mengatakan bahwa Tahun Baru Masehi adalah “milik siapa”. Yang ditekankan justru sikap batin umat Islam dalam menyikapinya. Dengan begitu, ada ruang dialog budaya: umat Islam bisa hadir di ruang publik tanpa kehilangan kompas moralnya.
Refleksi, menghindari kemubaziran, mengisi kegiatan positif, dan tidak melarang kegembiraan—keempat sikap itu membentuk semacam etika waktu. Waktu tidak diperlakukan sebagai musuh yang harus ditaklukkan dengan pesta, tetapi sebagai amanah yang harus diisi. Dalam etika ini, setiap detik memiliki nilai moral.
Barangkali, di sinilah letak relevansi sikap Muhammadiyah bagi kita semua, bahkan di luar batas organisasi atau agama. Ia mengingatkan bahwa pergantian tahun bukan soal angka di kalender, melainkan soal keberanian untuk berubah. Perubahan itu tidak selalu spektakuler. Ia bisa berupa keputusan kecil: lebih jujur, lebih peduli, lebih disiplin, lebih berempati.
Tahun Baru Masehi, dengan demikian, bukan ledakan sesaat, melainkan proses panjang. Ia tidak dimulai pada hitungan “nol”, tetapi pada kesediaan untuk menilai diri.
Dan mungkin, justru dalam kesunyian zikir, dalam doa yang lirih, atau dalam aksi sosial yang sederhana, tahun yang baru itu sungguh-sungguh lahir, bukan di langit yang bercahaya, tetapi di hati yang sedikit lebih terang daripada kemarin.
Baca juga:
Bagaimana Perayaan Tahun Baru Menurut Islam?
Sejarah Malam Tahun Baru: Mengungkap Akar Mitologi di Balik Ritual 1 Januari