Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 2 menit baca

Hakikat Shalat dalam Peristiwa Isra Mikraj

Mirza Nurdin Nugroho

Takmir Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang

Hakikat Shalat dalam Peristiwa Isra Mikraj
Menghayati makna shalat dalam keheningan membantu seorang hamba mencapai kekhusyukan, menjadikan ibadah sebagai benteng diri dari perbuatan keji dan mungkar.

Peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan sejarah luar biasa yang dialami Rasulullah saw. Ia merupakan peristiwa diterimanya perintah shalat lima waktu sebagai sarana komunikasi langsung antara hamba dan Khalik. Sayangnya, bagi banyak orang, shalat sering kali terjebak menjadi rutinitas fisik tanpa bekas. Padahal, hakikat shalat yang benar seharusnya menjadi penunjuk arah kehidupan dan benteng moral yang kokoh.

Hakikat Shalat: Makna “Berdiri” dalam Shalat

Setiap kali kita memulai shalat dengan berdiri tegak, kita sesungguhnya sedang memasuki ruang “pertemuan” yang sangat pribadi. Berdiri bukan sekadar rukun fisik, melainkan simbol kesiapan jiwa untuk menghadap Allah Swt. Rasulullah saw. menegaskan hal ini dalam sabdanya:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ

“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian apabila berdiri dalam shalatnya, maka ia sedang bermunajat dengan Rabbnya.” (HR. Bukhari)

Seorang hamba sejatinya memiliki dua waktu penting untuk berdiri di hadapan Allah: saat bermunajat dalam shalat di dunia, dan saat mempertanggungjawabkan amal di akhirat kelak.

Jika kita mampu menunaikan “hak berdiri” yang pertama dengan penuh kesadaran dan ketundukan, maka berdirinya kita di hadapan Allah saat hari kiamat akan terasa lebih ringan.

Shalat yang dikerjakan dengan penuh penghayatan secara otomatis akan membentuk karakter yang sanggup menghindari perbuatan buruk.

Transformasi Diri Melalui Shalat yang Benar

Tujuan akhir dari ibadah shalat adalah perubahan perilaku (transformasi) pada pelakunya. Allah Swt. menegaskan fungsi preventif shalat dalam Al-Qur’an:

اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Jika shalat belum mampu membentengi kita dari kemungkaran, maka kita perlu memeriksa kembali kualitas ibadah tersebut. Apakah gerakannya sudah sesuai tuntunan (kaifiyat), dan apakah bacaannya sudah dipahami maknanya?

Untuk mencapai nilai ibadah yang penuh, kita perlu terus belajar melalui buku maupun kajian pakar tentang hakikat shalat di balik setiap gerakannya.

Dengan menjadikan shalat sebagai kebutuhan spiritual—bukan sekadar kewajiban—kita akan mendapatkan energi untuk menjalani hidup yang lurus.

Semoga kita semakin memahami hakikat shalat dan menjadikannya pelecut semangat untuk tetap istiqamah di jalan-Nya. Sekaligus ibadah shalat kita menjauhkan dari segala bentuk perbuatan fahsya (perbuatan keji) dan mungkar.

Baca juga:

Ini Makna Shalat yang Bisa Jadi ‘Magnet’ Kemudahan Urusan Hidup

Menjemput Hikmah Isra Mi’raj 2026: Mengupas Tuntas Makna Shalat bagi Generasi Alpha

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: