Bagaimana sebenarnya panduan jujur dan bohong dalam Islam? Tentu, kita sering mendengar bahwa kejujuran selalu membawa kebaikan. Sebaliknya, kebohongan pasti berujung pada keburukan. Namun, syariat Islam rupanya memiliki aturan komunikasi yang sangat bijaksana.
Mari kita bedah bersama hadis-hadis Nabi yang membahas masalah ini.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda secara tegas mengenai hal ini:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا
Artinya: Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).
Hadis mutawatir ini memiliki kedudukan yang sangat kuat. Banyak ulama besar yang meriwayatkan hadis ini. Sebagai contoh, Imam Bukhari (5629), Muslim (4719, 4721), dan Abu Dawud (4337) mencatatnya. Selain itu, Imam Ahmad, at-Turmidzi, Ibnu Majah, Darimi, Ibnu Hibban, hingga Hakim juga turut meriwayatkannya.
Efek Positif Kejujuran yang Mutlak
Penerapan prinsip jujur dan bohong dalam Islam memiliki dampak nyata di dunia dan akhirat. Kejujuran jelas membawa manusia pada al-Birr (kebaikan).
Terkait hal ini, Allah berfirman: إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam [surga yang penuh] kenikmatan.” (QS. al-Infithar:13).
Jadi, kata Jannah (surga) dalam sabda Nabi bermakna sebuah tempat yang penuh kenikmatan abadi. Oleh karena itu, Allah menyeru orang-orang beriman untuk selalu merapatkan barisan. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. at-Taubah:119).
Melalui ketaatan tersebut, umat Islam bisa membentuk komunitas orang-orang yang berintegritas: وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ (Laki-laki dan perempuan yang benar/jujur – QS. al-Ahzab:35). Allah juga menegaskan bahwa kejujuran selalu bermuara pada kebaikan. فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ (Tetapi jikalau mereka benar (imannya) tehadap Allâh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka – QS. Muhammad:21).
Pengecualian Khusus: Bohong Demi Kebaikan
Meskipun Islam menjunjung tinggi kebenaran, ada ruang fleksibilitas yang sangat ketat. Dalam kondisi tertentu, syariat justru membolehkan kebohongan demi mencegah kerusakan.
Ummu Kaltsum menyampaikan sebuah hadis penting mengenai hal ini: أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَقُولُ « لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِى يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِى خَيْرًا ». قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِى شَىْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ الْحَرْبُ وَالإِصْلاَحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا.
Artinya: Ia (Ummu Kaltsum) mengabarkan bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak disebut pembohong jika bertujuan untuk mendamaikan di antara pihak yang berselisih di mana ia berkata yang baik atau mengatakan yang baik.” Ibnu Syihab berkata, Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara: Peperangan, mendamaikan yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami. (HR. Muslim: 4717, Abu Dawud: 4275).
Kita bisa melihat terapan nyata dari hadis tersebut dalam tiga situasi utama. Pertama, negara boleh melakukan tipu daya dalam kapasitas strategi perang militer. Misalnya, saat melawan agresi asing demi melindungi nyawa umat.
Kedua, suami atau istri boleh menggunakan tauriyah (menyamarkan maksud) demi menjaga hati pasangannya. Namun, pasangan jangan terlalu sering menggunakan tauriyah agar tidak memicu kebencian akibat realitas yang berbeda.
Pentingnya Mendamaikan Perselisihan
Ketiga, dan yang paling krusial, syariat membolehkan manipulasi kata demi mendamaikan pihak yang berseteru. Nabi Muhammad ﷺ memperingatkan bahaya permusuhan dengan sangat keras: أَن ّ َ الن ّ َبِي ّ َ صَل ّ َى اللهُ عَلَيْهِ وَسَل ّ َمَ قَالَ إِي ّ َاكُمْ وَسُوْءَ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِن ّ َهَا الْحَالِقَةُ “Jauhilah oleh kalian interaksi sosial yang buruk, karena bisa menjadi penghancur.” (HR. Turmuzi: 2432).
Di sisi lain, Nabi ﷺ mengapresiasi tinggi para juru damai. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَل ّ َى اللهُ عَلَيْهِ وَسَل ّ َمَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلِ مِنْ دَرَجَةِ الص ّ ِيَامِ وَالص ّ َلاَةِ وَالص ّ َدَقَةِ قَالُوْا بَلَى قَالَ صِلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِن ّ َ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ Rasulullah ﷺ bersabda: “Maukah kalian aku beritahu yang lebih utama daripada derajat puasa, shalat dan sedekah?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Yaitu interaksi sosial yang baik, karena interaksi sosial yang buruk itu memangkas.” (HR. Muslim: 2433, Abu Dawud: 4273, Ahmad: 26236).
Sebaliknya, hukum bagi pemutus silaturahmi sangatlah mengerikan. قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا يَدْخُلُ اَلْجَنَّةَ قَاطِعٌ – يَعْنِي قَاطِعَ رَحِمٍ. Artinya: Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari: 2984, Muslim: 2556).
Kesimpulannya, penerapan jujur dan bohong dalam Islam memiliki tujuan akhir untuk mewujudkan kedamaian sosial. Berbuat jujur adalah landasan utama kehidupan yang wajib kita tegakkan.
Meskipun demikian, jika kita berhasil mendamaikan dua orang yang bertikai, kita membuka kembali peluang surga bagi mereka. Inilah esensi terdalam mengapa menjadi pendamai memiliki derajat amal yang sangat luar biasa.
Baca juga:
8 Larangan Al-Qur’an dan Adab Bermedia Sosial dalam Islam yang Wajib Diketahui
Panduan Amalan Pasca Ramadan yang Wajib Diketahui dalam Menjaga Api Ibadah