Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 5 menit baca

Cara Mengimani Allah Menurut Panduan Tarjih Muhammadiyah

Redaksi

Cara Mengimani Allah Menurut Panduan Tarjih Muhammadiyah

Iman kepada Allah adalah rukun iman yang pertama dan paling fundamental bagi seorang Muslim. Ia adalah pondasi yang menentukan bagaimana kita memandang dunia, alam semesta, dan diri kita sendiri. Namun, bagaimana cara mengimani Allah dengan benar?

Seringkali, akal manusia tergoda untuk memikirkan Dzat Allah—bagaimana wujud-Nya, seperti apa Dia? Al-Qur’an dan bimbingan Tarjih Muhammadiyah justru mengarahkan kita pada pendekatan yang lebih lurus dan menentramkan.

Berikut ulasan mengenai Iman Kepada Allah yang disarikan dari buku Tanfidz Musyawarah Wilayah Tarjih II-III Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah No 105/KEP/III.0/H/2025.

  1. Wujudullah (Keyakinan Akan Adanya Allah)
    Iman dimulai dari keyakinan bahwa Allah ada (Wujud) dan akan selalu ada, meski kita tidak dapat melihat-Nya dengan mata kepala. Bukti terbesar keberadaan-Nya adalah alam raya ciptaan-Nya. Keteraturan jagat raya yang menakjubkan ini mustahil wujud tanpa Sang Maha Pencipta.

Allah juga bersifat Wajibul Wujud (Wajib Adanya), sementara selain Dia (makhluk) bersifat Mumkinul Wujud (Mungkin Adanya, diciptakan dari ketiadaan).

Keyakinan ini juga menuntut kita pada keesaan-Nya (Wahdaniyah). Akal sehat menolak adanya dua tuhan atau lebih. Jika tuhan lebih dari satu, niscaya akan terjadi kekacauan di alam semesta, seperti yang ditegaskan dalam QS. Al-Anbiya: 22.

لَوْ كَانَ فِيْهِمَآ اٰلِهَةٌ اِلَّا اللّٰهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُوْنَ

Artinya: “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, niscaya hancurlah keduanya. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya: 22)

Untuk mengenal-Nya, kita mengimani sifat-sifat kesempurnaan-Nya yang mutlak, yang membedakan-Nya dari makhluk:

  1. Al-Awwal: Allah adalah Yang Maha Awal, tidak memiliki permulaan dan sudah ada sebelum segala sesuatu tercipta.
  2. Al-Akhir: Allah adalah Yang Maha Akhir, tidak memiliki akhir dan akan tetap kekal abadi setelah semua makhluk binasa.
  3. Mukhalafatul lil Hawadis: Allah Maha Berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya. Tidak ada satu pun di alam semesta yang dapat menyerupai atau setara dengan keagungan-Nya. (QS. Asy Syura: 11).
  4. Wahdaniyah: Allah Maha Esa. Esa secara Dzat, Sifat, maupun Perbuatan (Af’al). Tidak ada yang menyamai-Nya dalam hal apapun, seperti ditegaskan dalam QS. Al-Ikhlas: 1-4.
  5. Hayat: Allah Maha Hidup, kekal, dan tidak akan pernah binasa.
  6. Qayyum: Allah Maha Mandiri, terus-menerus mengurus makhluk-Nya dan tidak membutuhkan apapun, termasuk ruang dan waktu yang juga merupakan ciptaan-Nya.
  7. Sama’: Allah Maha Mendengar segala sesuatu, dari yang paling nyaring hingga yang paling samar, dengan pendengaran yang berbeda total dari makhluk-Nya.
  8. Basar: Allah Maha Melihat segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, tanpa batas dan tanpa alat.
  9. Qudrah: Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, berkuasa mutlak untuk mewujudkan atau meniadakan sesuatu tanpa ada batasan.
  10. Iradah: Allah Maha Berkehendak. Segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya, tanpa ada yang bisa memerintah atau melarang-Nya. (QS. An-Nahl: 40).
  11. Ilmu: Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang lahir, ghaib, yang sudah, sedang, maupun yang akan terjadi. Ilmu-Nya meliputi segalanya tanpa kecuali.
  12. Kalam: Allah Maha Berbicara, seperti Ia berbicara kepada para Rasul-Nya (QS. Al-Baqarah: 253).
  13. Batas Akal: Fokus pada Ciptaan, Bukan Dzat

Materi Tarjih ini menegaskan bahwa Allah Maha Suci dari segala sesuatu yang menyamai-Nya. Akal manusia terbatas dan tidak akan pernah mungkin mencapai pengertian utuh tentang Dzat Allah.

Al-Qur’an sendiri telah menutup pintu pemikiran untuk membicarakan hal yang mustahil dicapai akal tersebut:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ
Artinya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.” (QS. Asy Syura: 11)

Bagi seorang mukmin, jalan untuk menebalkan iman bukanlah dengan memikirkan Dzat Allah, melainkan dengan memikirkan makhluk ciptaan-Nya.
Rasulullah s.a.w. bersabda:

تَفَكَّرُوْا فِيْ الْخَلْقِ وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِيْ الْخَالِقِ فَاِنَّكُمْ لاَ تَقْدِرُوْنَ قَدْرَهُ

Artinya: “Berfikirlah kamu sekalian tentang makhluk (ciptaan-Nya) dan janganlah kamu berfikir tentang Khaliq (Allah), karena kamu sekalian tidak akan mampu menggapai-Nya.” (HR. Abu Syaikh).

Iman kepada Allah adalah keyakinan yang dibangun di atas dalil Al-Qur’an dan kekuatan akal yang difungsikan dengan benar.
Caranya adalah dengan:

  1. Meyakini keberadaan dan keesaan-Nya melalui keteraturan alam semesta.
  2. Mengimani sifat-sifat kesempurnaan-Nya yang mutlak (seperti Al-Awwal, Al-Akhir, Qudrah, Ilmu, dst).
  3. Menggunakan akal untuk merenungi ciptaan (makhluk) Allah, bukan tersesat dalam lamunan memikirkan Dzat (Khaliq) Allah.

Berpikir tentang rahasia jagat raya dan sunatullah yang ada di dalamnya tidak hanya akan menebalkan keimanan, tetapi juga akan memajukan peradaban manusia, sesuai dengan tugas kita sebagai khalifatullah di muka bumi.

Baca juga :

Iman di Hati atau Sekadar di Lisan? Kenali 6 Pilar Akidah dan Bahaya yang Menggugurkannya

Editor: Adib Abyan Alb
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: