Bayangkan sebuah pertemuan yang penuh keintiman: seorang hamba mendatangi Sang Pencipta, bukan sekadar untuk bersujud, melainkan untuk berdialog. Pertemuan ini layaknya kunjungan seorang tamu ke rumah sahabatnya, dimulai dengan salam dan sapa, berlanjut dengan percakapan yang mengalir, hingga akhirnya tiba pada momen di mana sang tamu menyampaikan hajatnya.
Persis seperti itulah salat. Bagi seorang Muslim, salat adalah momen privat di mana ia berinteraksi langsung dengan Allah, Sang Maha Pencipta. Khususnya pada posisi attahiyat, dialog ini terasa begitu intim. Posisi duduk menjadi simbol etika dan rasa hormat kepada Sang Maha Mulia, sementara jari telunjuk yang diacungkan melambangkan fokus yang tak terpecah.
Dialog Antara Hamba dan Tuhan
Pertama-tama, hamba menyapa kepada Tuhannya: “Segala penghormatan hanya semata-mata untuk Allah, demikian juga segala kesejahteraan dan kebaikan.” Selanjutnya, Allah menjawab: “Keselamatan juga untukmu wahai Nabi.”
Kemudian, hamba menjawab: “Keselamatan untuk kami dan seluruh hamba yang shalih.” Hamba menambah: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah.”
Allah menjawab: “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Topik selanjutnya adalah permohonan hamba kepada Allah, yaitu shalawat. Satu di antara teks (dalam terjemahan) demikian: “Ya Allah, anugerahilah kesejahteraan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau menganugerahi kesejahteraan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji dan maha Agung.”
Tuntunan bershalawat tidak menggunakan penghormatan sayyidina, sebagaimana seseorang menyapa kepada yang lebih senior dalam urusan keagamaan. Mengapa? Pertama, tuntunan Rasulullah memang tanpa sayyidina: Qulu allahumma shalli ‘ala Muhammad dst. Rumusan ini mengacu kepada hadis: (HR. Bukhari: 3118, 3119, 4423, 4424, 5883, 5880; Muslim: 615, 614; Abu Dawud: 831, 830, 832; Malik: 357, 358; Ibnu Majah: 893, 894, 895; an-Nasai: 1269, 1270, 1271, 1273, 1274, 1276, 1277; Ahmad: 22494; Turmuzi: 445; Ahmad: 1323, 1621, 11009. Ahmad: 1323, 1621, 17409, 17410).
Kedua, Islam adalah agama egaliter. Menyapa kepada manusia junjungannya langsung disebut namanya, Muhammad. Kepada yang dipertuhan pun juga langsung sebut namanya, Allah. Jadi, dalam istilah Jawa, jangkar dalam arti tanpa penghormatan kepada senior. Istilah Gusti kanjeng Nabi, Gusti Allah, berasal dari budaya lokal.
Ketiga, wujud keintiman dan kesetaraan yang luar biasa antara khaliq dan makhluk. Allah, Dzat maha segala maha tanpa tanding, merendah diri serendah-rendahnya untuk memeluk dan merangkul hamba yang rindu mendekat kepada-Nya. Hamba yang begitu rendah derajatnya diangkat setinggi-tingginya melebihi seluruh makhluk-Nya. Inilah implementasi kesetaraan antara khaliq dan makhluk yang tidak pernah dikenal dalam agama apa pun selain Islam.
Momen Meminta Hajat
Setelah shalawat, hamba diminta supaya memohon apa yang menjadi kebutuhan pokoknya. Nabi Muhammad memberikan beberapa contoh permohonan, umpama:
- Agar hamba dilindungi dari empat perkara, yaitu: siksa neraka, siksa kubur, fitnah kehidupan dan kematian, dan fitnah keburukan Dajjal.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّال - Agar hamba diampuni dan dikasihani Allah: Allahummaghfilî warḩanî.
- Agar hamba diampuni dosanya yang begitu banyak.
اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيم (HR. Bukhari: 834; Muslim: 2705) - Doa agar dikaruniai derajad kemanusiaan yang baik:
اللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ ، وَأَعوذُ بِكَ مِنَ البُخْلِ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَ عَذَابِ القَبْرِ. (HR. Bukhari no. 2822). - Doa agar diampuni dan dikasihani Allah: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي Doa setelah shalawat diijabahi oleh Allah: أَيُّهَا الْمُصَلِّي ادْعُ تُجَبْ (Wahai orang yang salat, berdoalah maka akan dikabulkan doamu! – HR. Turmuzi: 3398).
Jadi, dalam attahiyyat itu harus terdiri atas tiga komponen: attahiyyat atau dikenal tasyahud, shalawat, dan doa. Jika dalam attahiyyat tidak memenuhi tiga komponen itu, Rasulullah meminta agar mengulangi salatnya:
اِرْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ حَتَّى فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ (Kembalilah, ulangi salatmu, kamu belum salat! (HR. Bukhari: 751, 5782, 6174, Muslim: 278, Turmuzi: 279, Abu Dawud: 730, an-Nasai: 874, 1296, 1297, Ibnu Majah: 1050, ad-Darimi: 1295, Ahmad: 9260, 18225, 18227, Ibnu Khuzaimah: 545, 590, Ibnu Hibban: 1787, 1890, Syafi’i: 136). Perintah Rasul itu dilakukan karena melihat seseorang hanya melakukan dua komponen: attahiyyat dan shalawat, atau attahiyyat dan doa.